Hujan sudah berhenti sejak dua jam lalu. Tapi jalanan masih basah, memantulkan lampu jalan yang temaram. Seperti hidup Svarna. Basah, dingin, dan tidak ada yang benar-benar meneranginya.
Orang-orang berjalan cepat, payung menutup wajah mereka. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang menoleh. Dan Svarna suka begitu.
Svarna duduk di pojok kafe yang sama, jam yang sama, kursi yang sama. Sudah setahun begini. Datang, pesan Americano tanpa gula, buka laptop, lalu pulang. Tidak bicara dengan siapa-siapa. Tidak butuh siapa-siapa. Sunyi sudah jadi teman terbaiknya. Dia tidak pernah berjanji. Tidak pernah mengkhianati.
Sunyi tidak pernah tanya "kamu kenapa". Sunyi tidak pernah pergi mendadak di tengah malam.
Barista hafal pesanannya. Kursi pojok hafal punggungnya. Dan Svarna hafal betul rasanya punya dinding di sekeliling dada. Aman.
Dinding itu dibangun pelan-pelan. Satu bata setiap kali dia dikecewakan. Sampai akhirnya tidak ada celah sama sekali.
Sampai malam itu.
Kursi di depannya ditarik. Bukan dengan suara kasar. Pelan. Sopan. Seolah orangnya tahu Svarna benci gangguan.
"Kursi ini kosong ya?" Suara laki-laki. Tenang. Tidak memaksa.
Tidak ada nada ingin akrab. Tidak ada nada ingin dikenal. Hanya pertanyaan.
Svarna tidak mendongak. Mengangguk sekali. Itu kode universal untuk 'silakan tapi jangan ajak ngobrol'.
Dia duduk. Memesan teh tawar. Lalu diam.
Aneh. Orang biasanya langsung main HP, atau melirik, atau mencoba basa-basi. Dia tidak. Dia hanya... ada. Duduk di seberang Svarna, dengan laptop dan tumpukan buku, sama sibuknya seperti Svarna. Sunyi mereka berbeda. Sunyinya Svarna dingin. Sunyinya dia hangat.
Di struk pembayaran, Svarna sempat melirik sekilas.
Tertulis: Reyyan.
Malam demi malam Reyyan datang lagi. Selalu jam 8. Selalu kursi yang sama.
Tidak pernah bertanya nama Svarna. Tidak pernah minta nomor.
Dia hanya datang, duduk, dan mengisi ruang kosong di hadapan Svarna yang selama ini sengaja dibiarkan kosong.
Svarna tetap dingin. Tetap menutup pintu.
Tetap pulang jam 22.05. Tetap tidak menyapa.
Tapi setiap kali menutup laptop, telinganya menangkap satu hal: suara Reyyan membereskan buku. Pelan. Rapi.
Suara kecil yang tidak seharusnya dia ingat.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
sunyi di kafe ini tidak terasa seutuhnya kosong lagi.
Dan itu menakutkan.
Karena Svarna tahu, sekali kamu membiarkan seseorang mengisi sunyimu... mengosongkannya lagi akan terasa dua kali lebih sakit.
---
ESTÁS LEYENDO
Pintu Yang DiKunci
Ficción GeneralDia kira cinta adalah rumah. Hingga seseorang yang dia anggap rumah membakarnya, lalu pergi membawa kuncinya. Sejak saat itu dia menutup pintu, membangun tembok dan berjanji tidak akan berharap lagi. Sampai seseorang mengetuk. Bukan untuk masuk ta...
