PROLOG

897 34 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.

Konon, di sebuah desa yang dikelilingi perbukitan hijau, terdapat sebuah sendang yang airnya tak pernah benar-benar keruh.

Namanya Sendang Wening.

Orang-orang tua di desa percaya, sendang itu bukan sekadar sumber air. Ada sesuatu yang telah menjaga tempat tersebut sejak zaman dahulu. Sesuatu yang tidak boleh diganggu, apalagi dilupakan.

Di malam-malam tertentu, ketika kabut turun terlalu rendah dan bulan tertutup awan, warga dilarang mendekati sendang.

Sebab, menurut cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, pada malam tertentu akan terdengar suara perempuan menyenandungkan tembang dari balik pepohonan.

Dan jika seseorang melihat sosok perempuan berpakaian putih berdiri di tepi air...

jangan pernah memanggil namanya.

Konon, ia adalah Pengantin Sendang.

Namun ada satu bagian dari legenda itu yang selalu disembunyikan oleh orang-orang tua.

Pengantin Sendang tidak datang untuk mengambil sembarang orang.

Ia datang untuk seseorang yang sudah ditentukan.

---

Bertahun-tahun kemudian, di pagi yang masih diselimuti embun, seorang anak laki-laki berlari menyusuri jalan setapak menuju Sendang Wening.

"Aruna!"

Suara itu menggema di antara pepohonan.

Anak laki-laki itu berhenti ketika melihat seorang anak lain berdiri di dekat tepian sendang.

"Ngopo kowe neng kene?" tanyanya dengan napas tersengal.

Aruna menoleh dan tersenyum.

"Ngenteni kowe."

Damar mengerutkan kening.

"Kenapa?"

Aruna hanya menunjuk air sendang yang tenang.

"Katanya, kalau lihat airnya sambil bikin permintaan, nanti bisa terkabul."

Damar terkekeh.

"Percaya tenan kowe karo cerita mbah-mbah?"

Aruna mengangguk polos.

"Percaya."

Damar menghela napas, kemudian duduk di sampingnya.

"Ya wis. Kowe mau apa?"

Aruna terdiam cukup lama.

Lalu ia tersenyum kecil.

"Aku cuma pengin... kita tetap bareng."

Damar menatapnya.

Untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa.

Kemudian ia mengulurkan kelingkingnya.

"Janji."

Kelingking kecil mereka bertaut di bawah rindangnya pohon tua.

Mereka tidak tahu bahwa di balik permukaan air yang tenang, sebuah rahasia telah menunggu.

Mereka juga tidak tahu bahwa janji sederhana yang mereka buat pagi itu kelak akan membawa mereka kembali ke Sendang Wening.

Bukan sebagai dua orang sahabat.

Melainkan sebagai dua orang yang harus menghadapi takdir yang telah ditentukan jauh sebelum mereka dilahirkan.

Dan ketika hari itu tiba, salah satu dari mereka akan mengetahui arti sebenarnya dari sebuah nama yang selama ini hanya dianggap sebagai legenda.

Pengantin Sendang.

SENDANG WENING : pengantin sendangCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang