"Keluarga Choi punya segalanya, kecuali waktu. Tapi bagi Yeonjun dan Beomgyu, waktu adalah satu-satunya hal yang berhasil mereka curi bersama."
•
•
•
•
•
Mansion keluarga Choi di kawasan elit Gangnam selalu terasa terlalu besar untuk diisi oleh suara dua orang anak kecil.
Dinding-dinding marmernya yang dingin memantulkan gema langkah kaki para staf rumah tangga yang bergerak tanpa suara. Di lantai bawah, jam berdentang setiap jam sekali, menyuarakan kesunyian yang amat sangat. Ayah dan Ibu selalu ada di mana-mana di sampul majalah bisnis, di layar televisi, di papan reklame pusat kota tetapi jarang sekali ada di meja makan.
Namun, bagi Choi Beomgyu yang baru berusia sepuluh tahun saat itu, rumah ini sama sekali tidak terasa sepi.
Sebab, di ujung koridor lantai dua, pintu kamar Choi Yeonjun selalu tidak pernah terkunci.
"Abang," panggil Beomgyu kecil sore itu, menyeret selimut lembutnya dan masuk ke kamar Yeonjun tanpa mengetuk pintu.
Yeonjun yang saat itu baru berusia tiga belas tahun sedang duduk di meja belajar, bergelut dengan tumpukan buku pelajaran dan jadwal les yang sudah dirancang padat oleh tutor pribadinya. Ia menghela napas pendek, tetapi usapan lembut di dahinya seketika hilang begitu ia menoleh dan melihat adiknya berdiri di ambang pintu dengan mata membulat polos.
"Kenapa, Gyu? Nggak bisa tidur lagi?" suara Yeonjun selalu berubah menjadi dua tingkat lebih lembut setiap kali berbicara dengan adiknya.
Beomgyu menggeleng, lalu berjalan mendekat dan menyandarkan kepalanya di paha Yeonjun. "Di luar ujan. Suara petirnya kenceng banget. Di kamar Abang agak hangat."
Yeonjun tidak pernah menyuruh Beomgyu keluar. Ia tidak pernah bilang kalau ia sedang sibuk atau harus belajar untuk ujian esok hari. Sebaliknya, Yeonjun mematikan lampu belajarnya, merapikan bukunya ke tepi meja, lalu menarik tubuh kecil adiknya ke atas kasur.
Malam itu, di bawah gulungan selimut tebal dan pancaran lampu tidur berbentuk bintang, Yeonjun merapikan poni adiknya dan berbisik, "Nggak apa-apa. Selama ada Abang, petirnya nggak bakal masuk ke kamar ini."
Dan bagi Beomgyu, kalimat itu adalah sebuah hukum alam yang tidak pernah meragukan.
Tujuh tahun berlalu.
Mansion itu masih sama mewahnya. Dinding marmernya masih sama dinginnya. Namun, anak laki-laki yang dulu bersembunyi dari suara petir kini sudah bertumbuh menjadi remaja SMA yang riuh, dan anak laki-laki yang dulu melindunginya kini tengah bersiap melangkah ke dunia orang dewasa yang serba kaku.
Pagi itu, sinar matahari musim panas menembus jendela kaca setinggi langit-langit di kamar Yeonjun.
Aroma es kopi, semerbak parfum maskulin, dan bau kain denim yang dijemur menyatu di udara. Di atas kasur, Beomgyu berbaring telentang sambil mengayun-ayunkan kakinya ke udara, sibuk menjepret kamera analog barunya ke arah Yeonjun yang sedang membetulkan kerah kemejanya di depan cermin.
Klik.
"Adek, jangan difoto terus. Abang belum selesai rapi-rapi," protes Yeonjun tanpa benar-benar marah, hanya melirik adiknya lewat pantulan cermin.
"Biarin. Ini kan hari pertama liburan musim panas," sahut Beomgyu santai, menurunkan kameranya dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Abang janji kan, musim panas ini kita bebas? Nggak ada rapat kantor Ayah, nggak ada les privat, nggak ada formalitas. Cuma kita."
Yeonjun berbalik, menatap adiknya yang kini sudah hampir sama tingginya dengannya, tetapi masih menyimpan binar polos yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Yeonjun berjalan mendekat, lalu dengan refleks yang tak pernah berubah, mengacak rambut Beomgyu hingga berantakan.
"Iya, janji," jawab Yeonjun pelan, ada nada hangat yang begitu tulus di suaranya. "Musim panas ini cuma buat kita."
Mereka tidak pernah tahu bahwa musim panas tidak pernah bertahan selamanya.
Bahwa angin laut akan berembus membawa perubahan, bahwa waktu akan terus berjalan tanpa peduli seberapa keras mereka ingin menghentikannya. Namun hari itu, di bawah naungan langit biru cerah dan riak gelombang musim panas yang baru dimulai, mereka percaya satu hal.
Selama mereka berjalan berdampingan, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa merenggut rumah dari mereka.
***

{Choi Yeonjun}

{Choi Beomgyu}
YOU ARE READING
OUR SUMMER [END] || YEONJUN & BEOMGYU [TXT]
FanfictionDi balik dinginnya dinding mansion keluarga Choi dan cengkeraman kekuasaan sang ayah, Yeonjun hanya punya satu alasan untuk terus bertahan yaitu kebebasan sang adik, Beomgyu. Saat ancaman perpisahan dan perebutan kendali mengintai dari setiap sudut...
![OUR SUMMER [END] || YEONJUN & BEOMGYU [TXT]](https://img.wattpad.com/cover/415175338-64-k90831.jpg)