Di sebuah asrama perempuan, salju pertama turun. Udara malam terasa semakin dingin, tetapi pemandangan itu justru menghangatkan hati para penghuni kamar yang kini saling membuka jendela, mengulurkan tangan untuk merasakan lembutnya salju, lalu tersenyum bahagia.
Begitu juga dengan satu-satunya gadis yang tinggal di lantai paling atas. Murid pindahan yang terpaksa tinggal seorang diri karena kamar lainnya sudah penuh.
Ia tak merasa takut meski terkadang terdengar bunyi-bunyi dari kamar kosong di sebelahnya.
Gadis bernama Alisa Atler itu menutup jendela kamarnya ketika udara malam terasa semakin dingin. Ia kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi leher. Perlahan, rasa hangat menyelimuti tubuhnya.
Helaan napas panjang terdengar dari bibir gadis itu. Baru seminggu tinggal jauh dari rumah, tetapi rasanya ia sudah begitu merindukan keluarganya.
Pikirannya kembali pada kebiasaan yang selalu dilakukan keluarganya setiap kali salju pertama turun. Sang ibu akan membuatkannya segelas cokelat hangat, sementara sang ayah akan membelikannya kue tart stroberi, rasa kesukaannya.
Namun, karena suatu alasan, Alisa memilih untuk melarikan diri dari rumah dan menjadikan sekolah sebagai alasannya untuk pergi.
Duk! Duk!
Bunyi-bunyi dari kamar sebelah terdengar semakin keras. Alisa mengerutkan kening, sementara bulu kuduknya perlahan meremang. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi seluruh wajahnya.
"Alisa..."
Sebuah suara memanggilnya dari balik dinding.
Mata Alisa sontak melebar. Ia terkejut ketika menyadari bahwa suara itu jelas milik seorang pria.
Kini, gadis itu bukan lagi takut pada hantu. Melainkan pada seorang penyusup yang mungkin saja berniat buruk. Sebab, seharusnya tidak ada seorang pria pun yang tinggal di asrama perempuan itu.
***
Pagi ini, Alisa baru saja selesai mandi di kamar mandi yang terletak di ujung lorong lantai tempat ia tinggal. Setelah mengenakan seragam sekolah, ia segera bergegas turun ke lantai bawah yang dihuni lebih banyak siswi.
Langkahnya terhenti ketika suara tangisan, bahkan jeritan, terdengar dari lantai dua.
Alisa mengerutkan kening. Rasa penasaran mendorongnya untuk mendekati kerumunan yang telah berkumpul di depan salah satu kamar.
"Ada apa?" tanya Alisa.
"Milli tewas setelah jatuh dari atap," jawab seorang gadis yang tengah menangis tersedu-sedu.
Mata Alisa sontak melebar. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Milli adalah teman sebangkunya, seseorang yang baru saja ia kenal sejak pindah ke sekolah itu.
"Ti-tidak mungkin..." pekiknya tertahan.
Tanpa berpikir panjang, Alisa menerobos masuk ke kamar teman barunya itu dan berlari menuju jendela.
Namun, pemandangan di bawah sana seketika membuat tubuhnya membeku. Benar saja. Teman sebangkunya tergeletak bersimbah darah.
"Aku yakin ada seseorang yang mendorongnya. Dia sama sekali tidak terlihat murung atau sedih," ujar seorang gadis di belakang Alisa.
YOU ARE READING
Ring From The Dark
RomanceAlisa Atler, gadis kecil yang terjebak dalam perjanjian antara manusia dan iblis.
