Syarat dan Ketetuan Berlaku

106 5 9
                                        

"Aku tidak tahu, mana yang lebih mengejutkan malam ini ...."

RIGA duduk kaku di salah satu sisi meja, tubuhnya tegang, tatapannya kosong menembus udara. Basement rumah keluarga Wiranata malam itu tidak terasa seperti ruang bawah tanah biasa. Meja kayu panjang berdiri di tengah ruangan, lampu gantung tua menggantung rendah di atasnya, membuat suasana lebih mirip ruang sidang rahasia daripada tempat berkumpul keluarga. Seluruh anggota keluarga sudah duduk mengelilinginya, wajah mereka serius, seolah semua sudah tahu apa yang akan terjadi—kecuali Riga.

Pernikahanku... atau kenyataan bahwa semuanya diatur seperti sebuah perusahaan.

Di sampingnya, Mera duduk dengan wajah pucat. Kedua tangannya saling menggenggam erat di bawah meja, seolah itu satu-satunya cara agar ia tidak berdiri dan lari keluar ruangan.

Jari-jari Riga mengetuk meja pelan.

Tap... tap...

Kebiasaan gugup yang tak pernah bisa ia hilangkan. Matanya bergerak, menyapu satu per satu wajah di sekelilingnya.

Semua orang terlihat terlalu tenang.

Terlalu tenang untuk sebuah rapat yang, sejauh yang Riga tahu, seharusnya membahas dirinya.

Lalu tatapannya berhenti.

Di ujung meja, seseorang duduk dengan setelan formal, kedua tangan bertumpu rapi di atas map dokumen. Punggung tegak. Ekspresi yang sudah Riga hafal luar kepala.

"...Eza?" Suaranya nyaris tak keluar.

Riga mengerjap, mencoba mencerna situasi ini. "Kenapa... kenapa Ibu ada di sini?"

Eza menoleh, tatapannya dingin seperti biasa, bicara dengan nada seolah sedang membahas cuaca sore ini. "Karena ini menyangkut masa depan keluarga Dirgantara."

Ekspresi Riga berubah kesal.

"Dan," lanjut Eza, tenang, "aku akan memastikan kau tidak membuat keputusan bodoh seperti dulu."

Di bawah meja, tangan Riga mengepal.

Krek.

Mera melirik ke arahnya, cemas—mungkin ia bisa merasakan ketegangan yang mulai menjalar dari tubuh suami rancangannya itu.

Hadi berdiri di ujung meja, sebuah bundel dokumen sangat tebal terletak di hadapannya. Sebuah palu kayu diangkat, lalu diketukkan ke meja.

TOK!

"Baik," suara bariton itu menggema di seluruh ruangan. "Rapat keluarga dimulai."

Dokumen di tangan Hadi dibuka perlahan. Halaman pertama memenuhi pandangan semua orang. Tertulis besar di sana:

STANDAR OPERASIONAL PERNIKAHAN
*Nomor Dokumen: SOP-PERNIKAHAN-PASCA/2024*

Riga menatapnya dengan ekspresi benar-benar tidak percaya.

"..."

Di sampingnya, Mera memasang ekspresi yang sama bingungnya. Ia mencondongkan tubuh, berbisik pelan supaya hanya Riga yang dengar. "Ini... pernikahan atau orientasi karyawan baru?"

Riga menoleh pelan. "Aku juga mulai curiga."

Eza membuka halaman pertama dengan tenang, seolah tidak mendengar bisikan itu—atau memang tidak peduli.

📜 **PASAL 1**

"Pasal Satu." Suara Eza terukur, dingin. "Tujuan Pernikahan."

Ia melanjutkan, membaca setiap kata seperti seorang direktur yang membacakan visi misi perusahaan. "Menciptakan rumah tangga harmonis... menjaga citra keluarga... serta memastikan keberlangsungan kerja sama bisnis."

Standar Operasional Pernikahan (SOP)Stories to obsess over. Discover now