Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Prolog

17 2 2
                                        

Breshh!

Gluduk! Gluduk!

JDAARR!!

Dini hari pukul 02.00 di Jakarta, hujan deras dan gemuruh petir tak henti-hentinya mengamuk. Awan hitam terus mengguyur habis pemukiman warga, disapu oleh badai angin yang menghempas pepohonan.

Bau tanah basah menyeruak, bercampur dengan dinginnya udara malam menambah kesan mencekam. Sudah tiga hari kota ini terkurung oleh curah hujan, tiga hari pula jarang ada yang keluar rumah jika tidak mengharuskan.

Di tengah keributan alam, seorang wanita memikirkan hal yang sama ributnya. Pikirannya berkecamuk seolah ikut diterpa badai. Pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupannya silih berganti dalam otaknya.

Langkah kaki itu berderu cepat membawa tekad yang salah. Di tangan kanannya, bergelayut sesosok bayi kecil yang baru satu Minggu dia lahirkan. Sementara di tangan kirinya, menggenggam erat gagang payung.

Berbeda dengan raut wajahnya, mata sayu tersebut ikut menumpahkan tangis yang sama seperti awan. Bibirnya bergetar sesekali meringis menahan dingin. Di dalam batinnya, rasa lelah dan frustrasi ikut membuat napasnya sesak.

Tatapannya kosong dengan lelehan air mata, kepalanya terasa kencang akibat beban mental yang menumpuk. Ia sudah putus asa. Rambutnya yang sudah tak karuan bentuknya, menggambarkan isi kepala wanita itu.

Sedetik kemudian, tatapan wanita itu menengadah, berusaha membaca tulisan di sebuah palang asrama. Rintik hujan sedikit mengenai dahinya.
______________________________________

PONDOK PESANTREN AL-AMANAH
______________________________________

"Maafkan Mama, Nak ..," desisnya tajam. Sebuah kilatan cahaya menyorot bayangan wanita itu.

Tangannya meraih kardus yang sudah ia bawa, di dalamnya ada kain, pakaian, popok bayi, serta botol dot dan perlengkapan lainnya.

Dengan perlahan, tangan pucat tersebut menaruh sang anak di dalam kardus. Bayi itu bergerak seakan memiliki firasat buruk. Untuk berjaga-jaga, wanita ini menyumpal mulut sang bayi supaya tidak mengeluarkan tangisan.

Tidak kencang, tetapi sungguh menyayat hati jikalau ia tahu akan dibuang ..

Wanita itu menggeser kardus tersebut tepat di depan pintu salah satu asrama putra, lalu ia mengeluarkan secarik kertas dan meninggalkannya di dalam kardus pula.

Sebelum menutup kardus, ia menatap lamat mata sang bayi berharap ini pertemuan terakhir mereka. "Selamat tinggal, Nak. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi .."

***

Hwaa, maap bgtt! Ini revisi ulang yackkss ..

Z'moga syukakk🫰

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Aug 06 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Audra Organization Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora