Suara riuh rendah dari pelantang suara masjid di ujung gang masih menyisakan dengung di telinga Zayyan. Malam itu, ada kajian akbar remaja yang dihadiri ratusan anak muda. Zayyan sengaja duduk di barisan paling belakang, dekat pintu keluar, memeluk lututnya sendiri di atas ubin masjid yang dingin.
Tema malam itu sangat memikat bagi telinga-telinga muda yang sedang membara: "Menikah Muda: Pintu Rezeki dan Pembenteng Iman".
Sang penceramah, seorang ustaz muda dengan senyum menawan dan pengikut jutaan di media sosial, berbicara dengan nada yang begitu meyakinkan. Beliau mengutip ayat-ayat tentang janji Allah yang akan mencukupkan mereka yang menikah karena ingin menjaga kesucian diri. Retorikanya melesat bak anak panah, membakar semangat para remaja tanggung yang duduk berdesakan.
"Jangan takut miskin karena menikah! Menikah itu membuka pintu rezeki yang tertutup. Kalau kalian belum punya pekerjaan tetap, pasrahkan pada Allah. Menikah dulu, nanti rezeki menyusul. Lebih baik sengsara bersama di awal daripada memupuk dosa pacaran yang berujung zina!" seru sang ustaz disambut pekikan takbir yang menggema.
Di sudut belakang, Zayyan justru merasa dadanya menyempit. Kalimat-kalimat yang mengalir dari pelantang suara itu tidak terasa seperti oase, melainkan seperti hantaman godam yang menghakimi hidupnya.
Zayyan melirik ke sebelah kirinya. Seorang remaja laki-laki, mungkin baru lulus SMA atau awal kuliah, tampak mengangguk-angguk antusias dengan mata berbinar. Remaja itu memegang ponselnya, mengetik sesuatu di aplikasi pesan yang Zayyan tebak adalah sebuah janji muluk kepada kekasihnya untuk segera menghadap orang tua.
Mereka tidak tahu, batin Zayyan getir. Mereka benar-benar tidak tahu.
Zayyan mengembuskan napas panjang saat melangkah keluar dari halaman masjid. Ia berjalan membelah malam menuju rumah kontrakannya yang sempit. Lampu jalanan yang temaram memantulkan bayangan tubuhnya yang tampak lelah. Di usianya yang menginjak 27 tahun, Zayyan sering merasa seperti seorang pria berusia 50 tahun. Pundaknya terlalu bungkuk oleh beban yang harus dipikulnya sendirian.
***
Sejak ayahnya meninggal dunia lima tahun lalu, status Zayyan otomatis berubah. Ia bukan lagi sekadar anak sulung; ia adalah pengganti kepala keluarga. Ada Umi yang kesehatannya mulai menurun, dan ada tiga orang adik yang semuanya masih membutuhkan biaya pendidikan.
Zayyan bekerja sebagai senior graphic designer di sebuah agensi kreatif papan atas. Di luar jam kantor, ia mengambil proyek-proyek lepas dari luar negeri demi menambah penghasilan. Di atas kertas, penghasilannya tidak bisa dikatakan kecil untuk ukuran lajang. Namun, uang itu mengalir seperti air di atas saringan. Begitu masuk ke rekening, detik itu juga terdistribusi ke berbagai pos wajib: biaya pendidikan ketiga adiknya, belanja bulanan Umi, biaya berobat Umi, sewa rumah, tagihan listrik, air dan internet, uang saku adik-adik, dan seterusnya.
Bagi Zayyan, narasi "menikah muda akan membuka pintu rezeki secara ajaib" tanpa disertai persiapan finansial dan mental adalah sebuah utopia yang berbahaya. Mengapa para pemuka agama itu sering kali menyederhanakan sebuah lembaga sakral bernama pernikahan seolah-olah itu adalah obat instan dari segala masalah syahwat, tanpa pernah membeberkan realitas setelah ijab kabul diucapkan?
Pernikahan dalam kepala Zayyan adalah tentang tanggung jawab mutlak. Ia adalah tentang memberi makan, memberi tempat bernaung yang layak, dan memastikan bahwa wanita yang ia nikahi tidak menderita karena keputusannya yang terburu-buru. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan pernikahan jika untuk sekadar membeli kasur baru yang lebih layak untuk ibunya saja ia harus memotong anggaran makannya sendiri selama dua bulan?
Sesampainya di rumah, suasana sunyi menyambut Zayyan. Umi sudah tidur, begitu pula adik bungsunya. Zayyan berjalan ke kamarnya sendiri—sebuah ruangan berukuran 3x3 meter persegi yang merangkap sebagai ruang kerja. Di atas meja kayu yang catnya sudah mengelupas, laptopnya masih menyala, menampilkan layar kerja dengan tenggat waktu yang mencekik esok hari.
Ia duduk di kursi kerjanya, namun jemarinya tidak menyentuh tetikus. Pandangannya tertuju pada kalender dinding. Bulan depan, adiknya yang nomor dua harus membayar uang kuliah semesteran. Di saat yang sama, Umi baru saja bercerita dengan wajah cemas bahwa iuran lingkungan dan arisan warga sudah menunggak dua bulan. Umi tidak menyebutkan angka, tapi Zayyan tahu, ada kepedihan yang disembunyikan ibunya di balik senyum renta itu.
