Prolog

9 2 1
                                        

AIGA Ventura: (Bukan) Taruna Gagal

Intro

Di kantor CV Setia Mandiri—

Rani Hendrawati berdiri agak lama.
Matanya menyapu sekeliling.
Gudang.
Rongsokan.
Besi tua.
Berbagai jenis kertas dan plastik bekas.
Tapi...
tidak terasa seperti tempat buangan.
Semua tersusun.
Terkelola.
Punya pola.

"...ini..." Rani menggeleng kecil, setengah tak percaya,
"...seriusan dari sini semua dimulai?"

Di sampingnya, Gea Anandita nyengir santai.
"...iya, Kak."
Dia menunjuk ke sudut-sudut gudang.
"...dari sini... pelan-pelan jadi sistem."

Rani melirik ke arah Anastasia Indi.

Indi tidak banyak bicara.
Seperti biasa.
Tapi kehadirannya...
cukup menjelaskan.

Gea lanjut, nada ceritanya ringan:
"...awalnya sih cuma 'Laskar Kardus'..."

Rani mengangkat alis.

"...terus berkembang jadi—"
Gea menahan tawa.
"...'Sistem Pesugihan Progresif Konsisten'."

Rani refleks menoleh.
"...apa?"

Gea ngakak.
"...itu istilahnya Mas Nala."

Dalam ingatannya, terngiang suara seseorang:
"Woi! Branding itu penting!"

__*__

Di Lokasi Berbeda

Bank Data Center AIGA Ventura, Media—

Dika Hendrawan berdiri di depan deretan monitor.
Layar penuh data.
Grafik.
Alur sistem.
Rapih.
Presisi.

"...gila..."
Nada suaranya pelan.
"...ini bukan level UMKM lagi."

Di sampingnya, Dinala Li –alias Nala– nyengir bangga.
"...ya iyalah."

Sementara itu—
Giananda Ananta hanya berdiri santai, memperhatikan tampilan layar yang sedang ditunjuk oleh salah seorang staf.

Seolah semua itu...
hal biasa.

Dika melirik.
Sekilas.
Lalu kembali ke layar yang ada di depannya.
Tapi pikirannya...
tidak di situ.

"Nyo..."

Nala menengok.
"...apa?"

Dika menunjuk ke arah Gian dengan dagunya.
"...itu orang..."
Jeda.
"...sebenarnya siapa sih?"

Nala langsung nyengir lebar.
"...wah..."
Nada suaranya berubah.
"...itu pertanyaan mahal, Bang."

Dika menyilangkan tangan.
"Serius..."
Tatapannya kembali ke Gian.
"...gue kenal banyak orang pinter..."
Jeda.
"...tapi yang kayak dia..."
Sunyi sejenak.
"...aneh."

Nala tidak langsung jawab.
Hanya menatap ke arah yang sama.
"Situ mau tahu ceritanya?"

Dika menoleh.
"gue lagi di sini buat itu."

Nala cekikikan.
"Situ kan teman kuliahnya? masa malah gak tau sih?"

"...gue dulu kenal dia."

Nala melirik.
"...lalu?"

Dika mendengus pelan.
"...bukan kenal akrab sih..."
Jeda.
"...lebih ke... tau permukaannya saja."

Nala: "Apa aja yang abang tau?"

Dika: "...Mahasiswa Unhan yang konon 'buangan' dari Akmil.
Tapi... omongan bahkan skripsinya malah soal... ekonomi kerakyatan."

Nala: "Cuman itu?"

AIGA Ventura: (Bukan) Taruna GagalBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin