•Prolog•

80 14 7
                                        

Hening sejenak kala ponsel itu menyorot ke arahnya, hanya cahaya dari ponsel itu yang menyapu wajahnya di tengah diam yang berat. Kara mulai retak ketika lawan bicaranya itu semakin mengusiknya. Pun begitu, ia masih belum menunjukkan respon.

"Belum sempat membalas semuanya, tapi dia sudah menghilang. Curang, bukan? Sedangkan kamu... harus menanggung semuanya," kalimat itu seolah menegaskan ketidakadilan yang tersisa.

Dikara terjeda panjang, tidak membenarkan, tidak pula menyangkal. Kiranya wanita paruh baya itu sudah tidak ingin berdialog, namun kalimat lainnya justru membuat sorot mata redupnya semakin dalam menatap sosok itu jeli, seolah menangkap setiap detailnya.

"Saya yakin kamu tertarik untuk melangkah lebih jauh. Mengincar orang yang wajahnya identik sekalipun tidak masalah, bukan? Oh bukan hanya itu, dia itu justru yang paling ingin memanipulasi kamu, Dikara," wanita itu melangkah pergi setelah puas menyampaikan tawarannya diikuti dengan tangan yang bergerak melemparkan sebuah foto ke arahnya.

"Kamu pasti marah karena Raga sebagai penyebab tidak langsung kematian Leandra, bukan? Tapi... Aksara selangkah lebih maju. Dia bahkan rela mengorbankan nyawa kakaknya untuk menutupi susunan rencana yang telah di susun rapi," lanjutnya lagi.

Tidak ada reaksi, Dikara hanya merendahkan pandangannya perlahan menatap foto itu lebih lama tanpa ekspresi, sebelum akhirnya ia merunduk dalam diam dan memungut foto itu dengan gerakan lambat. Sunyi menggantung di sekelilingnya, namun sebuah kalimat menyelinap pelan, mendesis kelam di sudut pikirannya yang tak lagi utuh.

—Kamu penyebabnya, sebagai balas budinya, cuman hal ini yang bisa kamu lakukan. Sekarang ia mengerti, ternyata seperti ini perasaan seseorang yang berduka karena dirinya sendiri adalah penyebab tidak langsungnya kehilangan itu. Duka yang semula memenuhi dadanya sudah benar-benar tidak lagi utuh. Seandainya ia menuruti kalimat Leandra beberapa waktu lalu.

-
-

Hii... ini cerita baru aku setelah lama hiatus. Semoga kalian suka, ya. Adapun konflik cerita di cerita kali ini lebih berat, so... lebih bijak mengambil baik dan buruknya.

GRUDGEHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora