PROLOG

282 36 48
                                        

9 Oktober 1980

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

9 Oktober 1980

Suara musik klasik mengalun merdu di sebuah radio angkutan umum bersamaan dengan suara kenek yang terus memanggil para siswa yang baru saja bubar dari sekolah.

Monica Kewinsky, gadis berusia enam belas tahun dengan bando biru dan seragam SMA, menatap kerumunan para siswa yang mengobrol bersama orang tua mereka masing-masing di acara perwalian murid. Mereka tampak harmonis, tidak seperti keluarganya yang telah lama hancur.

"Mau pulang, Dek? Sini, naik. Rumahnya arah Cikarang, kan?' tanya seorang kenek membuyarkan lamunan Monica.

Monica segera tersadar dan menjawab. "Oh iya, Bang."

"Ya udah naik."

Monica mengangguk sembari berjalan, menyeret satu kakinya yang cacat.

"Mau dibantu Neng?" tanya kenek itu yang merasa kasihan.

"Tidak usah. Saya bisa sendiri."

Monica menginjakkan satu kakinya ke mobil, tetapi tubuhnya oleng hingga jatuh menghantam pintu. Kesal, ia mengepalkan tangan lalu memukul pahanya beberapa kali.

Kenek itu segera menghentikan tindakannya dan menarik tubuh Monica kedalam dan membantunya mencari kursi yang kosong.

"Itu Monica kan? Dia kenapa sih. Suka mukul-mukul tubuhnya sendiri?" bisik seorang cewek berjaket merah yang duduk dibelakang Monica

"Gak tahu. Gue juga sering lihat dia teriak-teriak sendiri di kamar mandi," sahut cewek berambut sebahu disebelah gadis itu

"Dah sinting kali karena kakinya pengkor!" Ujar cewek jaket merah sambil kemudian mereka tertawa.

Musik dari radio terus mengalun mengisi kekosongan di setiap perjalanan. Sedikit demi sedikit para siswa pulang dengan selamat dan tak terasa hari sudah semakin gelap yang hanya menyisakan Monica seorang.

"Udah nyampe Neng," ujar sopir angkot sambil melirik ke deretan kursi yang kini menyisakan Monica seorang yang tengah tertidur.

Monica menghela napas berat setelah angkot yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang rumah. Ia segera turun, lalu berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan bus itu perlahan menjauh hingga menghilang dari pandangannya.

"Guk! Guk! Guk!"

"Herry ayo masuk gak ada apa-apa disini."

Monica mengalihkan pandangannya menatap tetangganya yang tengah menarik anjingnya yang terus menggonggong ke arah rumah Monica.

SEBELUM IBU MEMANGGIL [EDISI REVIS]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang