We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

28. Pondok di Sisi Tebing

6 0 0
                                        

*

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

*

"Kelihatannya kau tidak berasal dari sekitar sini," kata orang tua yang dipanggil Si Penyendiri itu saat mereka berjalan menyusuri hutan. "Darimana asalmu, Nak?"

"Saya dari Kota Dralet, Tuan," jawab Larrel, sopan. Dia menyeret sepedanya, sementara dia terus berjalan. "Saya sedang dalam perjalanan mencari Kota Emas."

"Kota Emas?" Dilihatnya dahi orang tua itu berkerut. "Belum pernah dengar."

"Itu ada di-" kata Larrel, tapi Si Penyendiri belum selesai.

"Kupikir akan jauh lebih enak kalau kita berbincang-bincang di rumahku. Letaknya tidak jauh dari sini. Ayo, ikut aku."

Mungkin tidak ada salahnya kalau aku ikut dengannya sebentar, pikir Larrel. Lagipula, pria tua itu tampaknya orang baik.

"Rumah Anda di hutan ini?" Tanya Larrel. Menurutnya, tidak ada yang seharusnya tinggal di sini. Hutan Mythmore terbengkalai, liar dan berbahaya.

Si Penyendiri mengangguk. "Sudah lama aku meninggalkan ibukota dan tinggal di sini. Di sana itu.." dia bergidik. "Demi Dewi! Kegilaan yang tak terbayangkan! Aku tidak sudi kembali lagi ke sana!"

"Anda berasal dari Kota Emas?" Tanya Larrel, kegirangan. Larrel terdiam sebentar, menyadari Si Penyendiri tidak mengerti istilah itu. Dia lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, "jadi Anda berasal dari Ibukota Marilimar?"

Si Penyendiri mengangguk. "Bisa dibilang begitu. Aku besar di Copper. Tapi aku mengabdikan diri untuk raja selama beberapa tahun, sebelum aku sadar itu tidak ada gunanya lagi untukku. Jadi aku lari ke hutan dan memutuskan untuk menetap di sini. Barangkali, selamanya."

Larrel mengangguk-angguk. Mantan pelayan Raja? Itu menarik.

"Jadi yang kau maksud Kota Emas itu Ibukota Marilimar, ya? Aku tidak pernah tahu namanya berubah," Si Penyendiri menggaruk dagunya yang ditumbuhi janggut putih lebat. Dia lalu berpaling ke arah Larrel. "Dan kau sedang dalam perjalanan ke sana, eh?"

"Ya," jawab Larrel. "Saya ingin melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Orang bilang di sana tempat bagus."

Si Penyendiri lantas tertawa. Dia terkekeh-kekeh parau, sebelum melanjutkan, "kau ini aneh, Nak. Semua orang menjauhi ibukota! Sudah kubilang, segala macam kegilaan berpusat di sana! Tapi kau malah ingin pergi ke sana!" Dia menggeleng-geleng.

"Apakah salah?" Tanya Larrel. Setiap orang dewasa yang ditemuinya selalu saja begini. Pasti selalu ada alasan untuk melarangnya pergi ke sana. Memangnya ada apa dengan ibukota?

"Salah atau tidaknya, aku tidak bisa memutuskan. Ini perjalananmu. Tapi kalau aku jadi kau, aku lebih memilih untuk menjauhinya," ucap Si Penyendiri.

Keduanya terus berjalan. Larrel tidak ingat dia pernah melewati bagian hutan yang ini. Ini memang Mythmore. Dia masih berputar di hutan itu. Tapi pemandangan di sekitarnya tampak lain. Sulur-sulur masih ada, tapi sulur-sulur itu merambat meliuk-liuk membentuk sebuah dataran kokoh- sebuah tebing curam yang tinggi sekali.

Sejuta MimpiStories to obsess over. Discover now