Tok ... tok ... tok ....
"Sebentar!" Azizy yang di rumah sendirian, terpaksa membukakan pintu ketika ada yang mengetuknya.
Ceklek.
Azizy menatap aneh pada laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dia Isa—Pacar Azizy yang sudah putus nyambung entah berapa kali selama mereka pacaran, dari SMA dan sekarang sudah kuliah.
"Loh? Tumben ke sini ga bilang-bilang?" tanya Azizy. "Ayo masuk!"
Isa menggeleng, menahan tangan Azizy yang sudah akan membuka pintu lebih lebar. Isa dengan perlahan meletakkan sebuah kertas di atas tangan Azizy yang masih dipegangnya. "Aku cuma mau nganterin ini."
"Ini apa?" Perasaan Azizy sudah tidak enak. Kertas undangan apa ini? Azizy buka perlahan lalu dibacanya.
Undangan Pertunangan Isa & Luna
Baru membaca judulnya saja sudah membuat jantung Azizy seperti berhenti sejenak. Deg! Setelahnya, dengan wajah bingung dan tidak terima, Azizy menatap bola mata sang pacar. "Ini apa sih? Kamu ngerjain aku? Jangan kelewatan gini dong."
"Enggak. Ini serius." Isa memejamkan matanya sejenak, menelan ludah. Dari rumah sudah menyusun kalimat dengan baik tapi ketika sampai di depan Azizy, Isa membeku. Semua kalimat yang ia susun, seketika lenyap, tidak mampu terucap selain yang sudah keluar itu. Dan ... "Maaf, kita putus ya."
Azizy dibuat melongo dengan ucapan Isa. Mulutnya terbuka dengan mata yang bergerak-gerak menelusuri setiap sudut mata lawan bicaranya itu. Biasanya, mereka memang mengatakan kata putus berulang kali, seperti sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, kali ini rasanya berbeda. Putusnya bukan karena Azizy marah-marah mulu atau karena Isa ketahuan jalan dengan perempuan lain. Putus kali ini disertai lampiran sebuah undangan pertunangan.
"Aku pamit yaa." Isa menghela napas, menunduk sejenak sebelum berbalik badan, meninggalkan Azizy.
Pamit apa nih? Pamit pulang atau pamit pergi dari hidup Azizy?
Rasanya jadi lebih sakit, lebih terasa menyiksa dari belasan kali putus yang sebelumnya. Azizy sampai berkali-kali meyakinkan diri sendiri kalau ini sungguhan. Apalagi setelah motor Isa pergi meninggalkan rumahnya.
Kali ini Azizy takut. Takut sudah tidak bisa balikan lagi. Tangan yang memegang undangan pertunangan Isa dengan perempuan lain itu sudah lemas, tidak memiliki tenaga hanya untuk memegang sebuah kertas yang ringan itu.
Undangan itu jatuh, Azizy memandangi proses jatuh tersebut hingga kertas yang isinya tidak pernah ada di bayangan Azizy pun menyentuh lantai teras rumahnya. Ini ... terlalu sakit.
Tidak ada foto di undangan tersebut, tapi nama perempuan itu bukan Azizy. Sial! Azizy lemah soal Isa.
Sejak kedatangan Isa siang itu, sampai malam Azizy tidak memiliki mood untuk melakukan apa pun. Hanya bengong, tiduran, duduk, bengong lagi. Nangis juga sesekali. Tapi ... tidak meledak.
Ini beneran Azizy ditinggal tunangan oleh Isa?
*****
Isa berdiri dengan bersedekap dada di sebuah toko perhiasan. Cowok itu dipaksa ibu negara alias sang mama tercinta untuk ikut membeli cincin pertunangannya dengan ... Ah! Bahkan namanya saja malas untuk Isa sebut.
Luna—perempuan yang sama-sama dipaksa untuk bertunangan oleh orang tua mereka. Mereka sudah berusaha menolak sejak ... sangat lama. Sejak awal masuk SMA mungkin? Pokoknya, setelah tahu keluarga mereka akan melakukan perjodohan, Isa dan Luna kompak untuk menolak.
Bertahun-tahun mereka mencoba membuat keluarga satu sama lain tidak setuju dan membatalkan rencana gila mereka. Isa yang selalu aktif dengan asrama putri di kontak ponselnya alias menjadi playboy kelas kakap, sedangkan Luna menolak dengan jadi perempuan nakal.
Rencana perjodohan mereka sempat reda di tengah jalan, namun mencuat ke permukaan lagi begitu keduanya lulus SMA. Kedua keluarga semakin gencar mengadakan pertemuan, membuat kebetulan-kebetulan agar Isa dan Luna bertemu dan membentuk bonding sebagai pasangan. Sia-sia! Bahkan sampai hari ini, hari di mana mereka memilih cincin pertunangan, belum ada yang jatuh cinta satu sama lain.
