We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Trah Jayengrat : Prolog

194 31 4
                                        

"Di tanah Jawa, darah bangsawan bukan sekadar garis keturunan. Ia adalah kehormatan yang diwariskan, janji yang dipahat pada batu, dan nama yang tak boleh bernoda oleh setitik cela."

Di jantung Pulau Jawa, berdiri sebuah kediaman megah yang seolah kebal oleh sangkala. Di balik dinding bata tebal, pilar-pilar kayu jati kuno, dan aroma melati yang bertautan dengan asap tipis kemenyan di waktu senja, berdiri sebuah nama yang namanya telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.

Trah Jayengrat.

Keluarga bangsawan terpandang yang dikenal bukan hanya karena kekayaan melimpah, melainkan juga pengaruh politis, kehormatan adat, dan kekuasaan mutlak yang sanggup meredam badai apa pun di bawah genggamannya. Mereka menguasai tanah, memimpin yayasan, menanam saham di perbankan, hingga memiliki hubungan erat dengan para petinggi negeri. Di mata masyarakat luas, keluarga Jayengrat adalah definisi kesempurnaan dan kemegahan yang tak tersentuh.

Namun, seperti ukiran kayu gebyok yang tampak begitu indah dari luar, selalu ada retakan kelam yang tersembunyi di dalam lekukannya.

Retakan itu bernama Raden Mas Arjuna Jayengrat.

Bagi dunia luar, Arjuna adalah sosok raja tanpa mahkota: dingin, berwibawa, dan tak memiliki celah. Namun, jauh sebelum wibawa itu membeku, hati Arjuna sejatinya hanya pernah bertekuk lutut pada satu nama sejak masa mudanya. Seorang gadis sederhana di bangku sekolah menengah atas bernama Laras.

Laras adalah tenang di tengah hiruk-pikuk. Tutur katanya yang lembut dan sorot matanya yang hangat mampu membuat dunia Arjuna berhenti bergerak sesaat. Arjuna mencintainya dalam diam yang teramat dalam. Mengantar pulang dari kejauhan, menunggu di balik gerbang sekolah hanya untuk memastikan Laras naik kendaraan dengan selamat, hingga menyimpan perasaan itu rapat-rapat di balik dada. Ia terlalu takut untuk bersuara, sebab ia ragu apakah dunia seorang bangsawan seperti dirinya pantas disandingkan dengan kepolosan Laras.

Namun takdir tak pernah memberi ruang untuk keberanian yang terlambat. Hari kelulusan menjadi hari terakhir Arjuna melihat Laras. Gadis itu menghilang tanpa pesan, tanpa perpisahan, dan tanpa janji untuk kembali─meninggalkan Arjuna yang terjebak dalam kerinduan tanpa muara.

Tahun-tahun berlalu, tetapi nama Laras mengendap abadi di dada Arjuna. Hingga dalam sebuah malam di masa lalunya yang kelam, saat rasa frustrasi dan pengaruh alkohol menghancurkan akal sehat, Arjuna melakukan satu kesalahan fatal.

Kesalahan satu malam yang berbuntut panjang.

Beberapa minggu setelahnya, seorang perempuan datang, membawa kabar yang paling tak ingin didengar oleh keluarga bangsawan mana pun: ia mengandung darah daging Arjuna. Tidak ada cinta di sana. Tidak ada hubungan. Hanya manipulasi dan kesalahan fatal yang terlambat disesali.

Sebagai calon tunggal pewaris Trah Jayengrat, Arjuna tahu satu hal: skandal tidak boleh melompati tembok rumahnya.

Dengan dingin dan penuh kalkulasi, Arjuna memindahkan perempuan itu ke sebuah rumah terisolasi yang seluruh kebutuhannya ditanggung penuh. Ditinggikan fasilitasnya, namun dijaga begitu ketat dari sorotan publik hingga hari persalinan tiba. Saat tangis pertama bayi laki-laki itu menggema memecah sunyi, Arjuna menatapnya cukup lama sebelum merengkuhnya untuk pertama kali.

"Namamu..." bisik Arjuna, matanya menatap tajam sang bayi."...Raden Raka Wiratama Jayengrat."

Namun, belas kasihan Arjuna berhenti di sana. Beberapa hari setelah kelahiran sang putra, seluruh dokumen hukum dipersiapkan tanpa cela. Kuasa hukum terbaik, hak asuh penuh, dan perjanjian tertulis yang mustahil dilawan oleh rakyat biasa. Perempuan itu berlutut, menangis, dan memohon agar tak dipisahkan dari darah dagingnya. Tetap saja, di mata Arjuna, perempuan itu adalah ancaman bagi masa depan putranya dan trah keluarganya.

