Chapter 1 : Kastil Merah

147 37 25
                                        

Kreeek..

Gerbang besi hitam setinggi lima meter terbuka pelan. Engselnya berdecit panjang, mengalun pelan seolah mengejek siapa saja yang berani masuk.

Tidak ada manusia. Tidak ada sambutan-hanya gemercik air mancur yang memecah keheningan. Airnya jernih, tetapi dinginnya menusuk sampai ke tulang.

Queenella Aza Ar, masih berdiri tepat di depan gerbang dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku jas hitamnya. Matanya menyipit, menatap tulisan emas yang bertengger di samping pilar: Sovereign Sable Academy.

Tak.. Tak.. Tak..

Suara sepatunya menggema di jalanan batu yang kosong dan sepi—terlalu sepi untuk ukuran sekolah elit.

Namun, secara perlahan kesunyian itu mulai terusik. Satu per satu, sosok manusia bermunculan dari balik pilar, bersembunyi di balik rimbunnya pohon maple, bahkan mengintip tajam dari jendela lantai dua.

Tapi sayangnya tanpa sapaan; yang ada hanyalah bisik-bisik yang sengaja dikeraskan agar terdengar.

"Itu anak baru?"
"Yang di-spill menfess semalem kan? Katanya datanya ga ketemu."
"Kayaknya beneran anak baru, soalnya ga tau arah. Liat tuh muter-muter kayak GPS error."

Queen spontan berhenti dengan bahu yang naik turun sekali—bukan karena tersinggung, melainkan bingung.

Kepalanya menoleh ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, sementara alisnya bertaut. Plang penunjuk arah? Tidak ada. Kantor? Tidak kelihatan.

"Heran! Ga di sapa, ga dibantu, elit-elit denah sulit!" Batinnya kesal, sementara urat di pelipisnya menonjol sedikit.

"Permisi..."

​Lamunannya yang riuh seketika buyar saat sebuah suara menginterupsi.

Dari sisi lorong, seorang gadis berambut sebahu mendekat dengan langkah tegap. Di lengan kirinya, tersampir armband OSIS hitam-emas yang mencolok penuh wibawa. Tatapan matanya menyapu Queen dari ujung kepala hingga kaki—bukan dengan maksud menghakimi, melainkan cara khas seseorang yang sedang membaca karakter.

"Lo anak baru kan?" tanyanya dengan senyum tipis profesional.

Queen mengangguk pelan, sementara matanya masih liar menatap sekeliling. "Iya... gue nyasar," jawabnya datar dengan nada kesal di ujung kalimat.

Begitu kata "nyasar" keluar, gadis itu tertawa kecil-bukan mengejek, melainkan lebih ke arah kasihan.

Dia maju selangkah, mencondongkan tubuhnya, lalu membisikkan kalimat yang hanya bisa ditangkap oleh indra Queen. "Wajar, SSA emang ga ramah sama pendatang baru."

Alis Queen naik, tapi dia memilih tidak membalas.

"Yaudah, ayo gue anterin ke kantor buat lapor. Di sini kalau telat sepuluh menit dapat poin loh," ucapnya sambil memutar badan lebih dulu.

Queen membeku sedetik dengan mata membesar. "Poin? Emangnya ini game?!"

Meski begitu, kakinya tetap melangkah mengikuti. Karena jujur saja... dia juga tidak tahu harus ke mana.

"Gue Merlin Sayn, salah satu anggota OSIS di SSA. Lo bisa panggil gue Elin," katanya sambil jalan dengan langkah cepat dan efisien.

"Gue Queenella," jawab Queen singkat, matanya masih sibuk memotret setiap sudut.

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan yang berarti. Yang terdengar hanyalah derap langkah kaki mereka, beradu dengan riuhnya pikiran Queen yang berterbangan tanpa henti.

AR : The Ghost Of EdenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang