We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

13 1 0
                                        

Hujan tidak turun malam itu.

Rumah itu tetap terang seperti biasa, lampu ruang tamu menyala terlalu terang untuk sesuatu yang terasa begitu kosong.

Suara televisi mengisi ruangan, tawa kecil sesekali muncul dari sofa, bukan tawa yang mencari alasan, hanya kebiasaan yang tidak butuh keberadaan orang tambahan.

Kardan berdiri di depan pintu selama beberapa detik, sepatunya masih basah, jam di pergelangan tangannya menunjukkan larut, terlalu larut untuk ukuran orang yang katanya "keluarga".

Tidak ada langkah yang mendekat, tidak ada suara yang memanggil namanya, tidak ada pertanyaan sederhana seperti "kamu dari mana".

Dia masuk pelan, seolah rumah ini bukan tempat yang harus dia ganggu.

Di ruang tamu, keluarga itu duduk seperti biasanya sekarang, susunan yang baru, yang lebih stabil.

Anak kandung yang baru ditemukan duduk di tengah, di sebelahnya ada tunangan Kardan, ikut tersenyum pada sesuatu di layar TV, wajahnya tidak salah, hanya ia tidak lagi mencari Kardan.

Tidak ada satu pun kepala yang menoleh.

Kardan berhenti di ambang ruang tamu, bukan karena kaget, tapi karena otaknya sedang memeriksa sesuatu yang sederhana: apakah dia benar-benar terlihat.

Dia bukan diabaikan secara aktif, dia hanya tidak masuk dalam hitungan.

Dia melangkah lagi melewati mereka semua tanpa suara tambahan dari dunia, tidak ada sapaan, tidak ada jeda obrolan.

Dia berhenti sebentar di lorong, menunggu, refleks lama yang bodoh, bagian dari dirinya yang masih percaya bahwa keterlambatan bisa menimbulkan kekhawatiran kecil.

Satu detik, dua detik.
TV tetap menyala, tawa tetap ada, tapi namanya tidak pernah dipanggil.

Dia mengerti sesuatu di sana.

Bukan dia yang pulang terlambat, dia hanya tidak pernah benar-benar ditunggu.

Kardan berjalan ke kamarnya, pintu tertutup pelan, dan untuk pertama kalinya keheningan di dalam rumah itu tidak terasa seperti kebetulan, lebih seperti keputusan yang sudah lama dibuat.

MOHON MAAF JIKA ADA KEKURANGAN, KARNA SAYA JUGA MANUSIA JADI WAJAR,SEMOGA PROLOGNYA BAGUS JIKA ADA KELUHAN MOHON DIKASIH TAHU BIAR SAYA MENJADI LEBIH BAIK LAGI

"SakiArchive"

Orang Yang Tidak Pernah DipilihStories to obsess over. Discover now