00 • Prolog

37 10 0
                                        

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

.....

Cahaya terakhir di cakrawala sudah lama tenggelam, menyisakan semesta yang bernapas dalam rona kehitaman. Bara api menghantarkan hangat di atas tumpukan kayu yang perlahan terbakar habis menjadi debu. Petikan nada indah dari tanganku menjadi pemeran utama yang menemani empat lelaki lainnya menghabiskan hari. Senandung lagu mulai lantang mengudara tanpa adanya melodi yang tumpang tindih. Semua mengerti dan memahami porsinya masing-masing.

Aku menarik kurva senyum di bibir. Empat lelaki di hadapanku masih asyik menikmati iringan gitar yang ku mainkan. Aku sendiri tak benar-benar mengingat awal dari kedekatan kami, tetapi bisa ku katakan bahwa yang membawa kami bersama adalah ikatan persahabatan. Ikatan yang tidak lahir dari satu momen khusus, melainkan berkumpul perlahan seperti percikan api yang saling menangkap hingga membentuk bara. Kami bukan kelompok yang sempurna, tetapi entah bagaimana, kebersamaan kami terasa seperti kompas yang selalu tahu arah pulang.

Dari balik pancaran cahaya merah-oranye itu, tatapanku secara naluriah berhenti pada salah satu dari mereka. Bukan karena ia melakukan sesuatu yang istimewa, melainkan karena kehadirannya selalu terasa berbeda bahkan ketika ia hanya diam. Ada sesuatu di dirinya yang membuat udara di sekitarku berubah.

Lebih pekat.

Lebih sulit digapai.

Dan lebih sulit kulepaskan.

Saat gitar terus berbicara untukku, pikiranku melenceng dari nada. Aku pernah ingin mengatakan bahwa perasaan ini sederhana. Bahwa rasa suka bisa tumbuh begitu saja seperti rumput liar di padang yang tak dijaga. Tapi nyatanya, tidak ada yang sederhana ketika perasaan itu tumbuh di tengah lingkaran persahabatan. Karena ada batas yang tak terlihat. Ada ketakutan merusak sesuatu yang sudah kukenal sebagai rumah.

Dan yang paling kutakutkan, mungkin aku bukan satu-satunya yang merasakan hal itu.

Ada tatapan tersembunyi darinya untuk yang lain. Ada ketertarikan darinya yang terlalu halus untuk diucapkan, tetapi terlalu jelas untuk disangkal. Dan mungkin akan lebih mudah andai semuanya berhenti di situ.

Namun ada simpul lain yang ikut mengencang. Karena lelaki yang menjadi pusat tatapannya itu memiliki kecenderungan yang tak kalah samar, tetapi terarah pada sosok lain di antara kami. Seolah setiap dari kami menyimpan poros rahasia, sebuah gravitasi kecil yang mengikat tanpa pernah benar-benar menyentuh.

Dan di tengah lingkaran simpang-siur itu, aku menemukan sesuatu yang tak pernah kusangka. Orang yang menjadi tujuan akhir dari rantai panjang ini justru kerap menatapku dengan cara yang berbeda. Matanya terlalu lama saat menangkap mataku, terlalu penuh makna yang belum berani ia akui. Seakan ia sedang mengukur jarak yang tak pernah berani kami dekati.

Yang ku cintai memandang yang lain.

Yang lain memandang sosok lainnya lagi.

Dan pada akhirnya, ada seseorang yang diam-diam menatapku.

Rantai RasaStories to obsess over. Discover now