Kata "iblis" saja tidak cocok untuknya, dia bahkan lebih cocok jika disebut dewa sekte iblis. Jaguar merupakan nama yang tak ingin di dengar oleh sebagian besar orang, jangankan berurusan dengannya, menyebut namanya saja orang-orang tidak berani.
N...
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.
Ada bau yang tidak akan pernah bisa dilupakan Noire seumur hidupnya-campuran darah kering, dupa murahan, dan keringat ketakutan yang menempel di dinding batu ruang bawah tanah ini. Bau itu meresap ke dalam pakaiannya, ke dalam rambutnya, seolah ingin menandainya sebagai barang dagangan bahkan sebelum ia benar-benar dijual.
Ia duduk bersandar pada dinding lembap, pergelangan tangannya terikat rantai tipis yang memancarkan cahaya biru pudar-rantai penekan sihir, benda terkutuk yang membuat kekuatan di dalam dirinya tertidur seperti binatang yang dibius. Dua puluh dua tahun ia hidup sebagai anak seorang penyihir buronan, berpindah dari satu kota ke kota lain, bersembunyi dari orang-orang yang memburu darah violet dalam nadinya. Dan malam ini, pelarian panjang itu berakhir di tempat paling hina yang bisa ia bayangkan: Pasar Gelap Vaelthorn, tempat segala sesuatu-dan segala orang-bisa dibeli asalkan harganya cukup tinggi.
Di sekelilingnya berjajar sangkar-sangkar besi, disusun rapi seperti kandang ternak di pasar hewan. Namun isinya bukan hewan. Di sangkar sebelah kiri, seorang gadis peri meringkuk dengan sayap yang sengaja dipatahkan oleh penculiknya-agar ia tak bisa terbang kabur meski rantainya lepas. Matanya kosong, seakan jiwanya sudah lama pergi meninggalkan tubuhnya di tempat ini. Di sangkar seberang, seorang pemuda bertanduk domba duduk membisu, luka cambuk masih basah di punggungnya, tanda bahwa ia pernah mencoba melawan dan gagal.
Noire menghindari menatap mereka terlalu lama. Ia tahu jika ia membiarkan dirinya benar-benar merasakan kengerian tempat ini, ia tidak akan sanggup berdiri tegak saat gilirannya tiba.
"Sepuluh menit lagi," bisik seorang penjaga sambil lewat, menyeringai pada barisan tawanan seolah mereka lelucon pribadinya. "Bersiaplah tersenyum manis untuk tuan-tuan yang terhormat."
Noire tidak menjawab. Ia telah belajar bahwa kata-kata hanya membuang tenaga yang bisa ia simpan untuk hal lain-untuk mengamati, untuk berpikir, untuk mencari celah sekecil apa pun. Bertahun-tahun berpindah kota bersama ibunya mengajarkannya satu hal penting: bahkan di ruang paling gelap sekalipun, selalu ada pintu, meski tersembunyi.
Tapi malam ini, ruang bawah tanah ini terasa seperti kuburan tanpa pintu.
***
Ruang lelang berada satu lantai di atas kandang-kandang tawanan, sebuah aula batu tua yang dulunya mungkin adalah gudang anggur bangsawan sebelum dialihfungsikan menjadi tempat paling kejam di seluruh Vaelthorn. Obor-obor menyala di sepanjang dinding, nyala apinya berkedip-kedip seperti mencoba menyembunyikan diri dari apa yang terjadi di bawahnya. Kursi-kursi berukir tersusun menghadap panggung kayu reyot di tengah ruangan, dan satu per satu, para pembeli mulai berdatangan.
Mereka datang dari berbagai penjuru dunia gelap: bangsawan-bangsawan yang menyembunyikan wajah di balik topeng emas, pedagang budak dari negeri seberang lautan dengan jubah sutra mahal, seorang penyihir tua berjari-jari penuh cincin kutukan yang berdenting pelan setiap kali ia bergerak. Mereka semua punya satu kesamaan-mata yang menilai segala sesuatu di depan mereka seolah harga adalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami.