We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1.𝙋𝙚𝙣𝙙𝙖𝙛𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣🪼

16 4 3
                                        

Pagi itu di kediaman keluarga Barclays berjalan seperti biasa

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Pagi itu di kediaman keluarga Barclays berjalan seperti biasa. Di tengah kesibukan para staf yang hilir mudik di taman, dapur, dan halaman, sebuah ketenangan kontras terpancar dari ruang musik. Seorang gadis remaja cantik berambut tergerai duduk fokus di depan piano, sementara partitur musik terbuka di sampingnya. Di sofa mewah seberangnya, sang ibu, Liana, menikmati secangkir teh sambil sesekali bersenandung mengikuti alunan nada.

​Tak lama kemudian, kepala pelayan setengah baya masuk dan membisikkan sesuatu. Ekspresi Liana berubah drastis-terkejut dan seolah tak percaya.
Namun, ia dengan cepat mengontrol wajahnya, lalu memberi isyarat mata kepada guru piano untuk menyudahi pelajaran hari ini. Sepeninggal sang guru, Nicola langsung menghentikan permainannya.

​"Ada apa, Mommy? Masih ada 15 menit lagi sebelum kelas pianonya selesai, kan?" tanya Nicola kepada ibunya yang kini tersenyum manis.

​"Piano? Mommy punya kabar yang jauh lebih baik dan hebat daripada kelas pianomu itu," jawab Liana dengan mata berbinar.

​"Apa itu, Mommy? Apa yang membuat Mommy begitu bersemangat?"

​"Kamu diterima di Lancaster High School! Itu sekolah terbaik di seluruh negeri, sayang. Hanya 50 orang terpilih yang bisa masuk setiap tiga tahun sekali, dan kamu menjadi salah satunya!" seru Liana penuh kebanggaan.

​Nicola tersenyum tipis. "Ya, itu terdengar hebat, Mommy. Tapi... aku juga diterima di SMA impianku di London," ucapnya pelan, berharap sang ibu mau berkompromi kali ini.

​Seketika itu juga, senyum di wajah Liana lenyap. "London? Kamu diterima di sana? Menurutmu itu membanggakan? Tidak ada tempat yang lebih menjijikkan daripada tempat yang kamu sebut itu. Terdengar sangat tidak meyakinkan."

​Nicola menunduk, dadanya terasa sesak. Apa daya, membantah hanya akan membawa akhir yang buruk. Ia harus patuh.

​Liana kembali memasang senyum manisnya, lalu mengelus kepala putrinya yang tingginya kini telah menyamai dirinya. "Tidak ada sekolah manapun yang pantas selain Lancaster High School, sayang. Karena ini memang yang terbaik."

​Nicola hanya bisa tersenyum simpul dan mengangguk patuh.

​"Anak baik. Sebentar lagi Daddy akan pulang, kita akan membahas ini lebih lanjut. Sekarang, kembali ke kamarmu dan istirahatlah," ujar Liana sebelum beranjak pergi.

​Peninggalan sang ibu di ruang musik yang megah itu justru terasa begitu menyesakkan bagi Nicola. Ia menggigit bibirnya, berusaha keras menahan air mata sambil meremas erat kain rok yang ia kenakan.

........

AKSARANATA FAMILY.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
The coming NightStories to obsess over. Discover now