Dusun Sukaramping selalu terbangun dalam pelukan kabut tipis yang turun dari lereng bukit. Setiap kali aku membuka jendela kamar, bau tanah basah, aroma embun yang tertangkap dedaunan, serta desir angin yang menggesek rumpun bambu di pinggir jalan desa masuk memenuhi dadaku. Dari luar, tempat tinggal kami ini adalah perwujudan sempurna dari ketenangan hidup. Rumah-rumah berdinding papan berderet rapi dengan halaman luas, tawa anak-anak kecil berlarian mengejar capung, serta sapaan hangat para tetangga yang saling bertukar senyum saat berjalan menuju sawah.
Namun, kedamaian di luar sana tidak pernah betul-betul berhasil menembus dinding kepalaku.
Aku duduk di ambang jendela kamarku yang setengah terbuka. Jemariku yang kurus menelusuri serat kayu jendela yang kasar dan dingin. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat bentangan kebun teh di kejauhan yang hijau benderang tersiram sinar matahari pagi. Udara terasa menusuk kulit, tetapi jauh di dalam dadaku, ada sesuatu yang terasa membakar-sebuah ketegangan tanpa nama yang merambat pelan dari pangkal leher hingga ke pelipis.
Di dalam kepalaku, kesunyian tidak pernah sungguh-sungguh sunyi. Ada deru halus yang mirip riak air bah, atau kepakan ribuan sayap serangga yang tak kasat mata. Kadang ia terasa pelan, tetapi di hari-hari tertentu, bising itu seperti hendak meledakkan tempurung kepalaku dari dalam.
"Raina, minum teh hangatnya dulu, Nak."
Suara lembut Ibu memecah deru yang berkecamuk di dalam benakku. Ibu berdiri di ambang pintu kamar membawa cangkir seng berenamel hijau yang masih mengepulkan uap. Wajah perempuan paruh baya itu tampak hangat, tetapi jika aku mengamatinya lebih dekat, ada guratan lelah yang tertanam dalam di sudut mata dan dahinya. Garis-garis lelah yang seingatku tidak ada di sana beberapa tahun lalu.
Aku menoleh pelan, menyunggingkan senyum tipis yang terasa berat di bibirku. "Makasih, Bu. Ditaruh di meja saja."
Ibu melangkah masuk, meletakkan cangkir itu di meja kayu kecil samping tempat tidurku. Matanya menatapku dengan sorot yang selalu membuat dadaku sesak: kombinasi antara kasih sayang yang melimpah dan rasa cemas yang tak pernah benar-benar padam. Ibu membelai rambut panjangku yang agak kusut, sebuah gestur pelindung yang telah ia lakukan sejak aku masih balita.
"Semalam tidur nyenyak?" tanya Ibu pelan. Suaranya terdengar terlalu hati-hati, seolah ia takut kata-katanya bisa memecahkan sesuatu yang rapuh di dalam diriku.
"Nyenyak, Bu," bohongku.
Aku tidak menceritakan bahwa sepanjang malam, pikiranku seperti gasing yang diputar tanpa henti. Otakku terus berputar memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal-tentang bagaimana warna langit bisa tiba-tiba menelanku bulat-bulat, atau tentang suara bisikan tanpa wujud yang menyuruhku untuk terus berjalan ke dalam hutan bambu di belakang rumah.
Aku tahu Ibu dan Ayah sangat menyayangiku. Pak Bagus dan Bu Rahma tidak pernah memukulku, tidak pernah membentakku, dan selalu memastikan aku mendapatkan makanan terbaik serta pakaian yang layak. Namun, justru kasih sayang yang melimpah itulah yang kerap terasa menjadi beban terberat di pundakku. Ada sesuatu yang salah di dalam diriku-sesuatu yang tak bisa disembuhkan hanya dengan pelukan hangat Ibu atau doa-doa panjang Ayah di penghujung malam. Aku pernah membaca di buku tua milik Ayah, ada zat-zat kimia di dalam otak yang mengatur perasaan kita. Di kepalaku, zat-zat itu rasanya selalu berperang, meliuk tanpa kendali, meracuni pikiranku dengan kecemasan berlebih dan ketakutan aneh yang makin lama makin tak bisa kukendalikan.
"Ibu ke dapur dulu, ya. Jangan lupa diminum tehnya," kata Ibu sebelum melangkah keluar dan menutup pintu pelan-pelan.
Aku menghela napas panjang, kembali menatap keluar jendela. Dari arah jalan setapak di samping rumah, suara riak tawa yang sangat kukenal tiba-tiba terdengar. Seketika itu juga, dadaku berdesir. Rasa hangat langsung menyergap hatiku, menyapu bersih deru bising di otaknya walau hanya untuk sepersekian detik.
Itu Kael dan Brina.
Aku melihat Mikael Ardyan-Kael-berjalan dengan gayanya yang santai, mengenakan kemeja kotak-kotak longgar yang digulung hingga siku. Di sampingnya, Sabrina Kirana-Brina-berjalan sambil membawa keranjang bambu berisi sayuran segar. Langkah kaki Brina begitu ringan, dan senyumnya terkembang manis saat mendengarkan Kael berbicara.
