Lentera di ruang Kepala Prajurit Made bergoyang tanpa angin.
Arjuna melihatnya - goyangan kecil, hampir tidak terasa, seperti napas seseorang yang menahan diri. Dia berdiri tegak di depan meja kayu jati, tangan terlipat di sisi tubuh, mata menatap dinding batu di belakang sang komandan. Bukan menatap mata. Bukan menatap wajah. Prajurit desa yang baik tidak menatap langsung. Prajurit desa yang baik tahu tempatnya.
"Cuti."
Kepala Prajurit Made mengucapkan kata itu seolah-olah merasakannya. Seperti seseorang yang merasa ada sesuatu yang salah dengan makanan, tapi tidak bisa menunjuk apa. Dia menatap Arjuna - lama, lebih lama dari yang biasa dilakukan seorang komandan pada prajurit tingkat dua.
"Ya, Yang Mulia," jawab Arjuna. Suaranya datar. Sempurna datar. Seperti permukaan kolam yang tidak pernah diusik batu. "Kalau boleh."
"Setahun."
"Ya, Yang Mulia."
"Setahun kau di sini. Tidak pernah pulang. Tidak pernah sakit. Tidak pernah mengeluh. Lalu tiba-tiba -" Kepala Prajurit Made berhenti. Jari-jarinya - kurus, berotot, penuh bekas luka yang tidak pernah sembuh sempurna - mengetuk-ngetuk permukaan meja. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. "- tiba-tiba ayahmu sakit."
Arjuna tidak berkedip. Dia sudah mempersiapkan ini. Setahun lamanya, setiap malam sebelum tidur, dia memutar skenario ini di kepalanya. Setiap variasi. Setiap pertanyaan. Setiap kemungkinan.
"Mereka sudah tua, Yang Mulia." Dia membiarkan suaranya pecah sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk terdengar seperti anak yang prihatin, bukan prajurit yang terlatih. "Ayah saya - bungkuk. Ibu saya - buta sebelah. Mungkin -" Dia berhenti, menelan, membuat dirinya terlihat seperti seseorang yang berjuang melawan emosi. "Mungkin ini terakhir kalinya saya bisa -"
Kalimatnya terputus. Sengaja terputus. Biarkan komandan yang melengkapi. Biarkan komandan yang percaya.
Kepala Prajurit Made menatapnya. Lama. Terlalu lama. Di luar, suara gender wayang dari pura kecil terdengar samar - latihan untuk upacara yang akan datang, musik yang tidak pernah berhenti di istana ini, bahkan di tengah malam.
"Sebulan," kata komandan akhirnya. "Bukan karena aku percaya pada ayahmu yang sakit. Tapi karena kau prajurit yang baik, Arjuna. Kau tidak pernah membuat masalah. Kau tidak pernah bertanya. Dan di istana ini -" dia berhenti, menggeleng, "- prajurit yang tidak bertanya adalah kemewahan yang tidak bisa kita buang."
Arjuna membungkuk. Rendah. Sempurna rendah. "Terima kasih, Yang Mulia."
"Tapi -" suara Kepala Prajurit Made menjadi lebih pelan, hampir tidak terdengar di atas gender wayang, "- kembali tepat waktu. Sehari terlambat, dan aku akan mengirim orang mencarimu. Bukan karena aku khawatir. Tapi karena di istana ini, tepat waktu adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup."
"Ya, Yang Mulia."
Arjuna mundur tiga langkah - cara yang benar, cara yang diajarkan - lalu berbalik. Tangannya tidak bergetar. Napasnya tidak terengah. Tapi di dalam, di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, sesuatu melepas. Seperti tali yang terlalu kencang akhirnya diberi sedikit kelonggaran.
Hanya sedikit. Hanya cukup untuk bernapas.
---
Kamar tidur prajurit berada di sayap timur barak - ruangan panjang dengan tempat tidur susun, masing-masing dipisahkan tirai kain tipis yang tidak pernah benar-benar menutup apa pun. Tidak ada privasi di sini. Tidak ada rahasia. Hanya tubuh yang lelah yang berbaring, menunggu pagi, menunggu perintah, menunggu mati.
Arjuna duduk di tempat tidur bawahnya - miliknya selama setahun - dan membuka tas kain yang sudah dia siapkan sejak seminggu lalu. Perlahan. Sangat perlahan. Seolah-olah dia hanya memeriksa barang-barang biasa. Seolah-olah tidak ada yang melihat.
BẠN ĐANG ĐỌC
Pangeran Dari Alas Leak
Hành độngSINOPSIS PENDEK: Pangeran dari Alas Leak Setahun setelah malam pengkhianatan, prajurit I Made Arjuna mendapat cuti dari istana. Bukan untuk beristirahat. Tapi untuk kembali ke dua tempat yang menyimpan rahasianya - desa orangtuanya, dan Alas Leak, h...
