Bab 1 - The Boy Who Chose Silence

15 3 0
                                        


Suara langkah kaki memenuhi koridor kampus pada pagi pertama perkuliahan semester baru. Mahasiswa baru maupun mahasiswa lama berlalu-lalang sambil membawa harapan dan cerita yang berbeda. Ada yang sibuk mencari ruang kelas, ada yang berfoto bersama teman, dan ada pula yang sudah memenuhi kantin meski jam kuliah belum dimulai.

Di tengah ramainya suasana itu, seorang laki-laki berjalan dengan langkah tenang.

Rambut hitamnya tertata rapi dengan poni yang sedikit jatuh menutupi dahi. Sepasang kacamata berbingkai tipis berwarna hitam bertengger di wajahnya, memberi kesan tenang dan sulit ditebak. Kemeja putih yang dipadukan dengan celana hitam membuat penampilannya tampak sederhana namun bersih. Sebuah ransel tergantung di bahu kanannya, sementara tangan kirinya menggenggam jadwal kuliah yang sudah sedikit terlipat.

Namanya Reynard Alvaro Mahesa.

Tatapannya lurus ke depan. Ia tidak memperhatikan keramaian di sekelilingnya, tidak pula mencari seseorang untuk diajak berbincang. Langkahnya tenang, seolah dunia di sekitarnya hanyalah latar yang tak perlu ia hiraukan.

Bukan karena ia sombong.

Ia hanya tidak terbiasa menjadi bagian dari keramaian.

Sesampainya di depan ruang kelas, Reynard melihat beberapa mahasiswa sudah berkumpul. Tawa dan obrolan memenuhi ruangan, seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.

...

Reynard berdiri beberapa detik di ambang pintu.

Tatapannya menyapu seluruh isi kelas.

Beberapa mahasiswa tampak sibuk mengobrol. Ada yang saling bertukar cerita tentang masa orientasi, ada yang membahas jadwal kuliah, dan ada pula yang sudah tertawa lepas meski baru saling mengenal.

Suasana yang ramai seperti itu selalu membuatnya merasa sedikit canggung.

Bukan karena ia tidak menyukainya.

Hanya saja, ia tidak pernah tahu bagaimana cara ikut menjadi bagian dari percakapan.

Tanpa banyak berpikir, Reynard melangkah masuk.

Ia memilih bangku paling belakang, tepat di sisi jendela.

Tempat favoritnya.

Dari sana, ia bisa melihat seluruh isi kelas tanpa harus menjadi pusat perhatian.

Ia meletakkan ranselnya di lantai, lalu duduk dengan tenang. Jemarinya melepas kacamata sejenak untuk membersihkan lensa yang sedikit berembun sebelum memakainya kembali.

Tak lama, ia mengeluarkan sebuah buku novel dari dalam tas.

Membaca selalu menjadi caranya menghabiskan waktu saat menunggu.

Di tengah riuhnya obrolan teman-teman sekelas, Reynard tenggelam dalam halaman demi halaman buku yang ia pegang.

Beberapa menit kemudian, dua mahasiswa laki-laki masuk ke kelas sambil melihat-lihat bangku yang masih kosong.

"Eh, belakang masih kosong tuh."

"Iya... tapi sebelahnya ada orang."

Keduanya menoleh ke arah Reynard.

Laki-laki berkacamata itu masih membaca bukunya tanpa terusik sedikit pun.

"Hmm... depan aja, deh."

"Kenapa?"

"Nggak tahu... kayaknya dia lagi nggak mau diganggu."

Mereka pun memilih duduk di barisan tengah.

Reynard sempat mendengar percakapan itu.

When Silence Meets a SmileStories to obsess over. Discover now