Kael adalah jangkarku. Sejak kami bertiga masih kecil, ketika teman-teman sebaya lain mulai menjauhiku karena menganggapku "aneh", "penyendiri", dan suka melamun menatap ruang kosong, Kael tidak pernah pergi. Dialah yang akan menggenggam tanganku saat rasa cemas tiba-tiba menyergap tanpa alasan. Dialah yang mau mendengarkan semua cerita kacau di kepalaku tanpa pernah menghakimiku.
Dan aku mencintai Kael. Aku mencintainya dengan seluruh keterbatasan dan kekacauan jiwa yang kupunya. Aku tidak pernah menutup-nutupi perasaan itu darinya maupun dari orang-orang di desa. Aku menyukai Kael secara terang-terangan. Semua orang di dusun ini tahu betapa aku menyukai Kael. Bagi diriku yang rentan hancur ini, Kael adalah satu-satunya pegangan agar aku tidak hanyut tenggelam dalam kegelapan pikiranku sendiri.
"Kael! Brina!" panggilku dari jendela, suaraku melengking riang, lupa akan rasa lelah yang menggerogoti tubuhku sejak bangun tidur.
Kedua orang di jalan berbatu itu menghentikan langkah. Kael mendongak, dan seketika itu juga senyum paling hangat yang pernah kukenal memancar dari wajahnya. "Raina! Udah bangun kamu?"
Brina ikut melambaikan tangannya denganku, tersenyum ramah. "Raina! Ayo keluar, udara pagi ini enak banget!"
Aku bergegas berdiri dari kursi, hampir saja menyenggol cangkir teh seng di meja. Tanpa memedulikan panggil pelan Ibu dari arah dapur, aku berlari kecil menuju pintu depan dan melangkah keluar menyongsong kedua sahabatku.
Begitu aku makin dekat, Kael secara alami mengacak rambutku pelan-sebuah kebiasaan lama yang selalu berhasil membuat jantungku berdebar tak karuan. "Kamu kok kusam banget, Rai? Belum cuci muka, ya?" goda Kael sambil terkekeh.
"Udah, kok!" sanggahku cepat, merasakan hangat merambat ke pipiku. Aku menatap wajah Kael, menyerap ketenangan dari garis wajahnya. "Kael hari ini mau ke mana? Nanti sore bisa anterin aku ke pinggir sungai ga? Aku mau lihat burung-burung yang biasanya hinggap di pohon beringin."
Kael menatapku dengan sorot mata yang begitu lembut. "Bisa, Rai. Nanti sore aku jemput ke rumah, ya."
Aku tersenyum lebar. Saat-saat seperti ini, aku merasa diriku utuh kembali. Ada Kael yang selalu melindungiku, dan ada Brina-sahabat perempuanku yang paling lembut dan selalu menjadi penengah dalam hidupku. Bagi diriku, dunia kecil ini sudah lebih dari cukup. Asal ada mereka berdua, aku yakin aku bisa bertahan melawan segala kegilaan yang mengintai dari dalam kepalaku.
Namun, di tengah rasa bahagia yang membuncah itu, mataku sempat menangkap sesuatu yang membuat dadaku berdesir aneh.
Di samping tubuh Kael, jemarinya sempat bersentuhan rapat dengan jemari Brina. Hanya beberapa detik, sebelum akhirnya Brina menarik tangannya pelan dan menggenggam erat keranjang bambunya. Aku juga melihat bagaimana Kael menatap Brina saat gadis itu berpamitan. Ada sesuatu dalam tatapan mereka berdua-sebuah sorot mata yang rapat, dalam, dan terasa begitu asing bagiku.
Sejenak, bisikan-bisikan di dalam kepalaku kembali bergema, berbisik bahwa ada hal besar yang sedang disembunyikan dariku. Apakah mereka berdua menyimpan rahasia? Apakah Kael sebenarnya lelah bersamamu? Apakah Brina sedang mengasihanimu?
Aku menyapu bersih pikiran buruk itu dengan cepat, menggelengkan kepala pelan. Tidak, Raina. Jangan mulai lagi, batinku menenangkan diri. Kamu cuma terlalu curigaan karena otakmu sedang kumat. Kael dan Brina menyayangimu. Mereka sahabat terbaikmu.
"Rai, aku jalan dulu ya ke rumah Bu Lurah, mau nganterin sayur ini," ujar Brina pelan. Suaranya terdengar sedikit bergetar, tetapi ia menyunggingkan senyum tulus padaku.
"Iya, Brina! Nanti sore ikut ke sungai juga, ya!" seruku antusias.
Brina mengangguk pelan tanpa mengiyakan secara tegas, lalu berbalik melangkah pergi. Kael masih berdiri di sampingku, memerhatikan punggung Brina yang makin menjauh, sebelum akhirnya kembali menatapku dan mengusap bahuku pelan.
Aku berdiri di sana, di bawah naungan pohon kamboja halaman rumah yang menggugurkan bunganya ke tanah, menatap Kael dengan senyum penuh harapan. Aku menggenggam tepi bajuku kuat-kuat, mencoba mengabaikan denyutan halus di pelipisku dan bisikan-bisikan asing yang mulai berjarak di kepalaku. Selama Kael ada di sini, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap bertahan.
YOU ARE READING
Bising di Dusun yang Sunyi
General FictionDusun Sukaramping selalu dikenal sebagai tempat paling damai untuk melarikan diri dari ingar-bingar dunia. Namun bagi Raina, kedamaian itu hanyalah ilusi. Di balik bening matanya, terjadi perang biologis akibat ketidakseimbangan kimiawi otak yang pe...
