"Bagaimana kabarmu hari ini?"
Kalimat itu terdengar sederhana. Begitu sederhana hingga hampir semua orang pernah mengucapkannya. Terkadang diucapkan sambil tersenyum, sambil berjalan melewati seseorang di lorong, atau sekadar menjadi basa-basi sebelum percakapan yang sesungguhnya dimulai.
Namun di balik profesinya, Arunika tahu, tidak semua orang benar-benar menginginkan jawaban dari pertanyaan itu.
Setiap hari, Arunika duduk di balik meja yang sama. Dengan secangkir kopi yang perlahan kehilangan hangatnya karena terlupakan di sela-sela sesi. Dengan buku catatan yang halamannya terus bertambah, dipenuhi tulisan tangan yang hanya bisa ia baca sendiri. Dan dengan puluhan kisah orang-orang yang sedang dia bantu untuk luruskan.
Ada yang menangis karena kehilangan. Ada yang tertawa saat menceritakan lukanya sendiri, seolah tawa itu bisa membuat luka itu terasa lebih ringan untuk diucapkan. Ada pula yang begitu pandai menyembunyikan rasa sakitnya, hingga bahkan dirinya sendiri mulai percaya bahwa ia telah sembuh.
Sebagai seorang psikolog, Arunika tidak pernah bertugas memperbaiki hidup orang lain. Ia hanya menemani mereka menemukan jalan pulang. Karena pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang bisa diselamatkan, jika ia sendiri belum benar-benar ingin diselamatkan.
***
Pagi di Bandung selalu diawali dengan kabut tipis yang menyelimuti pepohonan pinus. Di sebuah bangunan kolonial yang telah direnovasi menjadi klinik modern di daerah Ciumbuleuit, Arunika Sandyakala atau yang akrab disapa Runi oleh kebanyakan orang.
Sebagai seorang psikolog, Runi adalah pendengar yang luar biasa. Dia tidak hanya mendengar kata-kata, tapi juga vibrasi emosi di baliknya. She has this innate ability to make people feel safe just by being in the same room.
Runi akhirnya tiba di kliniknya tepat jam delapan pagi. Ia baru saja melepas jaketnya ketika suara riang menyambutnya dari meja depan.
"Kak Runi! Pagi!" Awan melambai dengan semangat yang sepertinya tidak pernah berkurang, tidak peduli sepagi apa jam kerja dimulai. "Kopinya udah aku siapin, tanpa gula, cuman pakai susu kayak biasa, ya? Jangan lupa diminum dulu sebelum jadwal hari ini bikin kakak kewalahan, ya."
Runi tertawa kecil, mengambil cangkir yang disodorkan. "Kamu ini kayak alarm berjalan, ya. Selalu tahu kebiasaan aku. Makasih ya, Wan. Kalau gitu aku langsung ke ruangan, ya. Sekalian baca-baca dulu kasus pasien buat jam sepuluh nanti"
"Iya, Kak. Semangat untuk hari ini, Kak Runi." Ucap Awan, sambil tersenyum ramah.
Runi membalas senyuman Awan dan berjalan kearah ruangannya yang terletak di dekat meja resepsionis, hanya terhalang oleh satu ruangan. Aroma terapi lavender yang memenuhi ruangan langsung tercium oleh Runi saat dia membuka pintu ruangannya, menciptakan suasana yang aman bagi siapa pun yang masuk. Runi, dengan penampilannya yang dewasa namun hangat, sedang meninjau jadwal hariannya. Sebelum pukul sepuluh pagi nanti, dia memiliki janji temu dengan seorang pasien baru.
YOU ARE READING
ARUNIKA
Romance"Semua orang datang kepadaku untuk sembuh. Sampai suatu hari... seseorang datang bukan untuk mencari pertolongan." Arunika percaya bahwa setiap luka selalu memiliki jalan untuk pulih. Sebagai seorang psikolog, ia terbiasa mendengarkan rahasia, air m...
