bab 1 -Lima-

26 9 4
                                        

Seorang gadis kelas sebelas melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai. Langkahnya tenang, namun sorot matanya tajam mengamati setiap sudut. Gadis itu bernama Kanaya Abistha.

Nama Kanaya sudah tidak asing lagi di telinga para siswa SMA Nirmala. Ia dikenal sebagai salah satu dari lima siswa terpintar di sekolah. Prestasi akademisnya selalu menempati peringkat teratas, sehingga namanya sering disebut dalam berbagai kompetisi antarsekolah.

Keempat nama lainnya yang bersanding dengannya terpampang jelas pada papan pengumuman sekolah. Jovanka Ayudhisa, Kafka Ganendra, Liam Ganeswara, dan Galen Pradikta. Mereka bukan sekadar rival, melainkan sahabat baik Kanaya sejak kelas sepuluh.

"Lihat, nama Kanaya lagi di urutan pertama," ucap seorang siswa sambil menunjuk papan pengumuman.

"Biasa. Anak jenius emang beda," sahut temannya yang lain.
Kanaya hanya tersenyum tipis mendengar percakapan itu.
Kanaya kemudian lanjut berjalan ke kelas.
Ia melangkah masuk ke kelas, langsung duduk di bangkunya dan meletakkan tas di samping meja.

"Nay, tumben lo baru datang," tanya Liam sambil menoleh.

"Eh, iya. gue tadi ke papan pengumuman dulu bentar buat ngecek aja, eh malah ketemu jova juga," jawab Kanaya sambil mengeluarkan buku dari tasnya.

"Gimana hasilnya, Nay?" tanya Kafka yang juga baru saja datang dan duduk di belakangnya.

Kanaya menjawab santai sambil membuka bukunya. "Seperti biasa. Nama kita berlima, cuma posisinya aja yang beda. Gue nomor 1, Liam 2, 3 lo, 4 Jova, terus 5 si Galen."

Kafka langsung tertawa bahagia. "Akhirnya gue di atas Jova sama Galen. Jam istirahat gue ledekin tuh dua orang," ucapnya bangga.

Kanaya dan Liam tertawa mendengar celoteh Kafka.

kring ... kring ... kring...

Bel jam pertama baru saja berbunyi. Guru matematika bernama Pak Arka masuk ke kelas Kanaya dengan setumpuk buku di tangan. Suasana kelas yang tadinya ramai seketika hening.

Kanaya menopang dagu sambil menggerutu pelan. "Coba aja matematika diganti fisika aja. Gue nggak terlalu ngerti kalau matematika," ujarnya.

"Lah, matematika sama fisika kan mirip Nay," jawab Kafka tiba-tiba dari belakang.

Kanaya langsung berbalik dan memukul jidat Kafka dengan pulpen. "Beda, ya!" serunya.

"Aduh, santai dong," ucap Kafka sambil menggosok jidatnya yang baru saja dipukul Kanaya.

Kanaya lalu menoleh ke Liam yang duduk di sebelah Kafka. "Wih, Liam anteng ya kalau mata pelajaran favoritnya," guraunya.

"Kanaya, bercandanya nanti aja. Sekarang fokus ke papan tulis dulu," ucap Pak Arka tegas.
Kanaya langsung berbalik kembali ke arah papan tulis. "Eh, iya maaf pak," katanya pelan.

Bel pergantian jam berbunyi. Jam kedua mata pelajaran fisika dimulai. Dua jam berlalu dengan penjelasan panjang dari Pak Arka. Setelah menyelesaikan bab terakhir, Pak Arka menutup bukunya lalu keluar dari kelas.

Kanaya langsung bersemangat. Ia mengeluarkan buku fisika dari tasnya dan meletakkannya di atas meja dengan rapi.

Tak lama kemudian, Bu Fani masuk membawa setumpuk lembar soal. Kacamata khasnya bertengger di ujung hidung. Sebelum duduk, Bu Fani menyapu pandangan ke seluruh kelas dan berkata, "Hari ini ada ulangan harian, ya, anak-anak. Materi yang Ibu ambil dari materi minggu kemarin."

Seketika seluruh kelas terkejut dan mengeluh. Suara protes terdengar di sana-sini.

Tapi tidak dengan satu orang. Hanya Kanaya yang tersenyum penuh semangat. Matanya berbinar melihat lembar soal yang dibagikan.

Bu Fani berjalan ke depan "Baik, silakan dikerjakan, ya, anak-anak," ucap Bu Fani.

Kanaya mengerjakan dengan santai tanpa jeda untuk berpikir. Pulpennya bergerak cepat dari nomor satu sampai sepuluh.

