Tubuh Yang Hangat

8 1 0
                                        

Tidak ada satupun manusia yang akan menyangka, bahwa hidup bisa membawa kita berakhir di jalanan. Mengais, mencari bantuan orang asing hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Atau sepotong roti.

Perutnya masih berbunyi, menuntut hak mereka untuk diisi. Ini sudah dua hari, dan perutnya sedikit pun belum terisi. Perut kosong membuat fikirannya kacau. Kontrakan yang belum terbayar, berhenti sekolah, bahkan perutnya masih kosong. Ia mencoba sedikit lagi berjalan. Berharap ada orang yang mau membantu atau membuang makanan sisa yang tidak mereka habiskan.

Atau

Melihat sebuah lowongan pekerjaan di sebuah tembok sisi jalan. Tembok dari kafe kecil yang baru buka 4 hari lalu.

Dibukanya pintu kafe yang memiliki lonceng kecil diatasnya.

"Selamat datang di Wastumandala! Ada yang mau anda pesan?" sambut si pelayan dengan senyum ceria.

"Hmm... Maaf... Tapi... aku datang kesini berniat untuk... melamar pekerjaan yang baru saja aku lihat di tembok sisi kafe ini." ucapnya sembari menunjuk tembok di simpang kafe yang baru saja ia lewati.

Si pelayan memerhatikan postur si pemuda tersebut. Tinggi, tapi badannya kurus sekali.

"Melamar pekerjaan? Bukankah seharusnya kau sedang di sekolah? Belajar, seperti murid pada umumnya?" Si Pelayan mulai curiga.

"Maaf, tapi... Aku sudah tidak bersekolah. Makanya aku mencari kerja." jawab si pemuda dengan sedikit lesu.

Si pelayan tertegun sebentar. Berfikir sejenak. Perlahan ia keluar dari area kasirnya untuk mendekati si pemuda.

"Boleh ku lihat alas sepatu mu?" si Pelayan memerhatikan kaki pemuda tersebut. Si pemuda bingung, tapi tetap mengangkat kakinya. Segera menunjukkan telapak dari sepatunya.

"Tangan mu juga." perintah si pelayan.

Pelayan tersebut langsung mengulur tangannya dan menggenggam tangan si pemuda. Ajakan untuk berjabat tangan.

Si pemuda masih bingung, terpaku sebentar pada tangan si pelayan yang terulur, lalu segera menjabatnya. Si pelayan meremat tangan si pemuda.

"Kasar sekali" batinnya.

"Bisa kau memulai hari ini? Kebetulan sekali aku belum memiliki karyawan satupun. Ah... Perkenalkan, Aku Aryadila, pemilik kafe ini. Jadi kau bisa menyerahkan CV mu besok." Jelas si pelayan sekali lagi mengulurkan tangannya. Si pemuda kembali menjabat tangannya.

Entah kenapa, Aryadila tidak memiliki kesan curiga pada pemuda tersebut.

"Jadi aku diterima?" Si pemuda sedikit terlonjak. Aryadila mengangguk dan mengulas senyum. Terkejut dengan antusias si pemuda di depannya.

"Jadi... Siapa namamu?" Tanya Aryadila dengan masih menjabat tangannya.

"Ah.. Aku Tamam, Tuan. Terimakasih sudah mau menerima ku bekerja disini. Aku akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin." Ucapnya dengan gembira.

"Tolong jangan panggil aku tuan. Cukup panggil nama ku saja." Jelasnya.

"Tapi..." Tamam merasa itu akan sangat buruk memanggil nama atasannya tanpa embel-embel penghormatan di depannya.

"Cukup nama ku saja, Ta." Paksa Aryadila.

"Baik... Bang... Aryadila?" Ada sedikit kebimbangan dalam jawabannya. Berharap Aryadila tidak menolak panggilan yang ia buat tersebut. Sejenak Aryadila terdiam. Memiringkan kepalanya ke kanan, mengepalkan tangan kanannya di dagu, membuat gerakan berfikir ala detektif. Mempertimbangkan panggilan tersebut.

" Okey... yang itu boleh." Kali ini Aryadila menyetujuinya dengan seulas senyuman. Mereka pun saling menjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan.

"Jadi... Aku mulai dari mana bang?" Tamam menegakkan postur badannya. Tanda semangat baru telah dimulai.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 3 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

dari WASTUMANDALAStories to obsess over. Discover now