Prolog

62 7 2
                                        

​Pandangan Jeviana mengabur. Aspal jalanan yang dingin terasa kian akrab dengan tubuhnya yang limbung. Rasa sakit akibat tusukan di perutnya perlahan mati rasa, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar ke seluruh dada. Di sekelilingnya, siluet orang-orang yang menyerangnya perlahan menjauh, meninggalkan Jeviana sendirian bersama pekatnya malam.

​Apakah aku akan mati? tanyanya dalam hati. Sepi. Tidak ada jawaban.

​Ma, Pa, aku akan menemui kalian di sana. Jeviana tersenyum getir, setitik air mata jatuh melewati pelipisnya. Maaf aku gak bisa hidup sesuai dengan keinginan kalian. Dan... Jean... maafkan aku.

​Bayangan senyum ceria Jeanice membanjiri benaknya. Senyum yang enam tahun lalu ia padamkan dengan tangannya sendiri. Rasa bersalah itu jauh lebih menyakitkan daripada mata pisau yang menembus kulitnya tadi.

​Seandainya aku dikasih kesempatan untuk kembali ke masa lalu, aku akan mencintaimu dengan benar, Jean. Aku gak akan nyakitin kamu lagi, Sayang. Aku akan lindungin kamu jika kejadian di hari itu terulang. Bila perlu... aku akan menukar nyawamu dengan nyawaku.

​Napas Jeviana kian berat, menyisakan satu-satu kepulan tipis di udara malam.

​Aku ingin bertemu denganmu lagi.

​"Sekali lagi... sekali lagi." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar di antara deru angin.

​"Tolong... Sekali lagi."

​Dunia Jeviana menggelap total. Detak jantungnya berhenti.

​Jeviana tersentak. Belum sempat jiwanya mencerna kegelapan, ia menghirup oksigen dengan rakus seolah baru saja ditarik paksa dari dasar samudra yang dalam. Dadanya naik-turun dengan hebat, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdentum liar.

​Secara refleks, tangan Jeviana langsung meraba perutnya. Bersih. Tidak ada lubang robek, tidak ada cairan anyir yang membasahi jemarinya.

​Netranya mengerjap berkali-kali, berusaha menghalau rasa pening yang mendera kepalanya. Begitu pandangannya memusat, Jeviana terpaku. Langit-langit ruangan itu... bercat putih bersih. Bukan langit malam bertabur bintang yang dingin.

​Ia bangkit duduk dengan tubuh gemetar, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Jeviana hafal betul sudut-sudut ini. Ranjang berseprai abu-abu gelap, meja kerja dengan tumpukan buku kuliah yang rapi, dan aroma parfum maskulin bercampur kayu manis yang menguar di udara.

​Ini kamarnya. Kamar lamanya, bertahun-tahun lalu sebelum penyesalan mengubah tempat ini menjadi penjara yang berantakan dan pengap.

​Jeviana meraih ponsel di atas nakas dengan tangan yang masih gemetar. Layarnya menyala, menampilkan sebuah tanggal yang membuat napasnya seketika tercekat. Angka tahun di sana bergerak mundur jauh sebelum malam terkutuk itu terjadi.

​Air matanya luruh begitu saja, tapi kali ini bukan karena rasa sakit. Semesta ternyata tidak bercanda. Semesta benar-benar mendengarkan jeritan batinnya yang sekarat.

​Dia kembali. Dia benar-benar kembali ke masa di mana Jeanice masih ada di dunia ini, bernapas di bawah langit yang sama.

​"Jean..." bisik Jeviana lirih, mendekap ponselnya ke dada seiring dengan sumpah baru yang membakar jiwanya. "Tunggu aku, Sayang. Kali ini... aku gak akan lepasin kamu."

















Visual :

​Jeviana Renjanu, Jeviana adalah sosok yang sangat sulit mengekspresikan emosi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

​Jeviana Renjanu, Jeviana adalah sosok yang sangat sulit mengekspresikan emosi. Baginya, menunjukkan perasaan merupakan sebuah tanda kelemahan. Sifat kaku inilah yang membuatnya sering bersikap abai serta semena-mena terhadap Jeanice.

​Walaupun dari luar tampak tidak peduli, Jeviana sebenarnya memiliki rasa kepemilikan yang sangat tinggi terhadap Jeanice. Dia paling tidak suka jika ada orang lain-terutama laki-laki-yang mendekati kekasihnya. Sayangnya, rasa tidak suka ini sering kali tersalurkan lewat amarah dan cemburu buta yang meledak-ledak.

Dia lebih memilih pergi dan memendam asumsinya sendiri daripada harus duduk tenang untuk mendengarkan penjelasan Jeanice.

​Kehidupan Kedua (Setelah Kembali ke Masa Lalu)

​Jeviana membawa ingatan kelam selama 6 tahun mengurung diri dan momen kematian Jeanice. Dia sering didera rasa cemas berlebih (anxiety) jika melihat Jeanice terluka sedikit saja atau berada dalam situasi yang mirip dengan masa lalu.

Pada dasarnya dia tetaplah Jeviana yang kaku. Namun, demi tidak mengulangi kesalahan yang sama, dia mati-matian belajar untuk menurunkan egonya, lebih peka, dan menahan amarahnya. Proses saat dia mencoba bersikap hangat kepada Jeanice yang belum mengenalnya akan terlihat manis sekaligus canggung.

​Fokus hidupnya kini hanya satu, memastikan Jeanice tetap hidup dan bahagia, bahkan jika dia harus menukar nyawanya sendiri untuk menghadapi musuh keluarganya di masa depan.​

Jeanice Anindita, Jeanice adalah sosok yang mudah bergaul, ramah kepada siapa saja, dan selalu melihat sisi baik dari segala hal

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Jeanice Anindita, Jeanice adalah sosok yang mudah bergaul, ramah kepada siapa saja, dan selalu melihat sisi baik dari segala hal. Dia adalah seorang karyawan pekerja keras (sampai rela lembur di kantor) dan sangat disayangi oleh teman-temannya.

​Di balik senyum cerahnya, Jeanice sebenarnya menyimpan perasaan yang sangat sensitif. Saat dia mencintai seseorang, dia akan memberikan 100% hatinya dan rela bertahan meski pasangannya bersikap dingin. Namun, jika batas kesabarannya sudah habis dan hatinya benar-benar hancur, dia bisa menyerah sepenuhnya pada hidup.

Jeanice selalu bisa merasakan jika ada hal yang tidak beres dengan orang-orang di sekitarnya.

​Dinamika di Kehidupan Kedua (Saat Belum Mengenal Jeviana)

​Bingung dan Penasaran: Karena di lini masa ini mereka adalah orang asing, Jeanice akan merasa bingung mengapa seorang Jeviana Renjanu-gadis yang terkenal dingin dan sulit didekati-tiba-tiba selalu muncul di sekitarnya, menatapnya dengan pandangan penuh kerinduan, kesedihan, sekaligus rasa ingin melindungi yang begitu besar.

​Meski awalnya merasa aneh dengan perlakuan Jeviana yang kadang terlalu protektif, kehangatan tersembunyi Jeviana perlahan-lahan akan membuat Jeanice kembali tertarik dan jatuh cinta dengan cara yang lebih sehat dibandingkan kehidupan pertamanya.


Echoes of YouStories to obsess over. Discover now