PROLOG

3 0 0
                                        

Malam selalu punya cara sendiri untuk mengembalikan seseorang pada hal-hal yang pernah berusaha ia tinggalkan. Mungkin karena suasananya lebih lengang atau mungkin karena ketika dunia mulai mereda, pikiran justru menemukan ruang untuk menjadi lebih riuh. Malam ini pun begitu, aku duduk di dekat jendela dengan ponsel di tangan membiarkan sebuah lagu nosstress mengalun pelan di kamar yang hampir sepenuhnya sunyi.

Lagu yang sebenarnya sudah berkali-kali kudengarkan, tetapi malam ini terasa berbeda. Mungkin bukan lagunya yang berubah melainkan aku yang mendengarkannya dengan perasaan yang tidak lagi sama. Setiap nada seperti membawa serpihan masa lalu yang selama ini mengendap diam-diam, lalu satu per satu mengapung kembali ke permukaan. Wajah-wajah yang pernah begitu dekat, tempat-tempat yang pernah terasa akrab, percakapan sederhana yang mungkin sudah dilupakan oleh orang lain, sampai tawa yang entah bagaimana masih bisa kuingat dengan begitu jelas. Semakin lama lagu itu berjalan, semakin jauh pula pikiranku melangkah. Aku mulai mengingat diriku yang dulu seseorang yang pernah melewati hari-hari dengan perasaan yang bahkan sulit ia beri nama. Ada masa ketika hal-hal sederhana terasa begitu berat, ketika bangun dari tempat tidur saja membutuhkan keberanian yang tidak pernah diketahui orang lain. Aku tidak selalu mengerti apa yang sedang terjadi dalam diriku, apalagi bagaimana cara menceritakannya. Yang kutahu saat itu hanya satu: aku ingin semuanya berhenti sebentar,agar aku bisa menarik napas tanpa merasa harus mengejar sesuatu yang bahkan tidak kutahu apa.

Kini, setelah jarak membuat semuanya terlihat sedikit lebih jernih, aku sering bertanya-tanya bagaimana diriku bisa melewati masa itu, apa yang membuatku tetap bangun ketika rasanya jauh lebih mudah untuk menyerah pada hari? apa yang membuatku terus melangkah ketika aku sendiri tidak tahu ke mana harus pergi?

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar memiliki jawaban yang sederhana, mungkin karena jawabannya tersebar di terlalu banyak tempat.

"Kamu masih ingat?"

Suara itu muncul begitu saja di kepalaku, begitu akrab sampai aku tidak perlu bertanya siapa yang sedang berbicara.

"Ingat apa?"

"Hal-hal yang membuatmu sampai di sini."

Aku tersenyum tipis lalu, tanpa sadar pikiranku mulai menyusuri kembali hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kuanggap penting. Ada keluarga yang selalu menyediakan tempat untuk pulang, teman-teman yang membuat hari terasa lebih ringan hanya dengan keberadaan mereka, musik yang menemani ketika aku tidak punya keinginan untuk bicara, percakapan singkat yang datang pada waktu yang tepat, dan tawa yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit tetapi cukup untuk membuat satu hari terasa sedikit lebih layak. Dulu aku mengira semua itu hanyalah bagian biasa dari kehidupan. Aku tidak pernah berpikir bahwa kelak aku akan menoleh ke belakang dan menemukan begitu banyak alasan untuk bersyukur di dalam hal-hal yang nyaris tidak pernah kuperhatikan.

Barangkali, yang paling sering menyelamatkan diriku justru adalah hal-hal yang tidak pernah merasa perlu disebut sebagai penyelamat.

Kesadaran itu membuatku terdiam cukup lama. Sebab di antara semua nama, wajah, lagu, tempat, dan kenangan yang muncul malam itu, ada satu sosok yang tidak pernah absen dari setiap bagian perjalanan tersebut: diriku sendiri. Terkadang aku tidak selalu baik kepadanya, pernah ada waktu ketika aku begitu mudah menyalahkan diri sendiri, merasa tertinggal, merasa tidak cukup, dan menganggap semua kekurangan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Aku pernah memandang diriku dengan begitu keras sampai lupa bahwa saat itu aku juga sedang belajar menjalani hidup untuk pertama kalinya.

