Bab 2: Pembicaraan di Balik Dinding

3 2 0
                                        

Akhirnya rumah kembali ramai setelah Ibu pulang. Benar seperti yang disampaikan A Rafka, Ibu pulang sore hari. Saat Ibu pulang, aku di rumah bersama Sella dan Ayah. Dan aku juga sudah memberitahu Ayah bahwa Ibu ke Jakarta.

Hidupku sungguh membosankan sejak ujian akhir selesai. Hanya bangun, buang air, makan, mandi, kadang tidur lagi, kadang nongkrong, dan akan terus seperti itu. Tidak ada hal yang menarik di hidupku. Sesekali aku main PS atau Mobile Legends bersama teman-teman yang juga libur sepertiku. Sungguh, ini sangat membosankan. Namun, sekolah pun kadang-kadang aku malas jika tidak dipaksa oleh Ibu.

Usai magrib, biasanya kami berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Jelas selalu ada aku, Sella, Ibu, dan Ayah. Selain A Rafka, aku juga punya kakak tiri. Namanya Teh Rifka.

Ah, mereka tidak kembar. Sama halnya dengan aku dan Sella. Namaku Senna. Mirip dengan Sella dan seakan-akan kami kembar bukan?

Kata A Rafka waktu aku masih kecil, Ibu memang suka memberi nama anak-anaknya yang mirip. Dulu, namaku juga ingin dimiripkan seperti A Rafka. Namun, entah kenapa tidak jadi. Jangankan aku, A Rafka saja tidak tahu. Aku pun tidak bertanya.

Sella terlihat menyantap makanannya dengan cepat. Katanya, ia hendak ke rumah Tika lagi. Mereka sedang mengerjakan proyek P5 yang tak kunjung selesai. Jarak usiaku dan Sella tidak jauh, hanya dua tahun saja. Sedangkan Ibu dan Ayah makan dalam diam. Terlihat tidak seperti biasanya.

"Siap makan, aku ke pos ronda, ya, Bu. Duduk-duduk bareng teman-teman," izinku yang ingin juga keluar rumah di malam hari seperti Sella.

Aku dan Sella memang sering main ke rumah teman. Soalnya kami beda jenis kelamin. Rasanya nggak seru kalau main berdua. Aku mah malas bahas cowok kesukaan mereka. Apalagi Sella, dia pasti nggak suka kalau aku ajak main game online. Sedangkan Ayah, terkadang juga duduk di warung depan gang. Dia duduk bersama orang kampung sambil menghabiskan kopinya. Bukan Ibu tidak buatkan Ayah kopi, tapi berkumpul sosial itu penting banget menurut Ayah. Tak heran aku pun demikian. Sedangkan Ibu tidak tentu. Namun, beliau lebih sering di rumah. Tepatnya, di rumah samping. Beliau sering bersih-bersih di rumah kami yang satu lagi. Atau terkadang, beliau duduk melamun sambil dengar musik kesukaannya.

"Boleh. Tapi, Aa Senna jangan telat pulang, ya. Jangan bergadang. Nggak baik," sahut Ibu yang masih meneruskan makannya.

Aku mengangguk. Dan begitu selesai makan, aku langsung keluar rumah.

Namun, belum jauh aku melangkah, aku kembali pulang ke rumah. Hendak mengambil uang untuk beli jajan. Namun, langkahku yang tadinya terburu-buru, terhenti. Saat aku mendengar percakapan Ayah dan Ibu yang terdengar serius.

"Ngapain kamu ke Jakarta? Kamu ceritakan semua apa yang terjadi sama Rafka?"

Tak ada jawaban dari Ibu. Namun, aku makin penasaran dengar percakapan mereka perihal 'menceritakan semua yang terjadi'.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku pun penasaran kenapa Ibu ke Jakarta tanpa mengabariku dan Ayah. Di sini, hanya Sella dan A Rafka yang tahu.

Aku tidak berani mengintip. Aku hanya berdiri di balik dinding penghubung ruang keluarga dan dapur dengan posisi yang jelas tidak akan terlihat oleh mereka. Aku cukup mendengar percakapan dan nada suara mereka.

"Ngapain, sih, Bu? Kan aku sudah bilang kita kecilkan masalah ini. Ini bukan masalah besar untuk aku, Bu."

"Aku nggak sanggup lagi, Yah."

Terdengar Ibu terisak.

