prolog

491 23 4
                                        

Selamat Membaca.....





Pagi selalu datang lebih dulu di rumah kecil itu. Bahkan sebelum matahari benar-benar naik, sudah ada suara langkah kaki kecil yang berlari menyusuri lorong, suara pintu kamar yang dibuka terlalu keras, dan tawa seorang anak perempuan yang belum mengenal arti kata pelan-pelan.

"Mamaaa!"

Becky yang sedang berdiri di dapur menoleh.

Seorang gadis kecil dengan rambut yang masih berantakan berlari menghampirinya sambil menyeret boneka kesayangannya.

"Mama, lihat!"

Becky menunduk.

"Apa?"

"Dia lapar."

Becky menatap boneka itu beberapa detik, lalu menatap putrinya.

"Boneka kamu lapar?"

Gadis kecil itu mengangguk serius.

"Banget."

Becky menahan tawa.

"Kalau begitu suruh dia duduk. Mama sedang membuat sarapan."

Gadis itu langsung berlari menuju meja makan, menaikkan tubuh kecilnya ke kursi, lalu mendudukkan bonekanya di kursi sebelah.

Rumah itu kembali dipenuhi suara.

Tidak besar.

Tidak mewah.

Hanya sebuah rumah sederhana dengan tiga kamar, halaman kecil, meja makan yang tidak pernah benar-benar rapi, dan beberapa mainan anak yang hampir selalu berserakan di ruang keluarga.

Tetapi bagi mereka, rumah itu cukup.

Karena di dalamnya ada tiga orang yang saling mencintai.

Di lantai dua, pintu kamar perlahan terbuka.

Freen keluar dengan rambut sedikit berantakan dan wajah yang masih menyimpan sisa kantuk. Kemeja putihnya sudah dikenakan, jas dokter tersampir di lengannya.

Dia berhenti di tangga ketika mendengar suara putrinya.

"Mama! Daddy belum bangun!"

"Aku sudah bangun."

Suara Freen membuat gadis kecil itu langsung menoleh.

"Daddy!"

Dia turun dari kursinya dan berlari.

Freen bahkan belum sempat meletakkan jas ketika tubuh kecil itu sudah menabrak kakinya.

Freen tertawa pelan.

"Pagi."

"Daddy lama."

"Daddy baru turun."

"Lama."

"Berarti kamu bangunnya terlalu cepat."

Gadis kecil itu berpikir sebentar.

"Daddy yang lambat."

Becky yang mendengar dari dapur langsung tertawa.

Freen menatap putrinya dengan ekspresi tidak percaya.

"Siapa yang mengajari kamu bicara seperti itu?"

"Tidak ada."

"Lalu?"

Sebelum Rumah ini SunyiStories to obsess over. Discover now