We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

20

27 12 1
                                        

Ibu kembali menangis di bahuku, sudah 3 hari berlalu, tapi dia masih tak mengerti, aku hanya pergi untuk memenuhi panggilan jiwaku, kuharap ia lebih berkontribusi, tetapi nyatanya sudah sejak 3 hari lalu ia menangis, dan puncaknya adalah malam kemarin, ia pingsan sebentar, beruntung bibiku sedang berada di rumah, jadi aku tak terlalu repot mengurusi nya, aku mendorong sedikit wajahnya agar ia bisa bernapas lega,

"Ibu... kita sudah membicarakannya, kuharap.. ibu sehat selalu." setelah mengecup pipinya singkat, aku langsung berlari, tak peduli raungannya yang semakin keras, untuk terakhir kalinya aku menoleh, dan mendapatinya sudah tenggelam di dalam pelukan para tetangga yang juga menangis hebat, saling menenangkan.. ah, aku jadi tak ingin pergi.

...

Aku kembali berdiri di depan sebuah bangunan yang baru kemarin lusa ku datangi, tepat 3 hari lalu aku mendengar arahan langsung dari Fuhrer, mendengar orang orang meneriakkan namanya, sibuk dengan angan-angan tinggi tentang sebuah kejayaan, lantang membeberkan kehidupan layak yang terasa nyata, berperang demi.. harga diri ras suci, aku tahu, seluruhnya adalah demi kemajuan bangsa kami, demi kesucian ras kami, demi.. kesejahteraan dunia, tapi aku tak tau mengapa mereka begitu mengejar hal-hal seperti itu. Umur ku baru menginjak 10 tahun 2 bulan, tapi siapa peduli? Fuhrer memanggil kami, tak akan ada yang dapat menghalangi.

"Siapa namamu nak?"

Seorang pria tinggi menghampiri ku, sorot matanya yang tajam seakan menusuk jauh ke dalam alam bawah sadarku,

"Klein Schmdit"

Jawabku singkat, mencoba tak memandang wajahnya yang mengerikan, bukan dalam arti harfiah, wajahnya terlalu bersih dan sehat untuk ukuran seorang veteran yang sedang berada dalam kondisi perang, badannya masih berdiri tegap penuh nutrisi, hal yang hampir tak mungkin di keadaan saat ini, ada sesuatu yang membuatnya tampak mengerikan, tapi aku pun tak yakin itu apa.

"Selamat datang nak-"

Dia terdiam sejenak, lantas secara tiba-tiba ia memegang pundakku, tersenyum, senyuman hangat yang aneh, siapa yang dapat tersenyum di kondisi perang?, aku balas tersenyum kaku, lalu dengan sengaja ia merunduk, berbisik pelan di telingaku, kukira ia akan mengatakan perkataan yang membosankan, yah, mungkin seperti... 'semoga kau baik ' atau..

"kau tau apa yang akan kau temui di sini?, cacat seumur hidup atau... kematian."

Aku tak menjawab, bereaksi pun terasa sulit, nalar ku tak pernah mencapai apa yang ia pikirkan saat ia mengatakan hal itu pada anak yang terjebak perang di umur 10 tahun, tapi tidak lama, dengan keberanian yang lebih dekat ke nekat aku tertawa kecil,

"Dan itupun berlaku untuk mu Mister, semoga kau kembali dengan keadaan yang tak berubah sedikit pun dari yang saat ini."

Dia terdiam, menatapku dengan wajah terkejut, lantas berlalu dengan wajah yang sulit ku deskripsikan, aku tak salah kan?, berbicara tentang perang, maka hal yang pertama terlintas di benakku adalah 'keberuntungan', kau kuat?, Well.. itu bisa sedikit menolong, tapi jika kau sedang tak 'beruntung', sekadar menghindari ranjau darat yang menonjol pun akan terasa mustahil, meski kau menguasai seluruh ilmu peperangan.

Ibuku bilang perang telah di mulai sejak aku berumur tiga tahun, di tengah keputusasaan manusia, tuhan mengutus Fuhrer yang membawa hangat di tengah badai salju, membawa angin sejuk di tengah padang pasir gersang, yang membawa air segar dikala dahaga meradang, ketika ras 'kami' hampir di babat habis oleh ras 'lain', Fuhrer datang dengan satu juta janji yang menjadi realitas lapangan, ia datang dan membimbing kami, mengajari banyak hal layaknya mengajari anak-anak belajar jalan, menuntun kami agar tak buta selamanya, dan aku yakin pria tadi juga salah satu kepanjangan tangan kepercayaan Fuhrer, tak perlu mengenal nya lama, wibawa yang seakan tertulis di wajahnya itu telah menggambarkan segalanya, tapi reaksi terkejutnya membuat ku menyadari bahwa ia juga manusia biasa yang mampu merasa.

