Di kantor yang penuh dengan bunyi ketikan keyboard dan dering telepon, Arya duduk di ruangannya dengan wajah tegang. Usianya sudah mendekati 40, rambutnya mulai tipis di bagian pelipis, tetapi wibawa sebagai manajer masih kuat. Dari luar, ia tampak seperti lelaki mapan dengan karier stabil, istri setia, dan rumah tangga yang aman. Namun, di balik meja rapat, ada sesuatu yang perlahan melenceng.
Maya, sekretarisnya, baru berusia 26 tahun. Rambutnya panjang terurai, matanya jernih, dan senyumnya mudah membuat orang lain merasa didengar. Di awal, kedekatan mereka wajar—sekadar atasan dan bawahan. Maya sering mengetuk pintu ruangannya sambil membawa map.
"Pak, ini revisi laporan bulan kemarin. Saya taruh di meja, ya."
Arya biasanya hanya mengangguk, jarang benar-benar memperhatikan. Namun lama-kelamaan, ia mulai menunggu suara ketukan itu. Ada sesuatu dalam intonasi Maya—tenang, lembut, tapi juga berani—yang membuatnya merasa diperhatikan dengan cara yang berbeda dari istrinya, Via, di rumah.
Hari demi hari, interaksi mereka makin panjang. Awalnya membicarakan pekerjaan, lalu berkembang ke hal-hal kecil: cuaca yang panas, drama yang sedang ramai, bahkan soal makanan favorit.
"Pak Arya suka kopi hitam tanpa gula, kan?" tanya Maya suatu malam, ketika lembur membuat kantor hampir kosong. Arya menoleh, agak heran. "Kok kamu tahu?"
Maya tersenyum kecil. "Saya perhatiin aja. Setiap rapat, Bapak selalu habisin kopi hitamnya, nggak pernah disentuh gulanya."
Ucapan ringan itu membuat Arya terdiam sejenak. Ada rasa aneh di dadanya—campuran antara canggung dan senang karena diperhatikan. Sejak malam itu, Maya sering muncul dengan segelas kopi hitam hangat di tangannya.
"Biar saya bawain, Pak. Kasihan kalau harus bolak-balik pantry."
Arya tidak menolak. Justru ia mulai menunggu. Seakan-akan kopi itu bukan hanya minuman, tapi tanda bahwa ada seseorang di kantor yang benar-benar melihat dirinya, bukan sekadar jabatannya.
Waktu berjalan, pulang malam menjadi kebiasaan. Kadang Maya pura-pura sibuk agar bisa pulang bareng. Arya, yang awalnya enggan, akhirnya menawarkan.
"Ayo saya antar. Rumah kamu kan searah."
Mobil hitam miliknya melaju menembus jalanan kota, dengan percakapan ringan yang entah kenapa terasa lebih hangat daripada percakapan di meja makan rumah. Dari perbincangan kecil itu, tumbuhlah benih yang pelan-pelan menyalahi janji pernikahan.
Sampai akhirnya, batas fisik pun terlewati. Malam itu, setelah lembur panjang, Maya menunduk sambil menyerahkan laporan. Tangan Arya yang mengambil tanpa sengaja menyentuh jemarinya. Sebentar saja. Tapi cukup untuk membuat jantung mereka berdegup lebih cepat.
Maya tak langsung menarik tangannya. Arya pun tidak buru-buru melepas. Mata mereka bertemu, dan di antara tumpukan kertas laporan, ada sebuah rahasia baru yang lahir.
Di rumah, Via merasakan sesuatu yang berubah. Kemeja Arya kadang tercium parfum wanita, samar tapi asing. Senyum Arya kini sering hambar, tatapannya melayang, seperti orang yang pulang hanya untuk sekadar mengganti baju kerja dan menunggu esok.
Via berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan punggung suaminya yang duduk menunduk di tepi ranjang. Ia ingin bertanya, ingin menuntut penjelasan, tapi lidahnya kelu. Hanya ada rasa getir yang menggantung, seakan ia sedang menunggu badai yang sebentar lagi datang.
***
Malam itu hujan turun pelan, menempelkan aroma tanah basah ke udara. Arya baru sampai rumah lewat pukul sepuluh, dasinya longgar, wajahnya letih tapi matanya tidak benar-benar lelah. Ia melangkah masuk ke kamar, menemui Via yang duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian.
YOU ARE READING
51 HARI BERCERITA
General FictionCerita-cerita dalam buku ini lahir dari banyak rasa. Dari tawa, air mata, rindu, kehilangan, harapan, hingga ketakutan yang kadang tak mampu dijelaskan oleh logika. Sebagiannya berangkat dari keresahan sehari-hari, sebagian lainnya tumbuh dari imaji...