Lima belas menit berlalu. Kanaya sudah selesai mengerjakan ulangan sepuluh nomor yang diberikan Bu Fani. Ia meletakkan pulpen dan menyandarkan punggung ke kursi dengan puas.

Disusul Liam dan Kafka sepuluh menit setelahnya. Mereka mengumpulkan lembar jawaban bersamaan.

Sekelas tak ada lagi yang heran. Mereka sudah terbiasa melihat ketiga dari lima orang terpintar di angkatan selalu jadi yang pertama selesai.

Bel istirahat tinggal lima belas menit lagi. Suasana kelas mulai gaduh karena semua orang sudah tidak sabar.

Bu Fani melirik jam dinding di sudut kelas. "Anak-anak, ulangannya dikumpulkan ya. Lusa Ibu kasih hasilnya. Sekarang buka buku PR dan catat halaman PR, ya," kata Bu Fani sambil membuka lembaran buku fisika miliknya.

Pulpen-pulpen segera bergerak mencatat. Beberapa siswa masih mengerang karena PR, tapi Kanaya hanya tersenyum kecil. Baginya PR fisika seperti tantangan.

Setelah selesai memberi PR, Bu Fani menutup bukunya dan merapikan kacamata. Tepat saat itu, bel istirahat berbunyi nyaring memecah keheningan.

Bu Fani keluar kelas bersamaan dengan suara bel. "Istirahat yang cukup, ya," pesannya sebelum pintu tertutup.

Sekelas langsung riuh. Ada yang lari ke kantin, ada yang merebahkan diri di meja, ada juga yang masih sibuk menyalin PR.

Kanaya, Liam, dan Kafka segera bergegas ke kantin. Antrian panjang tak menyurutkan langkah mereka. Setelah membeli makanan, mereka memilih meja paling pojok dekat jendela. Suara sendok beradu piring jadi musik latar.

Kanaya menyuap nasi gorengnya, lalu melirik ke arah pintu kantin. "Eh, Jova sama Galen kok belum ke sini ya?" tanyanya di sela kunyahannya.

"Kurang tau juga sih gue," jawab Kafka sambil meneguk es tehnya. Matanya masih asyik memandangi kerumunan siswa yang hilir mudik.

Tak lama, Jovanka dan Galen muncul dari kerumunan. Keduanya membawa nampan penuh makanan dan minuman. Kursi ditarik, suara gesekannya memecah obrolan.

"Tadi kita ulangan ... tapi lumayan gampang sih," ujar Jovanka sambil menurunkan nampannya dan menarik kursi. Wajahnya terlihat lega.

"Lah, kita juga tadi ulangan. Ulangan Fisika," sahut Liam. Ia menyodorkan garpunya ke arah kentang goreng Kanaya tanpa izin.

Kanaya menepis tangan Liam, lalu menoleh. "Oh, ya, Liam, Kaf ... nanti kerjain PR Fisikanya bareng nggak?" ajaknya.

"Boleh," jawab Liam dan Kafka hampir bersamaan.

Galen langsung mengernyitkan dahi. Garpunya berhenti di udara. "Wah, jadi lo bertiga nggak mau ngajak gue sama Jova?"

"Iya tuh. Habis kerjain PR pasti kalian mau main," timpal Jovanka. Ia melipat tangannya di dada.

Kanaya tertawa kecil, lalu menyenderkan punggung ke kursi. "Ya udah sih. Nanti malam ke rumah gue aja, kita rencana kerjainnya ntar malam," jawabnya santai.

"Oke, gue mau langsung ke rumah lo pulang sekolah ntar ya," kata Jovanka bersemangat.
Kanaya hanya mengangguk santai lalu menjawab. "Iya iya terserah lo aja,"

Di tengah perbincangan mereka, bel masuk berbunyi nyaring. Suaranya memantul di dinding kantin dan membuat semua siswa serentak berdiri.

Kanaya buru-buru meraih nampannya. Beberapa butir kentang goreng ia pindahkan ke tisu, lalu digulung asal. "Sisanya dimakan di kelas aja deh," gumamnya sambil menyumpal satu kentang ke mulut.

Dari arah kasir, suara Galen menggelegar menembus keributan. "Jadi kan ntar di rumah Kanaya?" teriaknya sambil melambaikan tangan, tak peduli seisi kantin menoleh.

Kanaya menghentikan langkahnya. Ia memutar badan setengah, alisnya naik. "Iya, harus nanya berapa kali sih," jawabnya ketus tapi bibirnya menahan senyum. Lalu ia berbalik cepat, menyusul Liam dan Kafka yang sudah lebih dulu kabur ke arah kelas.

_______________

DEADLINE 10Stories to obsess over. Discover now