1

11 5 0
                                        

Kilau Kosmetik dan Sepi di Dada

"Ada yang bilang waktu adalah obat terbaik.

Tapi bagaimana jika lukanya bukan dari waktu ini?"

Kairia Gandasari tahu persis berapa detik yang dibutuhkan lift gedung Luminara Cosmetics untuk bergerak dari lantai dasar ke lantai dua puluh dua. Empat puluh tiga detik. Ia menghitungnya setiap pagi, bukan karena kebiasaan aneh, melainkan karena empat puluh tiga detik adalah satu-satunya jeda hening yang ia miliki sebelum hari kerjanya benar-benar dimulai.

Sebagai Creative Director Luminara Cosmetics, Kairia memegang kendali penuh atas segala sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan, dan diingat dari sebuah brand. Estetika visual kemasan produk, identitas warna yang dipakai dalam setiap kampanye, arah konsep untuk lini baru semuanya melewati mejanya terlebih dahulu, dan tidak ada satu pun yang lolos tanpa persetujuannya. Di lantai dua puluh dua, jabatannya bukan sekadar gelar. Ia adalah arsitek imajinasi merek itu sendiri.

Pagi itu, Selasa yang berkabut tipis, Kairia berdiri di dalam lift dengan posisi tegak sempurna. Blazer krem linen yang memeluk bahunya dengan presisi mengirimkan pesan yang sama seperti setiap harinya: perempuan ini tidak mengenal kata setengah-setengah. Rambut hitamnya disanggul rendah di tengkuk, membiarkan garis lehernya yang jenjang terlihat bersih dan anggun. Di tangan kirinya, sebuah tumbler kaca berisi kopi hitam tanpa gula. Di tangan kanannya, tablet yang layarnya sudah penuh dengan agenda hari ini.

Namun matanya mata hitam pekat yang biasa memandang tajam ke depan pagi ini diam-diam melayang ke pantulan dirinya sendiri di dinding lift yang mengkilap.

Kamu lelah, batin sebuah suara kecil di dasar dadanya.

Kairia mengalihkan pandangan ke layar tabletnya. Cepat. Seperti biasa.

Lantai dua puluh dua menyambutnya dengan aroma lembut bergamot dan vanila wewangian khas yang dipasang di sistem ventilasi kantor berdasarkan rekomendasi departemen Sensory Branding. Kairia yang merekomendasikannya dua tahun lalu, dan sejak itu tidak ada yang berani mengubahnya. Bukan karena tidak boleh. Tapi karena semua orang setuju: aroma itu membuat kantor terasa seperti rumah yang elegan.

—

"Kak Kairiaaa!"

Suara itu memecah keheningan koridor bahkan sebelum Kairia sempat melangkah dua meter dari pintu lift.

Bella Saraswati muncul dari balik partisi kaca dengan langkah cepat, rambut pendeknya yang dipotong bob melambai-lambai kecil mengikuti gerakannya. Perempuan dua puluh enam tahun itu, Senior Creative Associate sekaligus orang kepercayaan Kairia di divisi, mengenakan dress bermotif bunga kecil dalam palet warna pastel tampilan yang kontras lucu dengan suasana kantor korporat di sekelilingnya, namun entah bagaimana justru terasa pas pada Bella.

"Aku sudah pesan croissant almond dari kedai bawah," kata Bella, menyejajarkan langkahnya dengan Kairia tanpa diminta. "Satu buat kamu, satu buat aku. Kita breakfast meeting sambil ngobrol, ya?"

Sudah dua tahun Bella melakukan ini, dan Kairia tidak pernah keberatan. Bella adalah satu-satunya orang di kantor ini yang tidak pernah membuatnya merasa perlu memasang topeng ekstra.

"Tidak ada yang mendesak pagi ini?" tanya Kairia, matanya masih di layar tablet.

"Ada," jawab Bella, menaikkan sebelah alisnya dramatis. "Tapi aku yakin croissant dulu lebih penting."

Sudut bibir Kairia terangkat tipis. Hampir senyum.

—

Ruang kerja Kairia adalah yang terbesar di lantai dua puluh dua, tepat di sudut timur bangunan dengan dua dinding kaca yang menghadap cakrawala kota. Pada hari cerah, sinar matahari pagi akan menerobos masuk dan melukis garis-garis cahaya di atas meja marmer putihnya. Pada hari berkabut seperti pagi ini, seluruh ruangan terasa seperti berada di dalam awan lembut, tenang, sedikit tidak nyata.

KANVAS yang belum selesaiStories to obsess over. Discover now