Ingin rasanya aku masuk ke dapur untuk memeluk Ibu. Namun, jika aku masuk ke sana, aku akan ketahuan menguping pembicaraan orang tua. Aku juga tidak akan tahu masalah apa yang dimaksud Ibu dan Ayah.

"Apa yang buat kamu nggak sanggup, Bu? Aku sudah berubah seperti yang kamu mau. Aku juga nggak berpihak pada keluargaku lagi. Terus, apa yang buat kamu nggak sanggup? Aku juga terima anak itu. Kita besarin bareng-bareng dan akan aku anggap dia seperti anak kandungku sendiri. Kamu nggak usah khawatir."

Anak siapa yang Ibu dan Ayah maksud? Apakah mereka mau mengangkat anak?

"Tapi, aku sudah nggak cinta sama kamu, Yah."

"Hanya karena kita nggak bisa berhubungan lagi? Itu alasan kamu nggak cinta aku lagi? Jadi, selama ini kamu nikah sama aku untuk apa, Bu?"

"Seperti yang saudara-saudara kamu bilang. Aku nikahin kamu untuk manfaatin kamu doang. Biar aku bisa membesarkan Rafka dan Rifka. Biar aku bisa menyekolahkan mereka meski nggak ada satupun dari mereka yang jadi sarjana. Demi aku punya dana untuk pernikahan mereka. Persis seperti yang saudara kamu katakan!"

Aku menutup mulut karena terkejut dengan apa yang kudengar.

"Nggak, Bu. Aku nggak bodoh! Aku bisa melihat dari mata kamu sebelumnya kalau kamu cinta sama aku. Sama kayak aku cinta ke kamu."

"Aku nggak cinta sama kamu, Yah. Aku cinta sama dia. Dan aku mau menikah dengan dia. Membesarkan anak ini bersama dia."

"Ya Allah, Pitaloka. Sadar, Bu! Dia cuma mau melihat rumah tangga kita hancur. Dia nggak akan nikahin kamu, Bu. Percaya sama aku. Dia akan tertawa bahagia melihat rumah tangga kita berantakan. Dia akan bertepuk tangan kebahagiaan melihat aku hancur, Bu. Sadar!"

"Nggak, Yah. Dia betul-betul cinta sama aku."

"Jangan terlalu naif, Bu. Dia hanya ingin menghancurkan aku. Ingat anak-anak kita, Bu. Gimana kalau Sella dan Senna tahu?"

"Nggak masalah. Suatu saat mereka juga akan ngerti gimana rasanya jadi aku. Gimana sakitnya aku dimusuhi oleh keluarga kamu. Sudah cukup, Yah. Sudah cukup 15 tahun pernikahan kita dan aku disiksa secara verbal oleh keluarga kamu. Sudah cukup!"

Terdengar pecahan kaca di dapur membuat aku terjengkang. Aku pun langsung pergi dari sana dengan pikiran yang penuh.

Siapa yang Ibu cintai kalau bukan Ayah?

Apakah itu alasan yang benar Ibu menikahi Ayah?

Jika benar, sungguh aku tidak menyangka. Sungguh, Ibu begitu kejam. Dia hanya manfaatkan Ayah yang begitu baik.

Memang keluarga Ayah tidak suka pada Ibu karena Ibu bukan asli pulau Jawa. Ibu orang Sumatera. Dan aku juga tidak mengerti kenapa keluarga Ayah tidak suka dengan orang Sumatera. Bukan hanya Ibu, aku dan Sella juga dikatai secara verbal oleh keluarga Ayah. Rasanya itu memang sakit. Namun, bagiku dan Sella, selama ada Ibu dan Ayah, kami tidak merasa sakit.

Aku melangkah tak tentu arah. Tak juga ke pos ronda seperti yang aku katakan tadi saat minta izin. Aku melangkah menuju jembatan penghubung antara RT satu dan RT dua. Aku duduk di sana dengan mata kosong dan pikiran merenung.

Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Dan tak satupun pertanyaan mendapatkan jawabannya.

Sungguh, ini kabar yang begitu buruk. Kabar yang sebenarnya tak ingin aku dengar.

Aku benci malam ini. Malam yang seharusnya kuhabiskan dengan bersenang-senang bersama temanku, menjadi malam perenungan setelah mendengar kejutan yang tak bisa ditebak.

Ayah, Mengapa Memilih Ibu? Histórias para pegar e não largar. Descubra agora