...

Kendaraan lapis baja itu berjalan kasar, kami menaiki panzer yang berjalan secepat yang di bisa, sayangnya kendaraan lapis baja itu seperti tak mungkin lagi menambah kecepatan, ditambah dengan kami yang duduk di atas nya, dan bergelantungan di samping-sampingnya, aku berpegang kuat pada apapun yang mampu kucapai, baju longgar ku mengganggu, aku lebih suka tak memakai baju daripada seragam besar bodoh ini, tapi apa boleh buat?, pria mengerikan itu yang repot-repot membawa seragam ini padaku, tak mungkin aku menolaknya bukan?, aku memperhatikan keadaan sekitar, sepanjang jalan tadi orang-orang sibuk mengucapkan selamat tinggal, dan sekarang, setelah ratusan mil keadaan benar-benar sunyi senyap, hanya ada bangunan-bangunan kosong, kucing-kucing jelek, gelandangan bertebaran, ada apa i-

"K-kau tau sesuatu?."

Aku menoleh, mendapati pemuda jangkung, dia jauh lebih jangkung dariku, tapi wajahnya pucat pasi, lengan yang ia jadikan untuk berpegangan bergetar hebat, ia tak berhenti berpeluh, dan nafasnya terdengar berat, ah.. dia ketakutan, aku tak menjawab, terlalu sulit menghadapi orang yang takut, aku hanya tersenyum tipis, dan kembali memperhatikan sekitar, cuaca sudah cukup dingin sekarang.

"AH SIAL!!"

Aku menghela nafas, panzer kami terjebak lumpur, kabar baiknya lumpur itu tak terlalu dalam, boleh dihitung cukup dangkal, yang menjadi kabar buruknya adalah massa panzer yang mencapai ber ton-ton tak mampu selamat dengan mudah dari kubangan lumpur dangkal itu, aku hanya diam melihat orang-orang memukuli si pengemudi panzer, tak ada pilihan, mau tidak mau harus dikeluarkan secara manual.

"TARIIIIKKK!!!!, 1 2 3 TARIIIIKK!!!"

bermandikan peluh di bawah matahari mendung bulan november, kami menarik sebuah panzer seberat 57 ton, bukan main, dengan baju seragam yang diikat satu sama lain hingga menjadi sebuah tali kami terus menarik baja berat itu, musim salju semakin dekat, tapi untunglah, tidak terasa karena olahraga 'ringan' ini setidaknya membantu tubuhku hangat dalam beberapa waktu.

"Craving some food youngman?."

Aku menoleh, pria lagi, ia menghampiriku yang sedang beristirahat di sebatang kayu besar, aku ingin melihat setidak-tidak nya satu gadis, ia bermandikan keringat sama sepertiku, wajahnya lebih hangat dari matahari bulan april, sisanya.. ia hanya seorang pria pertengahan 30 biasa, ras 'kami' yang kental tentunya.

"Ya, kau punya sesuatu?"

Dia tersenyum, senyuman sungguhan, lantas melempar sebongkah roti keras, tanpa apapun, tapi siapa peduli? aku langsung mengunyahnya begitu saja,

"Kau bisa memakannya? aku tau ini pengalaman pertamamu", aku menggedikkan bahu,

"lebih baik dari sayur sampah buatan ibuku."

Aku menjawab asal, yang anehnya malah membuatnya tertawa, apa aku sedang bercanda?, aku tak pernah bercanda soal sayuran terbuat dari rumput liar yang di buat oleh ibuku untuk bertahan hidup.

"KITA BERMALAM DISINI!!!"

Dan yah, itu keputusan yang diambil, kulihat beberapa orang mulai mendirikan tenda, beberapa lagi memasang ayunan di pohon, ada juga yang sibuk membuat api unggun, aku tak memiliki apapun, jadi aku masih duduk diam di samping pria 30an ini.

"kita sudah kalah..."

Pria itu bergumam pelan, aku mendengarnya, tapi entah kenapa aku tak ingin bereaksi, apa... kita sudah kalah? lagipula.. apa arti dari kemenangan?, aku beranjak, dan pergi tanpa menoleh, benar.. tak ada kemenangan bagi ras yang bahkan mendukung anak-anak berumur 10 tahun untuk berperang.




You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 11 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Fallin' Down SkiesStories to obsess over. Discover now