***
Zayyan membuka media sosialnya. Di lini masa, potongan video ceramah ustaz yang ia dengar di masjid tadi sudah beredar luas dengan takarir yang provokatif: "Tunggu apa lagi? Halalkan atau ikhlaskan!"
Di kolom komentar, ribuan anak muda saling menandai akun pasangan mereka. Ada yang menulis, "Tuh Sayang, dengerin. Jangan nunggu mapan, yang penting niatnya." yang lain menimpali, "Bismillah, modal nekat dan takwa, tahun depan kita sah."
Zayyan memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. "Modal nekat," bisiknya lirih pada kesunyian kamar. "Kalian pikir tagihan listrik bisa dibayar pakai modal nekat? Kalian pikir susu anak bisa dibeli dengan modal takwa tanpa bekerja?"
Ada kemarahan yang tertahan di dalam diri Zayyan terhadap tren salah kaprah ini. Menikah memang ibadah, bahkan menyempurnakan separuh agama. Zayyan tidak meragukan ayat Al-Qur'an maupun hadis Nabi. Yang ia ragukan adalah cara para pemuka agama itu menyampaikannya seolah-olah dunia pasca-nikah adalah sebuah taman bunga tanpa badai ekonomi. Mereka melupakan bab tentang nafkah, mereka melewatkan kewajiban suami untuk mandiri secara finansial, dan mereka abai bahwa kemiskinan yang ekstrem justru lebih dekat pada kekufuran.
Akibat dari romantisasi pernikahan yang ugal-ugalan ini, Zayyan menyaksikan sendiri bagaimana beberapa teman sebayanya kebingungan. Ada yang menikah di usia 21 tahun karena dorongan kajian-kajian seperti itu, dan kini berakhir di pengadilan agama karena perselingkuhan. Ada pula yang akhirnya terjerat pinjaman online demi menutupi biaya persalinan, yang berujung pada hancurnya ketenteraman rumah tangga mereka sendiri.
Zayyan bangkit dari kursinya, mengambil air wudu, lalu menggelar sajadah di sudut kamar. Di keheningan sepertiga malam terakhir, ia bersujud panjang. Di atas kain beludru yang mulai menipis dan retak karena dimakan usia, Zayyan menumpahkan segala kegelisahannya.
Ia tidak munafik. Sebagai pemuda normal, Zayyan pun merindukan kehadiran seorang belahan jiwa. Ia merindukan sepasang mata yang menyambutnya dengan hangat saat ia pulang kerja dalam kondisi babak belur oleh kelelahan dunia. Ia merindukan sosok yang bisa ia imami dalam salat malam, yang jemarinya bisa ia genggam untuk saling menguatkan dalam ketaatan.
Namun, rasa rindu itu ia kekang rapat-rapat dengan akal sehat dan rasa tahu diri.
"Ya Allah," bisik Zayyan dalam sujudnya, air matanya perlahan membasahi sajadah. "Engkau tahu hamba ingin menjaga diri. Engkau tahu hamba ingin menyempurnakan agama ini melalui pernikahan. Namun, Engkau pun tahu pundak hamba saat ini masih menggendong ibu dan adik-adik hamba. Jangan biarkan hamba menjadi pria yang egois, yang membawa anak perempuan orang lain ke dalam pusaran kesulitan hidup hamba hanya demi memuaskan keinginan hamba sendiri."
Zayyan tahu, posisinya sebagai sandwich generation membuat ruang geraknya terbatas. Jika ia menikah sekarang tanpa perhitungan yang matang, ia hanya akan membagi kemiskinan ini kepada orang lain. Lebih buruk lagi, ia takut ia tidak bisa bersikap adil antara kewajibannya menafkahi istri dan tanggung jawabnya membiayai Umi serta adik-adiknya. Konflik loyalitas itu adalah mimpi buruk yang sangat ia hindari.
Bagi Zayyan, menahan diri, bekerja keras sampai fajar, dan mengelola keuangan dengan ketat adalah bentuk takwanya yang paling nyata saat ini. Ia memilih untuk "berpuasa" dari angan-angan pernikahan instan yang digaungkan di luar sana, sampai Allah benar-benar membukakan jalan yang lapang—bukan jalan gaib yang datang tiba-tiba tanpa usaha, melainkan jalan yang dirajut dari keringat dan air mata kerja kerasnya setiap hari.
Setelah salam, Zayyan kembali menatap layar laptopnya. Desain grafis yang belum selesai itu menuntut untuk dirampungkan. Ia menarik napas dalam-dalam, memantapkan hati. Biarlah dunia luar riuh dengan jargon-jargon nikah muda yang romantis. Bagi Zayyan, romansa tertingginya saat ini adalah memastikan keluarganya tidak kelaparan besok pagi, sambil terus menabung sepeser demi sepeser untuk masa depannya sendiri—siapa pun wanita yang ditakdirkan untuk menemaninya nanti, Zayyan berjanji pada dirinya sendiri, ia harus menjemputnya dengan kesiapan, bukan dengan modal nekat yang buta.
***
makasih udah baca, jangan lupa kasih vote dan comment ya ^^
YOU ARE READING
Sebelum Kata Sah Diucapkan
RomanceDi tengah riuhnya kajian romantis tentang "Nikah Muda", Nadhira (25 tahun) salah satu remaja dewasa yang terbuai angan-angan indah itu. Sebagai anak yatim yang tumbuh besar hanya bersama ibunya, ia merindukan kasih-sayang seorang ayah dan perlindung...
