1.1 Dunia Lama

34 15 7
                                        

Tengoklah ke kanan kalau lewat perempatan. Jika anda melihat seorang perempuan muda hamil yang sedang duduk di sore hari di sebuah perkampungan Bekasi sedang tertawa dengan ibu-ibu yang lain, itulah aku diantara mereka.

Dialah aku yang berdaster, tinggi sekitar 148 cm, tidak 'minimal D3/ S1, tidak berpenampilan menarik, tidak berpengalaman minimal 2 tahun', 'mendapatkan rekomendasi pimpinan', namun dapat 'bertahan di bawah tekanan' dari cibiran orang-orang terdekat yaitu mertua dan iparku.

Kebetulan kami sedang membicarakan anak perempuan dari kampung sebelah yang selalu pulang malam yang dijemput berbagai pacar yang berbeda.

Yah, sebenarnya aku juga tidak terlalu tertarik dengan pembicaraan ini, sebab aku juga sepi di rumah dan pekerjaan rumahku sudah selesai.

Iya, kami tinggal di rumah kontrakan tidak jauh dari tempat duduk warga ini. Tidak ada kata selain syukur bagiku dan suamiku setelah pergi dari hal yang tidak mengenakkan datang dari mertuaku.

Orang itu selalu saja meminta uang pada Rizky tanpa memperhatikan kondisi keuangan kami. Kalau tidak diberi, maka mereka berupaya mencari-cari kesalahanku daripada mantunya yang lain, dan menyebarkannya pada tetangganya.

Rizky yang awalnya hanya bisa berdoa semoga mereka dapat hidayah, kemudian sadar juga bahwa hidayahnya adalah meninggalkan mereka. Tampaknya sudah sangat sore, kemungkinan Rizky akan pulang dalam waktu dekat.

"Jeng, pamit dulu ya, mau masak dulu" kataku pada mereka.

"Yaah, bentaran aja lagi napa, ge" jawab mereka, dan akupun meninggalkan mereka.

"Ayo mampir" jawabku, diiringi oleh tawa bagi ibu-ibu lainnya.

Sebelumnya, aku memang dulu bekerja di salah satu toko swalayan. Tetapi, sekarang aku berhenti karena kontrakku tidak diperpanjang saat mereka tahu aku hamil. Sekarang aku menjadi ibu rumah tangga, dan berharap suatu saat nanti dapat membuka warung kecil-kecilan jika sudah punya cukup modal.

Dari luar terdengar "Assalamualaikum!!!", dan aku bisa kenal sekali bahwa suara itu adalah suara dari suamiku.

"Waalaikum salam" dan aku segera menghampirinya.

Dia tampak lelah dengan seragam ojek onlinenya, dan segera masuk sebelum ganti baju. Sosoknya tidak jauh berbeda dengan saat ia datang ke rumahku dulu disaat aku SMK.

Dia bilang untuk menikahiku, dan dia cukup sabar untuk menungguku lulus SMK. Dan setelah aku berumur 20 tahun ini, sudah banyak hal yang telah terjadi. Bahwa, meski kami tinggal satu atap tetapi tampaknya hubungan kami tidak seperti dulu.

Jangan salah paham dulu, maksudku aku tetap menyayanginya. Namun, kami sudah jarang untuk berkeliling sekitaran Bekasi untuk kencan.

Bahkan, akhir-akhir ini suamiku selalu pulang malam untuk mengejar target katanya. Kurasa, tidak ada hal yang perlu ditakuti sekarang. Hanya saja ini pengalaman pertamaku untuk mempunyai seorang anak, dan aku hanya berharap suamiku mau meluangkan waktunya sedikit lebih lama untuknya.

"Mau kopi? Singkong sudah digoreng, ya"

"Boleh, dong. Ya kali engga" dan itu kebiasaannya dari dulu.

Dan dia segera menyetel saluran televisi yang menyiarkan sepak bola. Kebetulan, tim kesayangannya sedang bertanding hari ini, dan dia tidak mau melewatkan kesempatan itu.

Bahkan aku pernah diajaknya menonton sepak bola walau sekali saat kami pacaran dulu. Raut mukanya tampak lelah, seketika pula begitu senang. Aku duduk disampingnya, membuatku terlihat seperti adiknya daripada istrinya.

"Sayang, tadi kamu tahu enggak kalau dedek senang pas bapaknya pulang?" kataku memulai bicara sambil memegang perut yang makin membesar.

"Ah, masa?" dia tampak malu saat mendengar hal itu, dan kurasa itu malah jadi lucu.

"Iya dong"

"Syukurlah"

"Kamu di sepertiga malam tadi lupa bangun ya, buat doa? Jadi aku sendiri deh yang mendoakannya"

Rizky terkekeh, "Haha, maaf deh kalo begitu"

"Bagaimana tadi nariknya, Sayang?" tanyaku lagi.

Dia sedikit terkekeh, memegang kepalanya "Tadi ada ibu-ibu memotong jalan pakai mobil. Untungnya, ga nabrak atau apa. Cuma, aku heran dia itu kok bisa-bisanya motong jalan yang dua lajur begitu" dan dia terus cerita sembari aku mendengarkannya.

"Kemungkinan, minggu depan aku bakal demo bareng ke Jakarta soal menuntut perusahaan untuk tidak menerima mitra baru lagi. Kebetulan bareng sama kawan-kawan dari komunitas motor yang lain. Aku tahu kamu pasti ga terima, tetapi aku jamin demonya damai, kok" katanya.

Dan saat itulah, aku menahan nafas. Aku tahu apa itu demonstrasi massa, dan aku hanya bisa mengatakan "Tapi kamu janji buat pulang dengan selamat? Sebab ... kita menunggumu" tanyaku khawatir, memegang tangannya mengusap perutku.

"Pastinya dong. Tapi tenang aja, kok. Kami semua bakal damai dong, Sayang" katanya sambil mengusap kepalaku dengan tangan yang satunya lagi.

Iya, aku sudah lama tidak merasakan ini. Akhir-akhir ini, Rizky sedang bersemangat bekerja. Utamanya dia juga sangat mengharapkan kelahiran anak pertamanya.

Tentu saja bukan hanya dia yang merasakan hal yang sama. Sekaligus juga membuatku khawatir apa saja yang nanti ia butuhkan kelak jika menjadi anak kami.

Karena terlalu nyaman, bahkan aku sampai bersender di bahunya sembari menonton televisi.

Yah, kehidupanku teruslah begini. Yang hanya aku harap bahwa setidaknya sekalipun mertuaku tahu bahwa kami tinggal di sini, setidaknya mereka tidak sering-sering mengganggu. Selain itu pula, karena tempat baru ini masih bisa dijangkau dengan keluarga dari pihakku.

Begitulah kehidupan sederhana kami. Aku bahagia bahwa akhirnya Rizky dapat pulang dengan selamat, dan tuntutannya akhirnya diterima oleh perusahaan.

Setidaknya kami dapat bernafas lega karena itu sedikit membantu kondisi keuangan kami. Sebenarnya aku ingin membantu sebisaku, namun Rizky bilang bahwa keselamatan kami lebih utama. Maksudnya, aku dan bayi yang dikandung.


Duchess of the OblivionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang