1. Pengenalan

595 5 0
                                        

Pagi di desa selalu dimulai dengan kabut tipis yang menyelimuti persawahan dan aroma tanah basah yang khas. Bagiku, pagi adalah waktu tersibuk sekaligus momen di mana aku harus bersiap menghadapi "panggung" harianku.

Namaku Sekar. Usiaku jalan tiga puluh tahun. Aku seorang istri dari Mas Danu, seorang pria pekerja keras yang bekerja di bengkel las luar kota, dan ibu dari Rio, jagoan kecil kami yang baru menginjak usia lima tahun. Di desa kecil tempat kami tinggal ini, kehidupan berjalan lambat, tradisional, dan... sangat transparan. Semua orang tahu urusan semua orang. Dan sayangnya, semua orang juga sangat memperhatikan penampilanku.

Aku tidak bermaksud sombong, tapi cermin di kamar tidak pernah berbohong. Di saat banyak ibu-ibu di desaku mulai mengabaikan penampilan setelah melahirkan—memilih daster longgar yang pudar dan menyanggul rambut seadanya—aku memilih jalan berbeda. Aku suka merawat diri. Kulitku bersih karena rajin luluran, rambut hitamku panjang sepinggang dan selalu wangi, dan berkat gen serta hobi melelahkan mengurus rumah tanpa asisten, tubuhku tetap terjaga. Lekuk tubuhku, kata Mas Danu, justru makin matang setelah punya anak. "Body gitar spanyol," bisik Mas Danu kalau dia sedang pulang seminggu sekali.

Tapi pujian suamiku adalah satu hal. Pandangan mata orang-orang desa adalah hal lain.

Pukul enam pagi, aku sudah selesai memandikan Rio dan menyuapinya sarapan. Hari ini aku harus ke pasar besar di kecamatan untuk menyetok bahan makanan karena Mas Danu bilang dia akan pulang nanti malam. Aku memakai setelan kasual: celana jeans yang pas di pinggang dan kaos rajut warna pastel yang nyaman. Tidak ada yang berlebihan, kupikir. Tapi begitu aku melangkah ke halaman depan untuk menyapu sisa-sisa daun kering, "pertunjukan" itu dimulai.

"Wah, Mbak Sekar... Pagi-pagi sudah segar betul. Mau ke mana ini, rapi amat?"

Suara itu datang dari Kang Toto, tetangga sebelah rumah yang sedang memanaskan motornya. Matanya tidak benar-benar menatap sapu di tanganku, melainkan turun-naik, tertuju pada bagaimana kaos rajutku tercetak di tubuh saat aku membungkuk.

Aku menegakkan tubuh, tersenyum sopan—senyum formal yang biasa kugunakan untuk menjaga jarak. "Eh, Kang Toto. Iya nih, mau ke pasar bentar. Nyari lauk buat Mas Danu."

"Walah, Mas Danu beruntung bener ya. Punya istri sudah cantik, rajin, badannya kayak perawan terus," sahut Kang Toto sambil terkekeh, disusul kedipan mata yang membuatku merasa agak risih.

Belum sempat aku membalas, dari arah jalan gang, melintas dua orang pemuda tanggung, rombongan ronda semalam yang baru mau pulang. Mereka sengaja memperlambat jalannya.

"Pagi, Mbak Sekar! Butuh ditemani ke pasar enggak? Kuat kok saya bawain belanjaan yang berat-berat," goda salah satunya, namanya dika, sambil menyenggol lengan temannya. Mereka berdua tertawa-tawa kecil, mata mereka tertuju lekat-lekat pada caraku berdiri.

"Enggak usah, Dik, makasih. Udah biasa sendiri," jawabku tegas. Aku langsung membalikkan badan, masuk ke dalam rumah untuk mengambil dompet dan kunci motor.

Di dalam hati, aku menghela napas. Terkadang melelahkan. Aku hanya ingin hidup normal, merawat diri untuk kesenanganku sendiri dan suamiku. Tapi di desa ini, tubuh seorang wanita yang dianggap "menonjol" seolah-olah menjadi fasilitas umum yang bebas dikomentari oleh siapa saja.

Aku membonceng Rio di depan menggunakan motor matic-ku. Sepanjang jalan dari rumah menuju jalan utama desa, aku harus melewati beberapa titik kumpul yang biasanya dikuasai oleh kaum pria. Ada pos ronda, warung kopi Mak Sum, dan pangkalan ojek.

Saat melewati warung kopi Mak Sum, suasananya mendadak riuh. Beberapa bapak-bapak yang sedang menikmati pisang goreng langsung menoleh serempak, seolah ada komando tidak tertulis.

Sekar : Istri yg BerfantasiStories to obsess over. Discover now