Sialnya, Isa malah jatuh cinta pada salah satu perempuan yang menjadi permainannya sejak SMA. Perasaan Isa berbeda ketika dihadapkan dengan Azizy, Isa punya rasa tidak tega untuk mempermainkan cewek itu, meski pada akhirnya tetap mempermainkan dan menyakiti Azizy berkali-kali.
Hebatnya, Azizy tidak pernah menyerah. Dari banyaknya perempuan yang jadian lalu putus dengan Isa, hanya Azizy yang balikan lagi dan lagi setiap putus. Cewek itu seperti tidak peduli seberapa banyak Isa menyakitinya, sampai Isa sendiri heran.
"Isa?"
"Iya, Zy?" Isa langsung mengulum bibirnya begitu melihat perubahan ekspresi perempuan yang ada di hadapannya itu. Yang semula tampak cuek, langsung berubah kecewa.
"Eh! Iya, kenapa Lun?" Isa segera meralat ucapannya sendiri karena sudah mendapat tatapan mematikan dari ibunya.
"Menurut kamu bagusan yang mana? Sini ikut milih!" Luna mengajak Isa untuk ikut ke depan, melihat-lihat model cincin tanpa keduanya punya minat untuk memilikinya.
Isa asal tunjuk saja. "Ini?!"
"Oke. Bagus kok." Jawaban Luna begitu tapi ternyata perempuan itu memilih cincin yang bukan Isa tunjuk. Padahal jari Isa masih di sana loh, kok malah mengambil yang lain? Membuat Isa menghela napas saja.
"Mau yang ini aja, Mbak. Cantik modelnya." Luna menyerahkan cincin itu kepada petugas toko emas dengan raut wajah tak bersalah.
Isa kembali memundurkan langkahnya, bersedekap dada hingga sikunya menyenggol Luna sebagai pelampiasan rasa kesal. "Nih cewek maunya apa sih," gerutu Isa.
Acara mencari cincin itu memang sebenarnya tidak butuh Isa di sana, makanya Isa malas sekali ikut, masih ingin meresapi rasa sakit atas putusnya ia dengan Azizy tapi malah sudah diajak ke tempat tidak penting seperti ini. Memilih cincin pun untuk apa? Ujung-ujungnya juga bisa jadi Isa buang karena ketidaksetujuannya atas pertunangan yang tiba-tiba ini. Em ... sebenarnya tidak tiba-tiba, hanya terasa terlalu cepat untuk Isa.
"Sudah dapat. Kalian mau lanjut jalan? Makan malam berdua?" tanya ibu Isa sembari memperbaiki posisi tas brandednya.
Isa dan Luna kompak menggelengkan kepala, namun tetap saja langsung ditinggal berdua oleh ibu Isa. Jadi, mau tidak mau Isa harus mengantarkan Luna pulang. Sepanjang jalan, Isa benar-benar diam, kepikiran terus soal Azizy. Pacar ... em! Mantannya itu sekarang sedang apa ya? Apakah dia akan biasa saja, sama sepertinya yang banyak bengong, menangis, atau malah lebih parah.
Ingin rasanya Isa mendatangi Azizy lagi tapi untuk apa? Tidak ada yang bisa diubah, cincin sudah dibeli, undangan sudah disebar, calon tunangannya sudah ada di belakangnya, duduk diam memandangi sekeliling kota di atas motor Isa yang melaju perlahan.
Tidak apa percakapan, tidak ada senyum, dan tidak ada interaksi lebih selain sekadar Isa mengantarkan Luna pulang dengan selamat. Dua-duanya canggung, sama-sama tidak setuju namun juga sama-sama tidak bisa berbuat apa-apa. Yang sekarang sudah di depan mata, harus tetap dilaksanakan. Pertunangan mereka berdua.
Tidak ada kata hati-hati dari Luna untuk Isa ketika sampai rumah, hanya ucapan terima aksih singkat saja. Dari Isa juga tidak ada kalimat "salam buat papa mama dan keluarga" seperti pasangan atau tamu pada umumnya. Mereka seformalitas itu menjalani hubungan.
Isa sempat berpikir untuk melajukan motornya kembali ke rumah Azizy, mengecek keadaan perempuan itu. Namun, sepertinya mengganggu. Jadi, biarkan saja Azizy dengan surat undangan pertunangannya itu, mungkin anaknya sedang bengong.
Pikiran kosong Isa membawanya sampai di jalanan sepi, sangat sepi dan gelap. Menjadikannya tempat untuk merenung. Hari ini, Isa menyakiti Azizy lagi, untuk kesekian kalinya.
*****
Jangan lupa like, comment, and share yaaa~
Cuma iseng-iseng nulis cerita ringan di saat lagi stress nulis cerita yang berat-berat, hehee~
See yaaa~
YOU ARE READING
TOXIC LOVE
RomanceSetelah berkali-kali putus nyambung, hubungan cinta Isa dan Azizy masih bisa terus kembali lagi dan kembali lagi. Hingga putus yang kali ini, mereka rasa tidak akan bisa balikan lagi. Isa memutuskan Zia dengan membawa undangan pertunangan dengan pe...
