Atualizamos nossas Diretrizes de Conteúdo.
Consulte as diretrizes mais recentes para continuar compartilhando histórias com segurança.

Bab 1: Sepatu Kulit Mahal

24 7 0
                                        

Haechan menunduk dalam-dalam, menatap ujung sepatunya yang kulitnya sudah mulai mengelupas. Ia duduk di barisan paling belakang auditorium Fakultas Hukum, berusaha keras untuk meleburkan dirinya dengan bayangan.

Menjadi hantu. Menjadi tidak terlihat. Itu adalah satu-satunya cara Haechan bertahan hidup di Universitas Trinity, kampus elit yang isinya penuh dengan anak-anak konglomerat yang memandang rendah mahasiswa beasiswa seperti dirinya.

Tapi ada satu hal yang lebih sulit daripada menjadi tidak terlihat: mencoba untuk tidak sakit.

Haechan mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin. AC di auditorium itu disetel sangat dingin, tapi tubuh Haechan terasa seperti terbakar dari dalam.

Jantungnya berdetak terlalu cepat, dan kulit di leher serta dadanya terasa hiper-sensitif, bergesekan dengan kerah kemeja murahnya yang terasa seperti amplas.

Siklusnya datang lebih cepat.

Panik mulai merayap di dada Haechan. Ia seharusnya minum obat penekan (supresan) pagi ini, tapi ia tertidur karena kelelahan bekerja paruh waktu semalaman.

Sekarang, aroma tubuhnya yang manis dan berat—feromon alami yang biasanya ia mati-matian sembunyikan—mulai bocor keluar, samar namun cukup untuk membuat tenggorokannya kering.

Dengan tangan gemetar, Haechan merogoh tas ranselnya yang sudah butut. Ia harus menemukan botol kecil berwarna oranye itu. Ia hanya butuh satu pil. Hanya satu, agar ia bisa bertahan sampai kelas selesai.

Jari-jarinya baru saja menyentuh permukaan botol plastik itu ketika sebuah bayangan besar menutupi meja kerjanya.

Aroma cologne mahal berbau cedar dan mint yang tajam langsung menyerbu indra penciuman Haechan, mengalahkan aroma manis tubuhnya sendiri. Seluruh auditorium yang tadinya riuh oleh suara dosen, mendadak hening.

Hening yang mencekik.

Haechan tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Seluruh pori-porinya sudah mengenali ancaman itu.

"Kau pikir dengan menunduk seperti tikus got, aku tidak akan melihatmu, Haechan?"

Suara itu rendah, serak, dan dripping dengan nada merendahkan yang khas. Mark Lee.

Pewaris tunggal Grup Lee, mahasiswa tingkat akhir dengan IPK sempurna, dan "Tyrant" tak resmi di kampus ini. Mark adalah predator puncak.

Tampan, kaya raya, kejam, dan yang paling berbahaya: ia selalu mendapatkan apa yang ia mau, termasuk menghancurkan siapa pun yang ia anggap membosankan. Dan hari ini, sepertinya Haechan adalah hiburan Mark.

"T-Tidak, Mark..." suara Haechan keluar serak, nyaris tanpa suara. Ia mencoba menarik tangannya dari dalam tas, berusaha menyembunyikan botol oranye itu.

Tapi Mark lebih cepat.

Dengan gerakan kasar, Mark menyambar tali tas Haechan, menariknya hingga Haechan tersentak dan nyaris jatuh dari kursinya. Isi tas itu tumpah ke lantai: buku catatan usang, pena murah, dan sebuah botol plastik oranye kecil tanpa label.

"Mark, tolong..." Haechan memohon, matanya yang bulat berkaca-kaca. Rasa panas di tubuhnya semakin menjadi-jadi, membuatnya merasa pusing.

"Kembalikan. Itu... itu penting."

Mark menatap botol itu dengan alis terangkat, lalu menendangnya pelan dengan sepatu kulit Oxford mahalnya hingga botol itu meluncur ke dekat ujung sepatunya.

"Penting?" Mark tertawa kecil, suara yang membuat beberapa mahasiswa di barisan depan merinding. Ia membungkuk, memungut botol itu, dan mengocoknya. Suara butiran pil di dalamnya terdengar nyaring di tengah keheningan auditorium.

"Kau membawa-bawa pil ke kampus, Haechan? Kau sakit? Atau..." Mark menyeringai, matanya yang gelap menatap Haechan dari atas ke bawah dengan tatapan menjijikkan.

