00

49 13 0
                                        

Dua tahun.

Waktu yang tidak sebentar.

Dua tahun penuh yang pernah di lewati bersama, dipenuhi begitu banyak kenangan yang hingga kini masih tersimpan rapi di sudut ingatan Luna.

Ada tawa yang tak pernah habis, ada pertengkaran-pertengkaran kecil yang berakhir dengan meminta maaf, ada perjalanan tanpa tujuan yang justru menjadi momen paling berharga. Ada tangisan, pelukan, rasa kecewa, rasa bangga, hingga harapan-harapan sederhana yang dulu rajut bersama, seolah masa depan memang sudah menunggu di ujung sana.

Selama dua tahun itu..

Luna benar-benar percaya bahwa hubungan itu akan bertahan selama mungkin.

mungkin selamanya.

Setidaknya..

Itulah yang selalu Luna yakini.

Namun kenyataannya berbeda.

Pada akhirnya, lelaki yang paling Luna percaya justru memilih meninggalkan negara ini demi mengejar pendidikan S2 sekaligus membangun kariernya di negeri orang.

Keputusan itu datang begitu tiba-tiba.

Bukan karena ia berhenti mencintainya, dan pula karena ada orang ketiga. Melainkan karena Luna sudah bersama-sama berada di persimpangan hidup yang memaksa salah satu di antara mereka untuk melangkah lebih dulu.

Dan Luna..

Tak pernah memiliki hak untuk menahannya tetap tinggal. Sebesar apa pun keinginan Luna agar lelaki itu tetap berada di sisinya, Luna tahu.. Bahwa mimpi seseorang tak seharusnya dikorbankan hanya demi mempertahankan hubungan.

Maka dengan hati yang hancur, Luna memilih melepaskannya. Meski setelah itu, hari-hari Luna dipenuhi oleh..

Kehilangan.

Trauma.

Tangisan.

Kesunyian yang terasa begitu menyiksa.

Butuh waktu yang sangat lama bagi Luna untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa kisah itu telah berakhir.

Tak terhitung berapa malam yang Luna lalui dengan menangis hingga tertidur.

Tak terhitung pula berapa kali Luna mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua rasa sakit itu suatu hari nanti pasti akan sembuh.

Dan memang... Waktu perlahan melakukan tugasnya. Sedikit demi sedikit, luka itu mulai menutup. Tangisan tak lagi sesering dulu. Namanya pun mulai jarang memenuhi pikirannya.

Hingga tanpa terasa, dua tahun berlalu.

Luna berhasil menjalani hidupnya sendiri.

Belajar berdiri tanpa dirinya.

Belajar tersenyum tanpa harus menunggunya kembali.

Dan saat Luna merasa semuanya benar-benar sudah selesai..

Takdir, justru mempertemukan dengannya lagi.

Kini..

Orang yang dulu menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya, kembali berdiri tepat di hadapan Luna.

Jay.

Datang begitu saja, seolah tak pernah ada perpisahan panjang. Seolah tak pernah ada air mata yang Luna habiskan sendirian. Seolah ia tak salah betapa besar luka yang pernah ia tinggalkan.

Namun..

Ada satu hal yang langsung Luna sadari saat melihatnya.

Jay telah banyak berubah.

AvoidantStories to obsess over. Discover now