Cinta masa kecil bukanlah hal yang rumit atau penuh dengan janji besar. Ia datang dengan cara yang paling sederhana seperti kilatan matahari di pagi hari yang menyentuh wajahmu, atau sebuah senyuman yang tiba-tiba membuat hati kecilmu berdebar lebih cepat dari biasanya.
Di suatu desa kecil yang terletak di Jawa Timur, di mana hamparan sawah hijau menyebar luas seperti karpet hijau yang tak berujung. Udara pagi masih terasa sejuk dengan aroma tanah lembab dan bunga melati yang tumbuh di halaman setiap rumah.
Ada anak laki-laki yang bernama Dafit.
Dafit adalah anak laki-laki yang tampan, kuat, dan pemberani.
Di suatu hari saat Dafit bermain di lapangan, Dafit melihat ada gadis kecil yang sangat cantik. Dafit pun menghampirinya lalu menyapanya, "Hai aku Dafit!! Nama kamu siapa?"
Gadis itu tersenyum dan menjawab dengan nada yang ceria, "Hai juga! Nama aku Devina. Salam kenal yaaa."
"Kamu baru pindah ke desa ini?" tanya Dafit.
"Iya aku baru pindah ke desa ini! Kamu mau gak jadi temen aku? Soalnya aku belum punya temen di sini," jawab Devina dengan wajah yang tersenyum manis.
"Iya kamu boleh kok main sama aku kalau kamu mau! Kamu sekarang sekolah di mana? Kelas berapa?" tanya Dafit dengan rasa ingin tahu.
"Aku pindah ke SD 4. Sekarang aku kelas 1," jawab Devina.
"Wah kita satu sekolah! Aku juga sekolah di SD 4 tapi aku sekarang kelas 2."
Sejak hari pertama bertemu, hati Dafit selalu berdebar kencang setiap kali melihat Devina. Meski hanya anak kelas 2 yang menginginkan perhatian dari teman baru yang lebih kecil, rasa itu sudah mulai tumbuh sebagai sesuatu yang lebih dalam pada gadis cantik dengan senyum ceria itu.
Setiap pagi, Dafit selalu datang lebih awal ke rumah Devina untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Dia suka melihat wajah Devina yang bersinar saat bercerita tentang teman-teman baru di kelasnya dan kegiatan-kegiatannya. Setiap sore Dafit dan Devina bermain kejar-kejaran dan naik sepeda bersama di lapangan sekolah.
To be continued...
YOU ARE READING
cinta yang di mulai dari senyuman
RomanceCinta masa kecil tidak selalu berakhir di pelaminan. Kadang ia hanya berupa janji yang diucapkan di bawah pohon melati, sebuah gelang manik yang tak pernah lepas, dan sebuah senyuman yang tidak pernah dilupakan. Dafit dan Devina bertemu di sebuah...