Mungkin sekarang aku mulai bisa memandangnya dengan sedikit lebih lembut. Bukan karena semua luka sudah hilang, melainkan karena aku akhirnya mengerti bahwa diriku yang dulu hanya sedang berusaha bertahan dengan cara yang ia tahu.

"Kalau kamu bisa kembali ke sana, apa yang akan kamu katakan?"

Aku menatap pantulan wajahku sendiri di layar ponsel yang mulai meredup. Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban yang muncul dan begitu banyak hal yang ingin kusampaikan kepada dirinya, tetapi semakin kupikirkan semakin semuanya terasa tidak cukup untuk mewakili perjalanan yang sudah dilaluinya yang pada akhirnya, mungkin aku hanya ingin mengatakan bahwa ia tidak perlu memahami semuanya saat itu. Tidak perlu tahu kapan semuanya akan membaik, tidak perlu memiliki jawaban untuk setiap ketakutan yang datang, dan tidak perlu menjadi seseorang yang lebih kuat dari kemampuannya sendiri.

Aku hanya ingin ia tahu bahwa suatu hari nanti, semua langkah kecil yang terasa sia-sia itu akan membawanya ke tempat yang belum pernah ia bayangkan.

Mungkin ia tidak akan percaya karena pada saat itu ia masih terlalu sibuk melewati hari demi hari untuk membayangkan masa depan. Dan tidak apa-apa, sebab sekarang aku tahu tidak semua perjalanan harus dipahami ketika kita sedang menjalaninya, ada hal-hal yang baru menemukan maknanya setelah kita cukup jauh meninggalkannya. Karena itu, ketika memikirkan masa depan sekarang, aku tidak lagi merasa harus mengetahui semuanya. Aku masih punya banyak pertanyaan tentang siapa diriku, tentang apa yang kuinginkan, tentang orang-orang yang akan datang, dan tentang ke mana langkah ini pada akhirnya akan membawaku. Namun kali ini, ketidakpastian itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus kutakuti. Ada rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh di dalamnya, seolah hidup sedang menyimpan sesuatu yang belum ingin diperlihatkan kepadaku.

Dan mungkin aku ingin melihatnya sendiri.

Sebab barangkali hidup bukan tentang menemukan jalan yang sudah menunggu kita, melainkan tentang meninggalkan jejak di jalan yang kita pilih untuk terus dilalui.

Lagu itu akhirnya berhenti dan kamar kembali lengang, tetapi pikiranku masih dipenuhi oleh masa lalu yang baru saja terbuka kembali. Aku menatap layar ponsel cukup lama lalu menyadari bahwa mungkin malam ini bukan sekadar tentang sebuah lagu atau kenangan yang kebetulan kembali tetapi, ada sesuatu yang memang belum selesai tapi bukan untuk disesali, bukan pula untuk diulang, tetapi untuk dipahami. Sebab kalau aku ingin mengerti bagaimana aku bisa sampai di titik ini, aku harus kembali ke masa ketika semuanya belum memiliki arti sebesar sekarang. Ke hari-hari ketika aku belum tahu siapa yang kelak akan menjadi begitu penting, siapa yang akan singgah lalu pergi, apa yang akan hilang di sepanjang perjalanan dan hal-hal kecil apa yang tanpa kusadari akan membantuku menemukan jalan pulang kepada diriku sendiri.

Aku memejamkan mata sebentar untuk membiarkan ingatan itu membawa aku lebih jauh ke masa ketika aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, aku akan merindukan diriku yang bahkan belum sempat kukenal.

Dan dari sanalah semuanya bermula.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 20 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Quiet Things That Saved MeStories to obsess over. Discover now