Bab I - Broken Home

5 0 0
                                        

Rumah Pertama yang Mengajarkan Luka

"Rumah seharusnya menjadi tempat pulang, bukan tempat pertama mengenal kehilangan."

Ada suara yang hingga hari ini masih kuingat dengan sangat jelas. Bukan suara hujan yang menenangkan, bukan tawa keluarga saat makan malam, apalagi cerita sebelum tidur yang sering diceritakan orang-orang tentang masa kecil mereka.

Yang kuingat justru adalah suara bentakan.

Bentakan yang datang hampir setiap hari, seolah menjadi bahasa yang paling sering digunakan di rumahku. Suara itu memecah kesunyian, memenuhi setiap sudut rumah, lalu menetap lama di dalam kepalaku. Semakin keras suaranya, semakin kecil aku merasa.

Aku tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang diperdebatkan. Sebagai seorang anak, aku hanya tahu bahwa setiap kali suara itu mulai terdengar, dadaku ikut sesak. Jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku dingin. Aku hanya ingin semuanya segera berhenti.

Tidak ada ruang yang aman untukku, aku tidak memiliki kamar seperti kebanyakan anak diluar sana. Kadang aku hanya berpura terlelap seolah tidak mendengar semuanya sambil penuh harap suara itu lekas hilang dari telingaku. Tapi ternyata meskipun hilang, ia juga tetap tinggal di dalam hati

Ada banyak malam-malam ketakutan yang aku lalui. Bukan karena takut gelap, tetapi karena takut melihat dua orang yang paling kucintai saling melukai dengan kata-kata. Rasanya seperti berdiri di tengah badai tanpa tahu harus berlindung ke mana.

Lucunya, keesokan paginya aku tetap harus pergi ke sekolah. Mengenakan seragam yang rapi, tersenyum kepada teman-teman, dan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang tahu kalau semalam aku hampir tidak bisa tidur karena suara bentakan yang terus terngiang di kepalaku.

Orang-orang sering berkata bahwa anak kecil akan lupa. Nyatanya, sampai saat ini aku tidak lupa. Yang terlupakan mungkin alasan mereka bertengkar, tetapi rasa takut yang kuterima malam itu tumbuh bersamaku hingga dewasa.

Bentakan-bentakan itu perlahan mengajariku banyak hal yang seharusnya tidak dipelajari seorang anak. Aku belajar membaca suasana hati orang hanya dari nada bicara. Aku belajar diam agar tidak menjadi alasan kemarahan. Aku belajar menahan tangis karena merasa menangis tidak akan mengubah apa pun.

Sejak saat itu, rumah bukan lagi tempat yang membuatku merasa aman. Rumah berubah menjadi tempat yang membuatku selalu waspada.

Dan mungkin, di situlah luka itu pertama kali lahir. Bukan karena pukulan, bukan karena kebencian yang terlihat, tetapi karena bentakan-bentakan yang perlahan mengajarkanku bahwa bahkan tempat yang seharusnya paling nyaman pun bisa menjadi tempat yang paling menyakitkan.

Lahir dari Luka, Hidup dengan HarapanHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora