Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika memiliki kesamaan fakta, tempat, waktu, atau kejadian dengan dunia nyata, harap tidak dipermasalahkan terlalu jauh. Selamat membaca.
°°°
Musim dingin menyelimuti Kekaisaran Elarion dengan cengkeraman kuat. Langit dipenuhi awan kelabu menggantung rendah di cakrawala, lalu menumpahkan butiran salju sehingga menutupi atap-atap istana, pepohonan, serta halaman yang ramai oleh aktivitas para dayang. Angin pun ikut berembus melalui celah-celah jendela, membawa hawa sedih.
Di salah satu ruangan dalam istana, Lucien berdiri tegak di hadapan jendela tinggi berbingkai kayu hitam di setiap sisi. Kedua tangan ia terlipat di belakang punggung, embusan napas terlihat di udara, dan kepala ia sedikit tertunduk. Perhatian ia pun mulai melampaui apa yang ada di hadapannya sekarang ini.
Kepergian Elara menjadi duka yang belum mengering dalam keluarga kekaisaran. Lorong-lorong istana sempat dipenuhi tawa, sekarang terasa gelap gulita bak tidak ada cahaya. Tirai-tirai berwarna cerah diganti dengan kain bernuansa gelap sebagai tanda keluarga kekaisaran masih berkabung. Para dayang berjalan dengan langkah hati-hati, berbicara dengan volume kecil agar tidak mengusik. Bahkan para kesatria yang berjaga di tampak lebih kaku dari biasanya.
Lucien memejamkan mata sejenak. Bayangan Elara kembali muncul dengan jelas di penglihatan. Wajah yang cerah pada waktu itu, berubah pucat hanya dalam hitungan menit setelah meminum ramuan yang diberikan. Tubuh sang adik mendadak kejang-kejang hebat hingga terjatuh dari kursi. Busa putih keluar dari sudut bibir, sementara napas adiknya tersengal-sengal sebelum berhenti total. Jeritan para dayang, kepanikan tabib, dan tatapan putus asa Kaisar serta Permaisuri masih terukir tajam dalam benak ia. Tidak ada seorang pun yang mampu menyelamatkan adiknya.
Kenyataan itu menjadi luka yang menggerogoti jiwa Lucien. Sebagai seorang kakak, ia gagal melindungi adiknya. Kesedihan perlahan-lahan berubah menjadi amarah yang besar. Api mulai terpecik di sorotan matanya. Ia berpikir bahwa seseorang berencana merenggut nyawa adiknya. Pelaku itu sekarang sedang berkeliaran di luar sana.
Maka dari itu, sejak upacara pemakaman selesai dilaksanakan, Lucien mengerahkan beberapa tim penyidik terbaik yang dimiliki keluarga kekaisaran. Mereka berasal dari berbagai bidang, dimulai dari kesatria istana, penyelidik kekaisaran, ahli racun, serta para tabib yang mampu memahami berbagai jenis ramuan. Tidak ada satu pun petunjuk yang boleh diabaikan. Seluruh botol ramuan, bahan-bahan, catatan peracikan, para dayang yang bertugas hari itu diperiksa tanpa terkecuali.
Pikiran Lucien terus menyusun berbagai kemungkinan, mencari celah sekecil apa pun yang dapat mengarah kepada pelaku. Baginya, siapa pun orang itu, ia telah menantang keluarga kekaisaran secara terang-terangan dan berani mempermainkan hukum yang berlaku. "Tidak ada yang boleh terlewat sedikit pun!"
Lucien mengepalkan tangan begitu erat hingga buku-buku jari ia memutih. Rahang ia mengeras, napasnya tidak beraturan, gejolak amarah nyaris meledak untuk ditumpahkan. Pandangannya kembali ke salju yang turun. "Siapa pun pelakunya," ucapnya dengan suara rendah yang dipenuhi kemarahan, "dia harus mendapatkan konsekuensi yang setimpal dengan nyawa adikku."
Hamparan salju itu telah menjadi saksi bisu atas sumpah Lucien. Ia bergumam, "Hukuman mati harus dilakukan!" Kedua tangan ia memukul jendela dengan kegeraman tiada tara.
°°°
Bersambung.
Update episode selanjutnya, akan diliris besok.
Terima kasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
When the Moon Forget to Shine.
FantasyDi Kekaisaran Elarion, hiduplah seorang gadis bernama Lunaria def Rowan. Ia memiliki profesi sebagai soul healer, penyembuh jiwa. Ia mengabdikan dirinya untuk membantu orang-orang yang terluka atas batin masing-masing. Di balik ketulusan itu, ia men...
