biru merah [1]

17 2 0
                                        


Dan hari ini aku berpikir untuk kembali

Memang mau kembali kemana?

Aku adalah seorang tunawisma

Tak bertuan


"Jo, bawa ini. Jangan ragu untuk meminta bantuan ke seberang rumah. Kei dan keluarganya adalah orang yang baik."

Jo mengulurkan tangan untuk menerima secarik foto lama dari ibunya. Ada dua pasang orang tua, tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan sedang menikmati barbekyu bersama di halaman belakang sebuah rumah.

Jo mengiyakan ibunya dengan cepat, tak ingin membuang waktu lebih lama. Dua jam lagi tiket pesawat yang ada dalam genggamannya akan hangus tak tersisa.

Bayangkan saja betapa manis senyum bahagia petugas reservasi saat menawarkan tiket baru, tatapan yang seakan berkata;

Wow! Kami bahagia atas keterlambatanmu. Terima kasih atas pembelian dua tiket dewasa untuk sepasang bokong kecilmu.

Tentu saja tanpa diskon!

Jo berangkat ke bandara sendirian. Segera setelah memesan layanan antar jemput melalui ponsel. Kemajuan teknologi memang menyenangkan. Semua orang bisa melakukan banyak hal lewat layar kecil dalam saku celana mereka. Jo hampir tidak perlu membuka paksa rahangnya ketika berada di luar rumah dan ia menyukai hal itu.

Pelukan dari belakang mengagetkan Jo, membuatnya hampir melayangkan siku kepada siapa pun yang memiliki cukup nyali untuk melakukan hal itu.

Sayangnya, siluet rambut merah terurai membuat Jo mengurungkan niat baiknya. Seseorang harus memberikan makhluk seperti ini pelajaran yang berarti sebelum delapan puluh persen orang di negara ini meninggal karena serangan jantung. Mungkin hal ini menyelesaikan masalah kepadatan penduduk.

"Aku ingin menutup matamu dan berkata; Ayo tebak siapa ini!?" ucap seseorang yang saat ini masih melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jo dari belakang dengan sangat erat. Nada suara lucu yang sengaja dibuat-buatnya tidak membuat Jo jijik sama sekali, malah terkekeh geli. "Tapi kau terlalu tinggi untuk bersenang-senang," sambungnya.

"Gia sayang, kau terlalu tua untuk cemberut dan bersikap manja," bisik Jo tepat di telinganya ketika otot tangannya berhasil memaksa gadis itu berdiri tepat di hadapannya, mengabaikan kerucutan cemberut di bibir tebal sang hawa.

"Kau memang brengsek. Aku harap kau cepat mati."

"Aku yakin kau akan menjadi satu-satunya orang yang merasa kehilangan jika aku mati."

"Aku akan berpesta ria saat kau mati, cintaku."

"Aku menganggapnya sebagai pujian," jawab Jo cepat sebelum Gia bertindak lebih jauh dan membuat Jo kesulitan menanggapi sikap menyebalkannya.

Seringai yang terukir di bibir Jo terlihat kontras dengan cemberut kesal Gia.

Ini menjadi satu-satunya penanda bahwa wasit sudah mengalungkan tropi di leher Jo. Gia berjalan dengan cepat menyalip Jo, sedikit berlari sebelum dengan sengaja terjatuh di tengah keramaian area keberangkatan bandara.

Ada sekitar tiga laki-laki membantu Gia berdiri kembali dan mengambilkan koper yang sengaja dijatuhkannya. Sudut mata Gia melirik ke arah Jo.

Jo sadar Gia hanya ingin membuatnya kesal. Maaf saja, Jo tidak peduli, bahkan ketika Gia berpura-pura keseleo demi untuk menjatuhkan berat tubuhnya kepada laki-laki paling tampan dari ketiga manusia berbatang yang berusaha menolongnya.

biru merahStories to obsess over. Discover now