"...kau kecanduan obat terlarang? Mahasiswa beasiswa yang ternyata seorang pecandu. Menarik."

"Bukan! Itu bukan..." Haechan mencoba berdiri, tapi kakinya lemas. Siklusnya sedang memuncak, tubuhnya gemetar hebat.

"Tolong kembalikan, Mark. Kumohon."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Haechan. Ia tidak peduli pada harga dirinya lagi; ia hanya tidak ingin rahasia terbesarnya terbongkar.

Jika orang tahu ia terlahir dengan anatomi interseks, dengan rahim di dalam tubuhnya yang bisa mengalami 'siklus panas' seperti omega, hidupnya akan tamat. Ia akan diusir, dipenjara, atau dibunuh oleh keluarga conservatifnya.

Mark memperhatikan tubuh Haechan yang gemetar, pipinya yang merona merah tidak wajar, dan napas yang memburu. Mark mengira itu adalah rasa takut. Ia menikmati setiap detiknya.

"Kumohon?" Mark meniru nada Haechan dengan nada mendayu-dayu yang mengejek.

"Kata yang indah. Tapi kau salah memohon pada orang yang tepat."

Tanpa peringatan, Mark membuka tutup botol itu. Ia menuangkan belasan pil putih kecil ke telapak tangannya yang besar.

"jangan!" Haechan menjerit kecil, mencoba meraih tangan Mark.

Tapi Mark hanya menyikut dada Haechan, membuat pemuda itu terpental kembali ke kursinya dengan napas tercekat.

Mark menatap pil-pil di tangannya, lalu menatap Haechan yang kini menangis tanpa suara. Dengan senyum dingin yang tidak mencapai matanya, Mark membuka tangannya.

Brak.

Pil-pil itu jatuh ke lantai keramik. Dan sebelum Haechan bisa bereaksi, Mark mengangkat kaki kanannya dan menghentakkan sepatu kulit mahalnya tepat ke tumpukan pil itu.

Kresek. Krek.

Suara pil yang hancur menjadi serbuk putih terdengar sangat jelas. Mark menggeser-geserkan ujung sepatunya, memastikan tidak ada satu pun pil yang utuh, mencampur serbuk putih itu dengan debu lantai.

Haechan merasa dunianya runtuh. Napasnya terhenti.

"Itu dia," kata Mark santai, menyeka ujung sepatunya yang kotor dengan tisu, lalu melemparkan tisu itu tepat ke wajah Haechan.

"Sekarang obatmu sudah habis. Lain kali, kalau mau sembunyi, pastikan tempat persembunyiannya tidak sejelek ini."

Mark mencondongkan tubuhnya, menatap tepat ke dalam mata Haechan yang penuh keputusasaan.

"Kau menyebalkan, Haechan. Tatapan menyedihkanmu itu membuatku ingin meremukkanmu lebih jauh lagi."

Mark berbalik dan berjalan kembali ke kursinya di barisan depan, meninggalkan Haechan yang terpaku di kursinya.

Haechan menatap serbuk putih yang hancur di lantai. Tangannya meraih tisu di wajahnya, meremasnya hingga hancur.

Ia terlambat.

Tanpa supresan, benteng di dalam tubuhnya runtuh. Gelombang panas pertama yang sesungguhnya menghantam perut bawahnya, membuat Haechan melengkungkan punggungnya dan menggigit bibirnya keras-kerat untuk menahan erangan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Keringat membasahi rambutnya. Aroma manis yang memabukkan itu kini bocor lebih kuat, memenuhi udara di sekitarnya.

Dan di barisan depan, Mark Lee, yang tadinya sedang mencatat, tiba-tiba berhenti. Hidungnya mengendus udara samar-samar. Sesuatu yang manis, seperti madu yang terbakar gula, tiba-tiba menyeruak di udara, membuat tenggorokan Mark terasa kering dan darahnya berdesir aneh.

Mark menoleh ke belakang, menatap ke arah barisan paling belakang.

Haechan sudah tidak peduli lagi. Ia memeluk perutnya yang terasa perih dan panas, air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tahu, malam ini akan menjadi malam terburuk dalam hidupnya. Dan ia tidak akan bisa lari dari monster bernama Mark Lee.


JANGAN LUPA VOTE & FOLLOW

OBSESI SANG TYRANT - MARKHYUCKHistórias para pegar e não largar. Descubra agora