Haechan datang ke Hawaii dengan satu tujuan sederhana: menikmati musim panas tanpa drama.
Tapi semuanya berubah ketika ia bertemu Mark.
Seorang lifeguard tinggi dengan papan selancar di bawah lengannya, tatapan tenang yang menyebalkan, dan senyum ti...
"Beberapa pertemuan datang seperti ombak-tanpa aba-aba, tetapi meninggalkan sesuatu yang sulit dilupakan."
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Di Kaimana Cove, semua orang mengenal laut.
Bagi sebagian orang, laut adalah tempat untuk berlibur.
Bagi Mark, laut adalah tempat dia bekerja.
Setiap pagi, ia berdiri di menara lifeguard dengan pandangan menyapu garis pantai, memastikan tidak ada yang berenang terlalu jauh atau mengambil risiko yang tidak perlu.
Semuanya selalu sama.
Sampai seorang anak pantai mulai muncul hampir setiap hari.
Namanya Haechan.
Mark pertama kali melihatnya ketika matahari hampir berada tepat di atas kepala.
Haechan keluar dari rumah putih di pinggir pantai, membawa handuk di bahunya dan berjalan santai menuju pasir.
Dia tidak terburu-buru.
Tidak pernah.
Seolah seluruh pantai memang miliknya.
Mark hanya memperhatikannya sebentar sebelum kembali melihat laut.
Setidaknya, begitu yang dia pikirkan.
Sampai Haechan tiba-tiba mendongak ke arah menara.
Tatapan mereka bertemu.
Haechan menyipitkan mata.
Lalu tersenyum.
Mark mengernyit.
Beberapa detik kemudian Haechan berteriak dari bawah.
"Kenapa lihat-lihat?"
Mark menunjuk dirinya sendiri.
"Aku?"
"Iya, kamu."
"Aku sedang kerja."
"Kerja atau ngeliatin aku?"
Mark terdiam.
Haechan tertawa puas sebelum berjalan menuju air.
Mark menghela napas.
Hari itu, dia belum tahu bahwa cowok menyebalkan dari rumah putih di pinggir pantai itu akan menjadi bagian terbesar dari musim panasnya.
Dan mungkin-
bukan hanya musim panasnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.