"Maaf, aku baru datang" ujar pria bermanik ruby itu lirih, menatap gundukan tanah merah di tengah hujan.
"......kenapa kalian semua pergi?" suaranya terdengar lemah dan bergetar, wajar saja, Ia sudah sangat lama tidak berbicara lagi.
"......jika saja aku tidak mengambil keputusan itu, apa kalian masih ada disini?" sambungnya.
Halilintar berlutut di depan makam-makam itu, hanya menatap kosong ke arah gundukan tanah yang bahkan tidak mengandung jasad para saudaranya. Jasad mereka tidak bisa dievakuasi dan hanya dimakamkan secara simbolis. Tangannya dengan perlahan menurunkan ke-6 bouquet bunga yang berbeda, Ia letakkan dengan rapi di atas 6 makam berbeda.
"......kakak pulang dulu" Halilintar menegakkan tubuhnya, Ia tidak kuasa berada disini lebih lama lagi. "Sampai ketemu lagi".
Ochobot yang sedari tadi hanya berdiri d ujung melihat pemandangan itu dalam diam. Tidak ada yang bisa Ia katakan, dan Ia juga tidak berhak untuk berkata apa-apa. Setidaknya inilah satu-satunya hal yang bisa Ia lakukan.
"....kita kembali?" tanya Ochobot takala Halilintar sudah menghampirinya. Hali tidak membuka mulutnya lagi, Ia hanya mengangguk.
'Dia sepertinya masih butuh waktu' hanya itu yang Ochobot pikirkan, semua ini pasti sangat amat berat bagi Hali dan Ia mewajarinya.
Portal terbuka untuk mengantar mereka kembali ke markas TAPOPS. Gedung yang dulunya terasa seperti rumah, kini hanya dinding logam dingin tanpa kehangatan yang selalu Ia nikmati,
"HALILINTAR, DARI MANA SAJA KAMU? JANGAN MENGHI-" Kokoci yang tadinya kalang kabut hanya terdiam melihat pemuda dihadapannya.
Matanya sembab dengan hidung yang memerah, tubuhnya basah kuyup dan sedikit menggigil karena dinginnya AC markas, wajahnya masih terlihat pucat, ditambah dengan lututnya yang kotor dengan tanah merah. Sudah jelas kemana dia pergi.
"Jika ingin pergi, kabari siapapun, jangan langsung menghilang, ganti bajumu dan mandi air hangat, jangan lupa istirahat" Kokoci akhirnya menurunkan suaranya, Hali tidak memberikan respon apapun dan hanya berjalan pergi.
"...maaf komandan, sepertinya semua masih terlalu berat untuknya" Ochobot meminta maaf atas perlakuan Hali yang kurang sopan.
"Tak apa, jika aku ada di posisinya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama".
"Ah, Hali, akhirnya kamu kembali, ayo duduk, mau makan apa?" saat melewati cafetaria, Qually tak sengaja menangkap Hali di sudut matanya. Panggilan itu sontak membuat Gopal yang sedang makan memutar kepalanya.
"Enak Lin, nanti dibikinin makanan kesukaan mu deh, lagi ada stock strawberry nih" tawar Gopal.
Hali menatap dalam diam, dan kembali berjalan.
".....masih belum ya?" Gopal sebenarnya cukup prihatin melihat kondisi sahabatnya yang satu itu, tak peduli apapun yang mereka lakukan, Hali masih belum bisa bangkit dari dukanya.
"....pasti berat baginya, berikan dia sedikit lebih banyak waktu" Qually ikut menghela nafas.
"Ah, itu dia" suara familiar itu menyapa telinganya, dalam hitungan milidetik, handuk sudah mendarat di kepalanya yang masih meneteskan air hujan.
"Kerja bagus Ying, Hali, kalau mau pergi jangan langsung main hilang-hilang aja dong" Yaya menyusul ke lokasi mereka berdua.
Hali hanya memegang handuk yang ada di kepalanya dan melengos pergi.
".....aku kangen kita yang dulu" Yaya menata punggung yang berjalan menjauh agak sempoyongan itu. Ia masih ingat jelas kehangatan dan kerusuhan yang selalu terjadi disekitar mereka, namun kini hanya hening yang menyapa.
"Kita usahakan agar semuanya membaik" Ying mencoba tetap berpikir positif.
Hali akhirnya tiba di kamarnya, baru saja Ia memegang gagang pintu, sebuah suara membuatnya menolehkan kepalanya.
"Aku senang kamu akhirnya keluar dari kamar, tapi jangan biasakan menghilang tanpa jejak begitu" Fang melipat tangan di dadanya.
"Aku dengar dari staff kamu tidak menyentuh makananmu lagi, sampai kapan kamu mau seperti ini? Halilintar?" sambungnya.
Hali hanya melihat dalam diam, sebelum akhirnya masuk ke kamarnya, meninggalkan Fang dalam kesunyian di lorong itu.
'Susah....' tentu saja Fang tahu akan hal itu. Adik-adik Hali adalah dunianya, saat mereka semua pergi meninggalkannya, Hali jatuh dalam jurang yang dalam.
Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Hali kini hanya adik-adiknya, tapi mereka tak bisa menghidupkan orang yang sudah mati.
Hali menghempaskan tubuhnya di kasur, emblem elemental tak bertuan itu berada di sebelahnya, benda yang Ia peluk untuk merasakan sisa-sisa keberadaan adik-adiknya. Ia menatap langit-langit kosong, sebelum menutup matanya, mengingat kembali semua yang terjadi hari itu.
Author's note :
'Aight, author mau coba explore bikin genre baru, action. Gatau apakah bakal berhasil atau enggak karena bikin fight scene itu ternyata susah banget hwhwhwhw, doain aja.
Katanya sibuk thor?
Lah emang, ini nyari pelampiasan capek, kabur dari real life wkwkwkwk (curi-curi waktu hehehe)
Angst lagi?
Hehehehe, dari chapter 1 aja udah jelas ya? Hari-hari makan angst (nobody could hurt you, if you already hurt yourself wkwkwkwk). Gatau apakah angstnya bakal terasa apa engga si. Diusahain aja dulu.
Tumben bukan Ice/Ais yang jadi korban?
Awalnya mau Ice, tapi gantian dulu lah ya, temanya kayaknya lebih cocok buat Hali kali ini
Oiya buat up kayaknya bakal agak lama ya, karena author nyuri-nyuri waktu buat bikin ini, semoga aja lancar sih
YOU ARE READING
Their Last Mission
Fanfiction"Maaf, aku baru datang" ujar pria bermanik ruby itu lirih, menatap gundukan tanah merah di tengah hujan. "...maaf komandan, sepertinya semua masih terlalu berat untuknya" Ochobot meminta maaf atas perlakuan Hali yang kurang sopan. "Tak apa, jika aku...
