14. A Small Apology

199 44 20
                                        

》》》Kale's POV《《《

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

》》》Kale's POV《《《


Tiga hari kemudian...

​Aku pulang lebih cepat hari ini.

​Jarum jam di tanganku baru menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit ketika mobil memasuki halaman. Aku sengaja merapikan semua pekerjaan di kantor lebih awal agar bisa menikmati makan malam bersama Nine, setelah beberapa hari terakhir hubungan di antara kami terasa begitu kaku pasca percakapan malam itu.

​Begitu memasuki lobi mansion, suasananya terasa senyap.

​"Tuan Muda."

​Mr. Veer segera menghampiri dan membungkuk sopan untuk menerima jas yang kulepaskan.

​Aku menoleh sekilas ke arah ruang keluarga.

​Kosong. Tidak ada bayangan Nine yang biasanya duduk di sofa sambil membaca buku atau sekadar menungguku pulang seperti hari-hari biasa.

​"Nine di kamar, ya? Sudah panggilkan dia untuk makan malam?" tanyaku langsung.

​Mr. Veer tampak sedikit ragu sebelum menjawab. "Tuan Nine sudah makan malam lebih awal dan langsung minum obat," jawab Mr. Veer. "Hanya saja... seperti yang saya laporkan tadi siang, Tuan Nine memang sudah beberapa hari ini terlihat lebih banyak menghabiskan waktu di kamar."

​Langkahku terhenti.

​"Belakangan ini Tuan Nine terus kelihatan murung. Jika tidak ada jadwal terapi atau urusan penting, beliau lebih memilih mengurung diri di kamar seharian," lanjutnya.

Entah kenapa, kalimat Mr. Veer langsung membuatku teringat percakapan malam itu.

"Nine, jangan salah paham..."

"Aku menikahimu karena itu memang keputusan yang harus kuambil..."

"Aku masih berusaha membiasakan diri..."

"Aku belum siap menjalani semuanya seperti pasangan pada umumnya."

Sepertinya... semua kata-kata yang ku ucapkan memang terlalu berlebihan, sampai dia bersikap dingin dan murung beberapa hari terakhir.

Aku memang hanya berniat jujur pada batasku, bukan bermaksud menghakiminya atau membuatnya merasa tertolak seperti ini. Tapi melihat reaksinya yang menarik diri, mengurung diri di kamar, dan tampak begitu tertekan selama tiga hari belakangan, membuatku sadar kalau aku sudah melukai perasaannya.

​Kupijat pelipis perlahan dengan rasa bersalah yang mulai merayap naik.

​Nine tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia hanya jujur pada keinginannya, sementara aku menjawabnya dengan dingin dan egois.

Tanganku tanpa sadar menyentuh paper bag kecil yang sejak tadi kubawa.

Dalam perjalanan pulang tadi, aku sengaja mampir ke sebuah butik cokelat ternama. Bukan sekadar hadiah biasa, melainkan sebuah bentuk gestur kecil untuk mencairkan suasana dan meminta maaf atas sikapku.

𝐊𝐚𝐥𝐞'𝐬 𝐋𝐢𝐭𝐭𝐥𝐞 𝐖𝐢𝐟𝐞 | 𝓚𝓮𝓷𝓰𝓝𝓪𝓶𝓹𝓲𝓷𝓰Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora