prolog

17 1 0
                                        


"Dek...!"

Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu.

Hanya ada satu manusia sembilan belas tahun di rumah ini yang memanggilku dengan nada seolah seluruh dunia adalah laboratorium pribadi miliknya.

Anugerah Laki Baskara.

Kakak ketigaku. Mahasiswa baru jurusan Psikologi. Kaus oblong hitam, wajah tanpa dosa yang baru saja selesai bikin seisi rumah mengelus dada.

Namanya anugerah. Kelakuannya, musibah. Dan dalam rantai makanan rumah ini, aku adalah posisi paling bawah: kelinci percobaan abadi.

"Apaan sih, Bang?" sahutku tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel. Bola mataku sudah hampir copot karena terlalu sering kuputar malas tiap kali dia dekat.

Tanpa permisi, sofa di sebelahku ambles.

Laki duduk. Terlalu dekat.

Aroma itu lagi - kayu hangat bercampur sitrus, aroma yang selalu nempel di jaket motornya. Napasku langsung tertahan setengah. Sial.

Aku buru-buru menggeser duduk. Dia ikut menggeser.

"Jangan gitu, ah," bisiknya. "Abang butuh bantuan lo."

"Bantuan apa lagi? Jangan bilang lo mau pinjam catatan gue buat ospek."

"Lebih penting dari itu." Matanya berbinar. Binar yang selalu muncul tiap otaknya dapat ide gila. "Abang mau bikin riset sosial. Judulnya Eksperimen M-1. Mind-One."

Dia mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan seolah sedang membocorkan rahasia negara.

"Abang mau cari data empiris. Berapa lama sih waktu yang dibutuhin seseorang buat jatuh cinta lewat stimulasi fisik dan emosional? Dan seberapa cepat dia bisa sembuh setelah hatinya dipatahin?"

Aku akhirnya menatapnya. "Terus hubungannya sama gue apa?"

"Lo jadi eksekutor lapangannya."

Laki menyeringai.

"Tugas lo gampang. Bikin target jatuh cinta setengah mati pakai metode yang Abang susun. Setelah datanya dapat, tinggalin. Simpel, kan? Ilmiah."

"Gila ya lo?!" Aku refleks berdiri. Jarak aman harus segera diciptakan. "Itu hati orang, Bang! Bukan tikus lab!"

"Eh, denger dulu!" Dia ikut berdiri, dan lagi-lagi, jarak yang baru kubuat lenyap dalam satu langkahnya. "Sebelum ke target beneran, lo harus simulasi dulu sama Abang. Biar presisi. Tatap mata, sentuhan, semua tekniknya harus lo latihan dulu sama Abang."

Simulasi. Latihan kontak fisik. Sama Laki.

Kepalaku mendadak panas. Membayangkan harus menatap mata itu lebih dari lima detik atau membiarkan tangannya menggenggam tanganku demi "data presisi" saja sudah membuat benteng pertahanan yang kubangun selama ini retak.

"Enggak. Anugerah Laki Baskara, jangan mimpi!" Aku menatapnya tajam, meski lututku sendiri terasa lemas.

Laki malah terkekeh pelan. Dia memiringkan kepala, menunduk hingga jarak wajah kami tersisa belasan sentimeter. Senyum culasnya yang paling berbahaya itu muncul.

"Yakin mau nolak? Imbalannya gede loh, Dek."

Aroma sitrus itu makin kuat. Aku bisa menghitung bulu matanya dari sini.

"Motor sport kesayangan Abang, balik nama jadi milik lo. Plus seluruh uang jajan Abang bulan ini lunas buat lo. Gimana?"

Tenggorokanku kering.

Motor itu berarti kebebasan. Uang jajan itu berarti aku tidak perlu lagi minta izin ke Ibu untuk beli buku. Dua hal yang paling kuinginkan tahun ini.

Tapi menatapnya dari jarak sejengkal begini adalah siksaan.

Aku memutar otak cepat. Kalau dia mau main gila, aku juga harus dapat harga yang sepadan.

"Deal. Tapi ada syarat tambahan," kataku, memberanikan diri menatap balik matanya.

Alisnya terangkat. "Apa?"

"Abang berhenti total dari balap liar. Gantung helm. Stop keluar jam satu malam sama geng motor itu. One last race minggu ini buat beresin urusan lo, setelah itu pensiun. Kalau Abang setuju, gue jalanin Eksperimen M-1 sialan itu."

Laki terdiam. Untuk pertama kalinya sore ini, seringai itu hilang. Matanya menatapku dalam, lama, seolah sedang mencari apakah aku bercanda.

Lalu, dia mengulurkan tangan.

"Deal."

Suaranya mantap. Berat.

"Selamat bekerja sama, Kelinci Percobaan kesayangan Abang."

Tanpa sadar, tanganku menyambut ulurannya.

Hangat telapak tangannya menyengat kulitku. Aliran listrik aneh itu menjalar lagi, lebih kuat dari biasanya. Dan di detik itu aku sadar satu hal dengan sangat jelas:

Eksperimen ini tidak hanya akan mempermainkan hati targetku nanti.

Eksperimen ini juga akan menghancurkan hatiku sendiri.

OFF LIMITS ( Siapa Yang Menetapkan Batasnya) Stories to obsess over. Discover now