PROLOG

3 1 0
                                        

Ada hal-hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari seseorang.

Suara pintu yang ditutup terlalu keras.
Nada bicara yang berubah sedikit lebih tinggi.
Langkah kaki yang terdengar dari kejauhan dan membuat seorang anak belajar diam sebelum sempat ditanya.

Ada hal-hal yang mungkin bagi orang lain begitu sederhana, tetapi bagi seseorang yang tumbuh bersamanya, hal-hal itu bisa menjadi bahasa yang paling mudah dikenali.

Aku tumbuh dengan mempelajari bahasa itu.

Sejak kecil, aku tahu kapan harus tertawa, kapan harus diam, kapan harus pergi ke kamar, dan kapan sebaiknya tidak banyak bertanya.

Aku belajar membaca wajah orang lain sebelum belajar membaca diriku sendiri.

Aku tahu bagaimana caranya membuat suasana menjadi lebih ringan ketika rumah terasa terlalu berat. Aku tahu bagaimana caranya tersenyum ketika orang-orang bertanya, "Kamu kenapa?" dan aku tidak punya cukup keberanian untuk menjawab dengan jujur.

Jadi aku memilih jawaban paling mudah.

"Nggak apa-apa."

Dua kata yang akhirnya tumbuh menjadi kebiasaan.

Dua kata yang terlalu sering kuucapkan sampai aku sendiri lupa kapan terakhir kali aku benar-benar baik-baik saja.

Rumah kami tidak pernah benar-benar kosong.

Ada suara televisi.

Ada suara piring yang beradu.

Ada suara Mama yang sibuk menerima telepon pekerjaan.

Ada suara langkah kaki yang datang dan pergi.

Semuanya ada.

Hanya satu hal yang sering tidak ada:

rasa tenang.

Mama adalah perempuan yang mengajarkanku arti bertahan.

Ia bekerja begitu keras sampai terkadang aku bertanya-tanya dari mana perempuan itu mendapatkan tenaga untuk terus bangun setiap pagi.

Ia membiayai banyak hal.

Mengurus banyak hal.

Memikirkan banyak hal.

Mungkin terlalu banyak.

Aku tahu Mama mencintaiku.

Aku tidak pernah meragukannya.

Hanya saja, cinta terkadang tidak selalu datang dalam bentuk pelukan dan waktu yang panjang.

Kadang cinta datang dalam bentuk uang sekolah yang sudah dibayarkan.

Makanan yang sudah tersedia di meja.

Pesan singkat yang berbunyi, "Jangan lupa makan."

Atau seseorang yang pulang larut malam dengan mata lelah, tetapi masih sempat bertanya,

"Besok kamu ada kuliah?"

Aku tahu Mama berusaha.

Dan mungkin karena itulah aku tidak pernah tega menyalahkannya.

Sementara Papa...

Ia mengajarkanku sesuatu yang berbeda.

Bahwa seseorang bisa berada begitu dekat, tetapi tetap terasa jauh.

Bahwa rumah bisa memiliki empat dinding yang kokoh, tetapi tidak selalu mampu membuat hati merasa aman.

Aku tidak membencinya.

Rumah yang Tidak Pernah KutemukanStories to obsess over. Discover now