Selamat datang di Always, In the End. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita Jadrian dan Adira. Semoga kalian bisa menikmati setiap perjalanan, tawa, air mata, dan setiap perasaan yang mereka lalui bersama.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan tambahkan cerita ini ke reading list kalau kalian menyukainya. Dukungan kecil dari kalian selalu berarti besar untuk semangatku dalam melanjutkan cerita ini.
Happy Reading! 🍀
_________________________________________
Rumah keluarga Mahardika yang biasanya dipenuhi tawa kini diselimuti keheningan. Karangan bunga berjejer memenuhi halaman hingga teras depan, sementara para pelayat datang silih berganti membawa ucapan belasungkawa. Para relasi bisnis, keluarga besar, hingga karyawan Mahardika Group memenuhi rumah itu dengan pakaian serba hitam. Tak ada percakapan yang terdengar lantang. Semuanya berbicara dengan suara pelan, seolah takut menambah luka yang tengah menyelimuti keluarga tersebut.
Di ruang utama, sebuah peti berwarna putih gading menjadi pusat perhatian. Di atasnya terbentang rangkaian bunga lili putih yang mengelilingi foto Teresa Mahendra. Senyum wanita itu dalam bingkai foto tampak begitu hangat, sangat bertolak belakang dengan suasana yang kini menyelimuti rumahnya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jadrian Mahardika berdiri tegak di samping peti sang mama. Setelan jas hitam yang dikenakannya tampak kusut karena sudah dipakai sejak dini hari. Tatapannya kosong, hanya sesekali mengangguk kecil ketika seseorang menyampaikan belasungkawa. Tak ada air mata yang jatuh, tak ada isak tangis. Wajahnya terlalu tenang, hingga justru membuat orang-orang yang melihatnya ikut merasa sesak.
Di sisi lain ruangan, Yohan Mahendra berusaha menyambut setiap tamu yang datang.
"Terima kasih sudah datang."
Kalimat itu terus diucapkannya berulang kali, meski suaranya semakin serak. Beberapa kali pria paruh baya itu harus mengusap sudut matanya sebelum kembali memaksakan senyum kepada para pelayat.
Pintu utama kembali terbuka.
"Ishana..."
Yohan langsung melangkah menghampiri wanita yang baru datang itu.
Ishana Danendra membalas pelukan Yohan dengan mata yang sudah memerah.
"Yang sabar, Kak Yohan."
Yohan mengangguk pelan. "Teresa... akhirnya nggak perlu nahan sakit lagi."
Ishana menggenggam lengan pria itu erat, berusaha memberi kekuatan tanpa perlu banyak kata.
Tak jauh di belakang Ishana, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun berdiri sambil membawa sebuah tas kecil berwarna krem. Adira Sullivan mengenakan dress hitam sederhana dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai. Begitu memasuki rumah Mahardika, matanya langsung mencari satu sosok yang sudah dikenalnya sejak kecil.