Pagi itu, kota masih sibuk dengan suara kendaraan yang saling berlomba mengejar waktu. Orang-orang berjalan cepat, seolah setiap detik yang terlewat adalah sebuah kerugian.
Di tengah keramaian itu, Aksara berdiri di depan jendela apartemennya. Secangkir kopi di tangan mulai kehilangan hangatnya, sama seperti semangat yang perlahan memudar dalam dirinya.
Di atas meja tergeletak sebuah naskah novel yang baru saja selesai ia tulis. Berbulan-bulan ia menghabiskan waktu untuk menyelesaikannya. Seharusnya hari ini menjadi hari yang membahagiakan.
Namun entah mengapa, hatinya justru terasa kosong.
Ia memandang langit yang mulai berubah biru. Lalu menarik napas panjang.
"Apakah hidup hanya tentang terus berlari?" gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian, telepon genggamnya berbunyi.
"Selamat ya, novelmu akhirnya selesai," suara sahabatnya terdengar dari seberang.
Aksara tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Kamu terdengar tidak bahagia."
"Aku hanya... lelah."
"Lelah menulis?"
"Lelah dengan semuanya."
Percakapan itu berakhir tanpa banyak kata. Aksara kembali memandangi jendela.
Sudah terlalu lama ia hidup di tengah kebisingan. Terlalu lama mengejar sesuatu yang bahkan tidak lagi ia mengerti.
Pandangannya berhenti pada sebuah foto lama yang terselip di antara buku-buku di rak. Foto sebuah pegunungan dengan air terjun yang jernih. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, ketika ia masih sering bepergian bersama ayahnya.
Ayah pernah berkata,
"Kalau hatimu sedang gaduh, jangan buru-buru mencari jawaban. Pergilah ke alam. Kadang alam tidak memberi jawaban, tetapi mengajarkanmu cara mendengarkan dirimu sendiri."
Aksara menutup mata.
Kalimat itu kembali hidup di dalam ingatannya.
Tanpa berpikir panjang, ia membuka laptop dan mulai mencari tiket menuju sebuah desa kecil di kaki pegunungan.
Mungkin...
Inilah saatnya pulang.
Bukan pulang ke rumah.
Melainkan pulang kepada dirinya sendiri.
Bersambung... 🌿
YOU ARE READING
AKSARA
RomanceSetelah kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya, Aksara memilih meninggalkan hiruk-pikuk kota dan pergi ke sebuah desa di kaki pegunungan. Di tempat itu, ia menemukan suara air yang mengalir, hutan yang sunyi, embun pagi, dan orang-orang...
