Prolog

869 256 57
                                        

Wajib baca Forbidden Vanilla dulu baru baca ini~

Playlist: Celine Dion - To Love You More

Playlist: Celine Dion - To Love You More

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

-

-

Pagi-pagi sudah ada keributan besar di rumah Harsa. Bukan kebakaran atau gempa bumi melainkan suara dari pengeras suara yang cukup mengganggu ketenangan sarapan pagi sang pemilik rumah. Seperti sedang orasi di depan kantor parlemen untuk menuntut hak rakyat.

Suara dan kalimat diucapkan secara lantang diulangi secara terus-menerus sampai sang pemilik rumah keluar bersama anggota keluarga lainnya, termasuk Hiranya yang sedang menetap di sana. Jarak antara sang pembicara dan anggota keluarga tidak begitu jauh sehingga saat kalimat diucapkan melalui pengeras suara, mereka dapat mendengarnya.

"Harsa Prabawa Soedjatmiko, izinkan saya menikahi Hiranya untuk kedua kalinya. Saya nggak akan menyia-nyiakan Hiranya seperti dulu. Saya janji."

Kalimat yang sama terucap. Hiranya cukup kaget mendapati Wistara dengan beraninya berdiri di depan pintu rumah Harsa sambil memegang pengeras suara di tangan dan menyampaikan keinginannya secara terang-terangan. Hiranya ingin tertawa, tetapi dia menahan diri. Ternyata maksud Wistara akan berusaha keras untuk mendapatkan kesempatan adalah dengan cara gila seperti ini.

"Kamu gila ya ganggu orang?" maki Harsa kesal.

Tanpa tahu malu Wistara tak berhenti mengulang kalimat yang sama seperti robot yang hampir rusak sehingga apa pun yang Harsa katakan tidak terdengar. Beberapa sekuriti yang menjaga rumah berusaha menghalau, tetapi karena perbedaan tinggi yang cukup jauh, mereka kesulitan merampas pengeras suara tersebut. Walau sudah berjinjit pun dan menarik paksa dari tangan Wistara, tetap saja gagal. Sayang sekali tidak ada ajudan yang datang. Hari Sabtu dan Minggu para ajudan libur. Kalaupun ada yang datang tentu atas permintaan Harsa.

Harsa begitu jengkel dengan kalimat yang diucapkan. Dia masuk ke dalam rumah, meninggalkan tanda tanya di kepala Sarayu dan Hiranya mengapa Harsa pergi begitu saja.

"Nggak nyangka Mas Wistara bisa berbuat nekat begini," bisik Sarayu di telinga sang adik ipar.

"Iya, kirain nggak aneh-aneh," balas Hiranya berbisik.

Hiranya menatap lurus memandangi Wistara masih dengan mode serius dan wajah datarnya. Tak berhenti mengulang kalimat yang sama dan gigih menyingkirkan para sekuriti supaya tidak diganggu. Hiranya menahan senyum. Seminggu telah berlalu sejak mereka bertemu dan ternyata persiapan Wistara sudah cukup matang.

Suara berulang berhenti kala bunyi letusan pistol terdengar. Hal itu mengejutkan semua orang dan membuat suasana menjadi sunyi. Muncul-muncul Harsa memegang pistol dengan wajah galak, mengarahkan ujung pistol ke arah Wistara setelah menembakkan peluru ke pohon yang dia targetkan untuk mensunyikan suasana. Para sekuriti menyingkir sebelum kena sasaran.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Dear, HiranyaStories to obsess over. Discover now