Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Bab 1

26 3 0
                                        

Haruno Sakura.

Pertama kali Sasuke mengenalnya saat atasannya memberinya perintah untuk merawat wanita malang itu. Sakura didiagnosis menderita penyakit mental yang disebut skizofrenia.

Sakura sendiri didiagnosis menderita penyakit itu karena sebuah insiden. Menurut laporan, dia dan keluarganya pernah dirampok di sebuah jalan sunyi. Kedua orang tuanya ditembak dan dibunuh dengan brutal tepat di depan matanya. Sementara dia sendiri, di perkosa oleh tiga pelaku tersebut selama berjam-jam lamanya.

Insiden ini benar-benar membawa musibah dalam hidup Sakura. Dia dibiarkan hidup, dan akhirnya menderita skizofrenia karena bayang-bayang mengerikan itu kerap menghantuinya. Hal ini membuatnya sering histeris, dan pada akhirnya dia dikirim ke rumah sakit jiwa yang letaknya agak terpencil di sudut kota.

Sasuke benar-benar menyayangkan takdir hidup Sakura. Seorang wanita yang seharusnya punya hidup lebih baik malah menderita skizofrenia di usia yang masih sangat muda, 25 tahun.

Dan ya, singkatnya Sakura akhirnya dikirim ke rumah sakit jiwa tempat Sasuke bekerja. Sasuke menjemput Sakura di depan rumah sakit saat itu dan langsung menahan napas. Sakura ternyata benar-benar cantik, manis dan ... Mengairahkan, rambutnya panjang sepinggang, tubuhnya agak kurus tetapi tidak bisa menutupi bentuk tubuhnya yang ramping dan menggoda. Kulitnya putih porselen dan bibirnya agak kering dan pucat. Membuat Sasuke ingin menghisapnya membasahinya dengan liurnya sendiri.

Sialan! Saat itu Sasuke benar-benar merutuki pikiran mesum dan bodohnya. Bagaimana bisa dia kepikiran sampai ke sana? Sakura adalah pasiennya dan Sasuke harus bertugas untuk merawatnya sampai dia benar-benar sembuh! Harus! Ya setidaknya itulah yang sering Sasuke tanamkan dalam dirinya.

Tidak sehingga. Sasuke sadar, bahwa bukan hanya dirinya yang memiliki pikiran kotor tentang Sakura. Tapi, ternyata staf rumah sakit juga, khususnya laki-laki tentunya. Bagaimana tidak. Setiap harinya, Sakura selalu memakai baju rumah sakit sebatas lutut. Baju rumah sakit itu sedikit tipis, saat Sakura berdiri di bawah sinar matahari maka lekuk tubuhnya akan langsung terlihat. Sakura juga tidak memakai bra, membuatkan buah dadanya mencuat dan tercetak jelas di balik baju yang dia kenakan. Dan bisa kalian bayangkan, bagaimana seksanya Sasuke menghadapi itu setiap hari? Setiap saat dia bahkan berusaha menahan diri agar tidak menyerang Sakura saat itu juga.

Tidak hanya itu, staf lelaki juga sering memandang Sakura 'lapar' seolah Sakura adalah santapan yang bagus, dan di beberapa kesempatan mereka bahkan terang-terangan menatap Sakura penuh nafsu. Memikirkan hal itu kadang membuat Sasuke kesal. Rasanya, dia ingin sekali mencongkel mata-mata cabul itu.

Hah~

Tidak lama sebuah helaan napas meluncur dari mulut Sasuke. Lamunannya tentang Sakura terbuyar. Pria lalu itu menyandarkan tubuh pada kursi kerjanya, lalu memijit pelipisnya. Waktu sekarang sudah menunjukkan hampir sebelas malam, dan Sasuke masih berada di ruangannya, menuliskan laporan kesehatan mental Sakura. Pikirannya penuh dengan berbagai pertanyaan dan keprihatinan tentang kondisi pasiennya itu.

Tok! Tok! Tok!

Tidak lama kemudian, ketukan pintu menginterupsi laporan yang sedang ditulisnya. Sasuke mengangkat kepala dan menatap pintu kayu berwarna cokelat tua yang terlihat sedikit usang itu. Lampu ruangan yang redup memancarkan cahaya lembut, membuat bayangan pintu bergetar seiring dengan ketukan yang terdengar.

"Masuk," ujar Sasuke dengan suara lelah.

Pintu perlahan terbuka, dan seorang perawat muda dengan wajah penuh kekhawatiran masuk. Matanya memancarkan kecemasan, seolah membawa berita penting yang tidak bisa ditunda. Sasuke menatap perawat itu penasaran.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat perawat itu berdiri di depannya.

"Sakura, dia lagi-lagi mengamuk," ucap perawat itu dengan nada cemas.

PATIENTHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora