We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Tidak Mau Bertanggung Jawab

27 4 2
                                        

Dion menatap Talia dengan mata yang hampir membulat sempurna. Siapa sangka, gadis yang ia pacarin secara main main itu tengah menunjukan hasil tes kehamilan dengan dua garis merah di tengah. Menunjukkan tanda positif, gadis itu hamil anaknya.

"Jangan bercanda, Talia!!" ketus Dion sambil menghempaskan alat tes itu. Benda berwarna pink seperti termometer itu melayang hingga jatuh ke tanah belakang gedung sekolah.

"Mana mungkin bayi itu milik gue, bisa saja kan elo tidur sama cowok lain." Dion menyangkalnya.

"Mana mungkin, Dion!! Gue cuma tidur sama elo!! Elo tahu sendiri gue masih prawan pas tidur sama elo!!" teriak Talia tak kalah kencang, ia hampir menangis karena alih alih bertanggung jawab Dion justru menuduhnya sebagai cewek murahan.

"Buktinya mana kalau anak itu anak gue??"

"Lakuin tes DNA!! Gue siap!!" sahut Talia ia yakin seratus persen anak yang ada di dalam rahimnya itu anak Dion karena cuma Dion yang pernah tidur bersamanya.

"Pokoknya gue nggak mau tanggung jawab!! Mending elo gugurin aja! Bentar lagi kita lulus!! Emangnya elo ga takut di DO??" Dion membentak Talia dengan nada dingin dan kejam seakan akan anak di dalam kandungan Talia bukanlah sesuatu yang berarti. "Singkirin selagi cuma gumpalan daging, belum punya nyawa!"

"Kau bilang apa??" Talia syok, tak menyangka pria yang ia cintai sepenuh hati itu tega berkata kata kejam dan tanpa perasaan.

"Ini anakmu, Dion!!" Talia menggenggam tangan Dion, tentu saja untuk menyadarkannya akan arti cinta dan kasih sayang di antara mereka.

"LEPAS!!" Namun yang ada justru tatapan hinaan dan hempasan kuat yang membuatnya terpental ke belakang.

Talia terjatuh, pantatnya menyentuh tanah kering yang berdebu. Tatapan matanya kabur seiring dengan luapan air mata yang mulai tergenang. Dion tidak membantunya bangun, tatapannya justru merendahkan dan juga dingin hingga mencekut tulang.

"Kita putus!! Dasar cewek sial," umpat Dion lalu pergi meninggalkan Talia yang menangis sendirian.

Talia menggenggam ujung rok abu abu mencoba untuk bertahan dengan sisa sisa harga diri.

Kenapa semuanya ini bisa terjadi??

Kenapa dia begitu bodoh hingga bisa jatuh dalam bujuk rayu seorang pria??

Kenapa ia begitu mudah jatuh cinta hingga menganggap remeh harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita??

****************

Dion Adhi Pratama adalah seorang kapten tim basket, ketua OSIS, dan juga juara pertama satu angkatan. Wajah tampan yang maskulin dan tubuh tinggi tegap selalu menjadi daya tariknya yang paling utama. Sayangnya prestasi dan wajah tampannya sangat berbanding terbalik dengan kepribadiannya.

Sementara Talia adalah gadis dari keluarga sederhana yang hidup berdua dengan ibunya. Sang ayah sudah meninggal saat Talia berusia lima tahun. Setelah sepeninggalan sang ayah, Ibu Talia bekerja banting tulang untuk menghidupi anak gadisnya sampai SMA dan tidak pernah menikah lagi.

Talia tumbuh tanpa kehadiran sosok lelaki, tidak ada yang membantunya mengenal seperti apa sosok lawan jenis itu kepadanya. Sang ibu yang berpendidikan rendah juga tidak mengerti tentang edukasi s3ks sejak dini. Dia hanya selalu mewanti wanti Talia agar hidup lurus dan mandiri saja.

Kehilangan peran yang mendasar itulah yang membuat Talia mudah jatuh cinta pada sosok Dion begitu pria itu sengaja mendekatinya.

Talia bangkit dan menghapus air matanya, ia tak boleh begini terus. Harus bangkit dan kembali membujuk Dion. Talia yakin Dion hanya bingung sesaat. Setelah beberapa saat dia akan bisa berpikir jernih dan menerima kehamilannya.

Lagi-lagi, kenaifannya membuat delusi bagi hatinya sendiri. Pikiran pikiran sederhana itu membuat Talia merasa sangat percaya kalau Dion benar benar mencintainya.

Secepat kilat Talia melangkah menuju ke lapangan indoor basket. Dion pasti tengah berlatih di sana karena turnamen basket terakhirnya sebelum ujian kelulusan akan di gelar. Dion sudah mati matian berlatih supaya bisa menang, ia tak mungkin membolos latihan.

Talia tiba di depan ruang ganti tim basket putra, ia hendak mengetuk pintu saat sebuah suara ejekan terdengar menusuk hati.

"Elo gila!! Lo suruh dia gugurin bayinya??" Salah satu teman tim basket Dion berkelakar.

"Gue nggak mau masa depan gue rusak cuma gara gara cewek sampah kayak dia." Dion berkata tanpa memikirkan perasaan Talia.

"Iya juga, masa pewaris tunggal Grup Pratama nikah sama anak penjual ikan." Ledekan kencang rekan satu timnya membuat hati Talia teriris iris. Mereka bahkan mengungkit profesi ibunya yang merupakan pedagang ikan di pasar.

"Kalau bukan gara gara kalah taruhan dari kalian, gue juga ogah kali pacaran sama dia." Dion menutup loker.

"Munafik lo!! Ogah kok sampai hamil." Mereka tertawa lagi.

"Well ... tubuhnya memang luar biasa. Kucing di kasih ikan, mana mungkin nolak. Lagian gue nggak minta, dia yang nyodorin." Dion menyahut bola dan lekas keluar.

Talia membeku, hatinya remuk, ia merasa dunianya terbalik, hancur berantakan. Kenangan indah dan manis yang ia rasakan saat bersama dengan Dion ternyata cuma kebohongan semata. Delusinya semata.

Mereka tega menjadikan perasaan Talia sebagai bahan taruhan.

"Hiks ..." Talia membungkam mulutnya sendiri, bersembunyi di balik pintu saat mereka semua keluar dari ruang ganti.

Talia merasa bodoh dan terluka, hatinya terasa sesak seakan terhimpit oleh salur berduri. Merobek dan menekan dada dengan duri durinya yang tajam.

Lembut, Talia mengusap perut bagian bawahnya.

Apa yang harus ia perbuat??

Apa yang harus ia lakukan pada bayi ini??

BERSAMBUNG ................

AYAH UNTUK ANAK ANAKKUStories to obsess over. Discover now