❝ Rentang renjana dan nista, kita menenun buah rahsa yang kelak memutus simpul bahtera, ❞
Erina dan Louis bukan dua orang yang bertemu secara tak sengaja disuatu senja, lalu jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kisah mereka tercantum diatas materai...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Mentari berpendar kian terik, pagi-pagi sekali pria itu sudah lenyap dalam rangkulan Erina, tak tampak di pandangan meski seujung kuku. Wanita itu tidak heran, tidak juga menduga-duga, seakan ia jelas tau bahwa Louis pergi bekerja.
Erina menghela nafas, beranjak bangun hanya untuk mendapati meja makan terasa sunyi.
"Selamat pagi, nyonya. Selamat menikmati sarapannya..." sapa pelayan itu, seperti kebanyakan asisten rumah tangga.
Dia hanya mengangguk, menelan sarapan pagi itu tanpa selera.
Berapa saat Erina baru sadar, ada sepucuk surat disamping piring makannya. 'Surat?...' tak banyak menimang ia membaca isinya.
Singkat, 'bisa cek rekening mu, saya sudah transfer, semoga berhasil,' dia tau persis itu adalah tulisan tangan Louis - rapi, tegas, dan jelas.
Erina buru-buru cek saldo ATM-nya, benar saja sejumlah uang dengan nominal fantastis masuk ke rekeningnya tadi pagi.
Senyum itu teruntai manis di wajahnya, meski semalam sempat berdebat dengan kata-kata ketus, ternyata Louis masih memberi ia izin untuk menjalankan butik impian istrinya.
Sang nyonya bergegas, wewangian bertabur keseluruh tubuhnya, setelan rapi, surai yang tertata, hingga lipstik merah merona jadi pelengkap.
"Kalau aku hamil, apa masih bisa secantik ini?" ia bertanya pada relung berpantul cermin, menatap rupa eloknya.