Arjuna berdiri tanpa sedikit pun perubahan raut wajah. Tatapannya sedingin es.

"Mulai hari ini," ucap Arjuna datar, suaranya bak vonis mati. "Anak ini adalah putraku. Dan dunia tidak perlu tahu siapa perempuan yang telah melahirkannya."

Hari itu juga, perempuan tersebut disingkirkan jauh-jauh. Namanya dihapus dari lembaran hidup Raka, jejaknya dilenyapkan. Bagi dunia, Raden Raka Wiratama Jayengrat lahir sebagai putra tunggal bangsawan tanpa seorang ibu.

Lima tahun berlalu dalam heningnya Ndalem Jayengrat. Raka tumbuh menjadi bocah yang cerdas, tenang, dan memiliki sorot mata setegas ayahnya. Meski Arjuna bukan sosok yang pandai menunjukkan kehangatan, ia melimpahi Raka dengan perlindungan dan fasilitas tanpa batas.

Hingga suatu sore di sebuah acara amal, takdir yang tertidur kembali terbangun. Arjuna dipertemukan kembali dengan bayang-bayang yang selama belasan tahun menguasai hatinya: Laras.

Namun kali ini, Laras tidak berdiri sendiri. Di sampingnya, menggandeng jemari Laras dengan erat, berdiri seorang putri kecil berusia lima tahun. Gadis kecil bermata bulat dan tersenyum manis yang begitu mirip dengan ibunya: Ratih Candrakirana.

Arjuna terpaku. Seluruh benteng dingin yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat Laras menatapnya dan tersenyum kecil.

"Sudah lama ya, jun..."

Kalimat sederhana itu menyiram tanah tandus di hati Arjuna. Pertemuan demi pertemuan berikutnya tak lagi terasa seperti kebetulan. Dua orang dewasa yang sama-sama membesarkan anak seorang diri perlahan menemukan rumah di dalam diri satu sama lain. Arjuna yang biasanya kaku mulai kembali mengenal arti senyuman, sementara Laras menemukan sosok pelindung yang tak akan pernah membiarkannya berjalan sendiri.

Di sisi lain, kedua anak mereka─Raka dan Ratih─dengan begitu cepat menjalin ikatan. Dua anak kecil yang tumbuh di lingkungan kaku itu bermain bersama di pendopo, belajar bersama, hingga saling bersandar saat kelelahan.

Satu tahun kemudian, saat Raka dan Ratih genap berusia enam tahun, Arjuna mengumpulkan seluruh keberaniannya. Di bawah langit senja yang memerah, Arjuna menyatakan perasaan nya.

"Laras... aku memang terlambat menemukanmu lagi. Tapi kalau Tuhan masih mengizinkan, izinkan aku menghabiskan sisa hidupku bersamamu dan melindungimu."

Laras meneteskan air mata bahagianya dan mengangguk. Pernikahan megah berbalut adat Jawa digelar sakral. Laras resmi menyandang gelar Raden Ayu Laras Jayengrat.

Empat jiwa kini hidup di bawah satu atap yang sama. Mereka tertawa, saling menjaga, dan tumbuh menjadi gambaran keluarga bangsawan paling sempurna di mata dunia.

Namun, waktu adalah dalang yang menyimpan belati di balik punggungnya.

Sepuluh tahun berlalu di bawah naungan pendopo Jayengrat yang tenang. Dua anak kecil yang dahulu saling berbagi mainan kini menjelma menjadi remaja berusia enam belas tahun. Di antara lorong-lorong megah rumah tua itu, rasa asing di dalam trah dan perlindungan mendalam satu sama lain perlahan bergeser menjadi sesuatu yang berbahaya.

Tanpa disadari oleh siapa pun, di sudut-sudut kediaman Jayengrat yang sakral, benih-benih cinta terlarang mulai tumbuh melekat di hati Raka dan Ratih. Sebuah rahasia manis yang sekaligus menjadi awal dari benturan berdarah.

Sebab bagi Raden Mas Arjuna Jayengrat, tak ada satu pun aturan di rumahnya yang boleh dilanggar─terutama jika itu mengancam keharmonisan rumah tangganya dengan Laras dan mencoreng nama besar Jayengrat.

"Selagi Arjuna Jayengrat masih bernapas, Raka dan Ratih tidak akan pernah bersatu."

Trah JAYENGRATStories to obsess over. Discover now